Pertemuan ke-17 TIFA Indonesia-Amerika Serikat Sepakati Rencana Kerja Hak Atas Kekayaan Intelektual

Harian 9 author photo


JAKARTA| HARIAN9
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menyepakati rencana kerja hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Kesepakatan penting ini dicapai pada pertemuan bilateral Indonesia–USA Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) ke-17 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (14/5).

Dalam pertemuan TIFA tersebut, Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo dan Delegasi AS dipimpin Acting Assistant USTR for South East Asia and Pacific, Karl Ehlers. 

Sedangkan khusus untuk sesi pembahasan HAKI di pertemuan TIFA ke-17 ini, Delegasi Indonesia dikoordinasi oleh Ditjen HAKI Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Delegasi AS dikoordinasi oleh United States Trade Representative (USTR).

“Rencana kerja HAKI berisi antara lain pembahasan best practices aturan HAKI sesuai dengan komitmen kedua negara di tingkat global, serta program kerja sama kedua negara dalam mendorong penghormatan dan perlindungan HAKI,” ungkap Iman.

Disampaikannya, rencana kerja HAKI dapat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan kesadaran HAKI yang tinggi dan mendorong industri nasional. Industri nasional yang tengah berkembang saat ini seperti industri kreatif, dan pemanfaatan indikasi geografis komoditas ekspor, hak paten, maupun beragam inovasi anak bangsa lainnya perlu mendapat perlindungan dan penghargaan yang layak.

Sementara itu terkait hubungan bilateral Indonesia-AS, sebagai target jangka pendek Pemerintah Indonesia berharap rencana kerja HAKI ini dapat mendorong dikeluarkannya Indonesia dari Priority Watch List (PWL) AS. 

PWL adalah daftar penilaian yang dibuat pemerintah AS terhadap mitra dagang mereka. Rencana kerja HAKI ini berhasil setelah dibahas sejak 2012. 

“Rencana kerja ini merupakan simbol penting momentum kerja sama ekonomi Indonesia dan AS,” jelas Iman.

Sementara itu, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan sekaligus Wakil Ketua Delegasi Indonesia Made Marthini menyampaikan bahwa Pemerintah berkomitmen untuk terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem HAKI.

“Perlindungan dan penghormatan HAKI di Indonesia sudah semakin baik dan aturan perundangan pun semakin dimodernisasi. Sistem perlindungan HAKI yang kuat diperlukan seiring dengan perkembangan ekonomi dan industri kreatif di Indonesia. Dengan tantangan yang ada, pemerintah senantiasa memperbaiki kebijakannya dan melakukan berbagai kerja sama internasional,” imbuh Made.


Pertemuan TIFA ke-17

Pertemuan TIFA adalah salah satu upaya meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia dengan AS. Selain HAKI, beberapa isu penting yang dibahas kali ini antara lain Sistem Preferensi Umum (Generalized System of Preferences /GSP), akses pasar di bidang pertanian,
perikanan, isu digital, dan jasa keuangan.

Selain itu, dalam TIFA kali ini kedua negara juga sepakat berbagi informasi terkait perkembangan terkini niaga elektronik (e-commerce) di AS dan kebijakan pemerintah AS dalam mengembangkan niaga elektronik.

“Sesi khusus best practice niaga elektronik tersebut sangat berguna sebagai masukan dalam membuat kebijakan yang seimbang untuk mendorong bertumbuhnya bisnis dan mengurangi risiko yang muncul dari perkembangan pesat niaga elektronik,” kata Iman.

TIFA merupakan forum komunikasi bilateral AS dengan Indonesia dalam membahas isu perdagangan dan investasi, serta berbagai potensi kerja sama. Pertemuan TIFA diadakan tiap tahun. Level pertemuan adalah tingkat Menteri Perdagangan atau pejabat senior (Senior Officials/SO).

Dalam pertemuan kali ini, juga diadakan business luncheon bekerja sama dengan KADIN Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Kamar Dagang AS (Amcham). 

Pertemuan mengangkat peluang investasi dan perdagangan Indonesia di AS, khususnya untuk penguatan akses pasar Indonesia di AS di sektor produk pakaian, buah-buahan, dan investasi restoran.  Hal lain yang dibahas dalam pertemuan ini yaitu produksi bersama di sektor film antara kedua negara.

Hubungan Dagang dan Investasi Indonesia-AS

Total perdagangan barang Indonesia-AS selama periode 2013-2017 menunjukkan tren peningkatan sebesar 0,39 persen. Pada 2017, total perdagangan Indonesia-AS mencapai USD.25,90 miliar, naik 10,53 persen dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai USD 23,43 miliar.

Ekspor Indonesia ke AS pada 2017 tercatat sebesar USD.17,78 miliar dan impor dari AS mencapai USD.8,12 miliar. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap AS mencapai USD.9,66 miliar pada 2017. 

Sementara itu pada periode Februari 2018, neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus USD.1,41 miliar.

AS merupakan tujuan ekspor utama Indonesia ke-2 setelah China. Dari sisi investasi, nilai investasi AS di Indonesia mencapai USD.1,9 miliar, menempati peringkat ke-3 setelah Jepang dan Singapura. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar Anda

Berita Terkini