KAYU OLAHAN ASAL ACEH MERAJALELA MASUK LANGKAT

Harian 9 author photo
Terlihat dalam gambar betor pengangkut kayu olahan dari Aceh di jalinsum Besitang. (Foto: Adam Malikira)

BESITANG| HARIAN9
Masyarakat Besitang dan sekitarnya merasa cukup prihatin melihat hilir mudiknya beca bermotor (betor) asal Aceh membawa kayu olahan tanpa ada pemeriksaan dari aparat hukum di wilayah Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat.

Puluhan betor setiap hari mengangkut kayu olahan seperti broti dan papan dengan volume 10 ton perhari, hal ini membuat masyarakat mulai dari daerah perbatasan Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi bertanya tanya soal bebasnya dan merajalelanya kayu olahan bebas memasuki wilayah hukum Besitang.

Beberapa warga yang dikonfirmasi Harian9, Kamis (3/5), mengatakan diduga oknum aparat yang bertugas di POS POS penjagaan di sepanjang jalan lintas Sumatera (Jalinsum) ada menerima setoran sebesar Rp.20.000/ betor, kata Arman (45) warga Besitang.

Menurutnya, diduga oknum aparat menerima setoran dari parbetor, hal ini sering terjadi karena setiap melintas POS di Jalinsum parbetor yang mengangkut kayu olahan terpaksa berhenti kemudian salah seorang kernet turun dari betor untuk menyetor uang, terkadang parbetor main lempar dengan uang pecahan Rp.10.000 dan Rp.20.000.

"Berbagai jenis kayu olahan dari kayu berkelas seperti meranti merah, meranti putih, damar laut, kayu Halban dan sebagainya," jelas Arman didampingi beberapa warga. 

Sementara warga lainya Syamsuddin warga Teluk Aru yang juga aktivis LSM dan lingkungan hidup ketika dikonfirmasi Harian9, mengatakan saya khawatir musibah banjir bandang tahun 2006 yang terjadi di Besitang dan beberapa Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang akan terulang lagi.

Lebih lanjut Syamsuddin menjelaskan akibatnya ekosistem hutan Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL) yang berada di wilayah Aceh Tamiang dan sekundur dan sei Betung di Besitang menjadi rusak parah.

"Kerusakan hutan TNGL akibat adanya aktivitas pembalakan liar (ilegal logging) secara bebas dapat diduga siklus banjir bandang bisa kembali lagi. Diduga kerusakan hutan TNGL 5 tahun yang akan datang akan terjadi banjir bandang lebih besar yang dapat merusak rumah warga ternak, tanaman palawija, persawahan dan lainnya bahkan nyawa," ungkap Syamsudin.

Di tempat terpisah Parbetor pengangkut kayu olahan dari Aceh ketika dikonfirmasi yang mohon namanya jangan dipublikasikan mengatakan kayu olahan ini diangkut dengan betor dari hulu Aceh Tamiang untuk di bawa ke Besitang, P. Susu, P. Berandan, T. Pura kadang kadang ke Stabat sesuai pesanan dari warga atau panglong. 

"Setiap melintasi POS penjagaan di sepanjang jalan lintas Sumatera kami menyetor uang sebesar Rp.20.000 agar perjalanan aman tanpa ada memeriksa dokumen atau surat surat lainnya," papar parbetor. (Adam9)
Editor: Mardan H Siregar 



Komentar Anda

Berita Terkini