Volatilitas Keuangan Global Relatif Tinggi, Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Harian 9 author photo
Menkeu, Sri Mulyani Indrawati memberikan penjelasan dalam acara Konferensi Pers APBN KiTa (Kinerja dan Fakta) edisi Mei di Aula Djuanda Kementerian Keuangan (17/05). (Foto: kemenkeu)


JAKARTA| HARIAN9
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan bahwa saat ini volatilitas di sektor keuangan global masih relatif tinggi. Meskipun demikian, dalam gejolak ekonomi yang terjadi itu perekonomian Indonesia masih memiliki fundamental yang kuat. 

Hal ini disampaikannya pada saat Konferensi Pers APBN KiTa (Kinerja dan Fakta) edisi Mei di Aula Djuanda Kementerian Keuangan pada Kamis (17/05).

Diungkapkannya, perubahan kebijakan di Amerika Serikat (AS) baik di sektor keuangan maupun di bidang perdagangan menjadi penyebab utama gejolak tersebut. 

“Kebijakan moneter dari Federal Reserve yang meningkatkan suku bunga yang dianggap sebagai suatu level normal yang baru, maupun kebijakan di bidang perdagangan di Amerika Serikat dan Tiongkok menimbulkan sentimen eskalasi dari ketegangan hubungan dagang antara Amerika dengan Tiongkok maupun dengan berbagai negara lain,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu menimbulkan dampak terhadap berbagai indikator di tingkat global. Dampak pertama, yaitu harga komoditas yang menunjukkan suatu kenaikkan karena risiko geo-politik termasuk perjanjian nuklir AS dengan Iran, maupun kenaikan demand sementara dari sisi supply-nya tertahan. Kedua, terdapat arus modal yang keluar dari banyak negara-negara berkembang dan emerging, yang dipicu oleh suku bunga US Treasury Bond 10 Tahun yang mencapai angka 3 persen. 

Selain itu, dampak lain yang terjadi adalah depresiasi mata uang negara-negara di dunia terhadap dollar Amerika. Menkeu mencontohkan mata uang Eropa yang mengalami depresiasi 1 persen, Rusia 9 persen, Brazil 9 persen, dan Filipina 4 persen.

"Rupiah kita dalam hal ini juga mengalami depresiasi meskipun dalam tingkat yang lebih rendah yaitu sampai dengan 9 Mei 3,88 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2017. Kalau dibandingkan pada tahun 2017 rupiah terdepresiasi sekitar 2 persen dari Rp.13,384 ke Rp.13,655 per dollar AS," jelasnya. 

Meskipun demikian, menurutnya, dalam gejolak tersebut perekonomian Indonesia masih memiliki fundamental yang kuat. Perekonomian Indonesia pada triwulan I tumbuh 5,06 persen, lebih tinggi dibanding kinerja pada triwulan I 2017 sebesar 5,01 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh oleh 3 komponen yang mengalami penguatan yaitu konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan investasi. 

“Konsumsi rumah tangga tumbuh dari 5,00 menjadi 5,01, konsumsi pemerintah dari 2,69 pada kuartal I tahun lalu tahun ini tumbuh menjadi 2,73, serta Investasi yang kuartal I tahun lalu tumbuh 4,77 tahun ini menjadi 7,95,” jelasnya. (kemenkeu/03)
Editor: Mardan H Siregar




Komentar Anda

Berita Terkini