POTRET KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA KAWASAN HUTAN

Harian 9 author photo
Ilustrasi

Oleh:
RITA HERAWATY Br BANGUN
Fungsional Statistisi BPS Provinsi Sumatera Utara

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang-undang Republik Indonesia No.41/Kpt-II/1999 tentang Kehutanan). Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia baik secara ekonomi, sosial, maupun ekologi. 

Namun realitas kegiatan pengelolaan hutan yang lebih berorientasi pada pemanfaatan ekonomi telah memarginalkan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Kebijakan pembangunan kehutanan yang dilaksanakan pada beberapa tahun terakhir cenderung berpihak pada pengusaha dan elit lokal. 

Sementara kepentingan dan hak masyarakat di dalam dan sekitar hutan belum proporsional termasuk aksesnya terhadap manfaat hutan sehingga berakibat pada kerusakan hutan dan lingkungan yang mempunyai dampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

Menurut Sardjono (1998) dalam makalahnya yang berjudul Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Hutan di Kalimantan Timur, masyarakat sekitar hutan adalah sekelompok orang yang secara turun temurun bertempat tinggal di dalam atau di sekitar hutan dan kehidupan serta penghidupannya (mutlak) bergantung pada hasil hutan dan/atau lahan hutan. 

Sekelompok orang tersebut dalam konteks yang lebih spesifik disebut sebagai masyarakat tradisional dan dari sisi kepentingan yang lebih luas lebih sering diistilahkan sebagai masyarakat lokal. Masyarakat tradisional ini melihat hutan tidak hanya sebagai sumber daya potensial saja melainkan memang merupakan sumber pangan, obat-obatan, energi, sandang, lingkungan dan sekaligus tempat tinggal mereka.

Namun seiring dengan perkembangan peradaban, masyarakat tradisional sebagian tidak lagi menggantungkan sumber pangan, pakaian, dan obat-obatan dari hutan secara langsung. Akan tetapi mereka telah menjadikan hutan sebagai sumber kegiatan ekonomi. 

Produk-produk hasil hutan yang mereka peroleh tidak lagi berorientasi kepada kebutuhan konsumsi mereka, melainkan juga diperdagangkan sebagai sumber mata pencaharian mereka. 

Seperti yang dinyatakan oleh Primack (1993) bahwa masyarakat sekitar hutan memanfaatkan sumber daya hayati yang ada dari dalam hutan untuk kegiatan produktif yaitu diperjualbelikan di pasar dan konsumtif yaitu yang dikonsumsi sendiri atau tidak dijual. Selama ini kegiatan-kegiatan kehutanan di negara-negara berkembang biasanya lebih banyak menekankan pada aspek menjaga dan mengamankan hutan. 

Hal ini sesuai dengan tujuan utama pengelolaan hutan yaitu meningkatkan fungsi-fungsi hutan dan pengamanan produksi serta menjaga kelestariannya.

Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Kawasan Hutan

Tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat dilihat dari pendekatan pendidikan dan ketenagakerjaan. Hubungan antara tingkat kesejahteraan dan pendidikan sangat penting. Orang yang berpendidikan rendah akan lebih berpeluang besar menjadi tidak sejahtera. 

Hasil Survei Kehutanan 2014 (SKH2014) ST2013 menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga yang tinggal di sekitar kawasan hutan pada tahun 2014 sebanyak 258.167 rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga yang tinggal di sekitar kawasan hutansebanyak 1.036.016 orang, yang terdiri dari 528.055  laki-laki (50,97 persen) dan 507.961 perempuan (49,03 persen). 

Jumlah rumah tangga yang tinggal di kawasan hutan naik sebesar 36,25 persen dibandingkan tahun 2004.  Jumlah rumah tangga yang tinggal di kawasan hutan pada tahun 2004 sebanyak 189.476 rumah tangga dengan jumlah penduduk sebanyak 842.207 jiwa.

Tingkat kesejahteraan penduduk dari segi pendidikan bisa dilihat dari kemampuan baca tulis dan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Hasil Survei Kawasan Hutan (SKH) Tahun 2014 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan anggota rumah tangga masih relative rendah. 

Dari 946.378 anggota rumah tangga yang berumur 5 tahun ke atas yang tinggal di sekitar kawasan hutan, sekitar 20,67 persen yang menamatkan pendidikan sampai tingkat SLTA ke atas, sebanyak 20,04 persen tamat SLTP, sebesar 29,35 persen tamat SD dan 29,94 persen tidak tamat SD.

Kemampuan baca tulis tercermin dari data angka melek huruf. Dari  824.038 anggota rumah tangga yang tinggal di sekitar kawasan hutan yang berumur 10 tahun keatas, sebanyak 95,95 persen dapat membaca/menulis huruf Latin dan 4,05 persen tidak dapat membaca/menulis huruf Latin.

Ketenagakerjaan merupakan salah satu aspek penting tidak hanya untuk mencapai kepuasan individu tetapi juga untuk memenuhi perekonomian rumah tangga dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) menggambarkan penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari. TPAK penduduk yang tinggal di kawasan hutan padatahun 2014 mencapai 63,52persen. 

Lapangan pekerjaan utama anggota rumah tangga adalah di subsektor pertanian selain kehutanan sebesar 75,86 persen, sektor di luar pertanian sebesar 22,17 persen dan subsektor kehutananan hanya sebesar  1,96 persen. 

Rendahnya persentase penduduk yang lapangan pekerjaan utamanya di subsektor kehutanan menunjukkan bahwa sumber daya hutan belum secara maksimal dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan hutan.

Berdasarkan dari dua indikator di atas dapat disimpulkan bahwa rumah tangga yang tinggal di kawasan hutan masih perlu diberikan “sentuhan” khususnya di bidang pendidikan karena pendidikan sangat erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan. Semakin rendah tingkat pendidikan maka akan semakin rentan terhadap kemiskinan.

Pemberdayaan rumah tangga yang tinggal di kawasan hutan perlu terus ditingkatkan agar kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dapat meningkat dan jauh dari kata kemisikinan. 

Pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pengembangan desa konservasi, memberikan pelatihan bagi masyarakat dalam pengembangan usaha ekonomi kreatif, pemberian bantuan benih dan bibit pohon untuk pengembangan budidaya kehutanan dan sebagainya.

Keberhasilan pemberdayaan rumah tangga kawasan hutan tak akan berhasil tanpa peran pemerintah di dalamnya.  Pemerintah dan rumah tangga kawasan hutan harus bekerja sama dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat kawasan hutan dapat tercapai.
Editor: Mardan H Siregar


Komentar Anda

Berita Terkini