Mendag Enggar Temui United States Trade Representative Bahas Upaya Peningkatan Perdagangan Kedua Negara

Harian 9 author photo
(Foto: kemendag)


WASHINGTON DC| HARIAN9
Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan dengan United States Trade Representative, Duta Besar Robert E. Lighthizer di kantornya di Washington DC, membahas upaya peningkatan perdagangan dan pengurangan hambatan perdagangan kedua negara. 

Pertemuan tersebut menjadi agenda puncak dalam kunjungan kerja Mendag Enggar ke Amerika Serikat (AS) pada 23–27 Juli 2018.

“Dubes Lighthizer sangat menghargai dan menyambut baik pendekatan Pemerintah Indonesia untuk bekerja sama meningkatkan hubungan bilateral kedua negara sebagai mitra strategis. Kerja sama Indonesia–AS diharap dapat meningkatkan nilai perdagangan kedua negara yang menurut kami masih sangat rendah dibanding potensi yang ada,” kata Mendag Enggar.

Kunjungan Mendag Enggar ke AS kali ini berupaya meningkatkan perdagangan Indonesia–AS secara timbal balik yang memberikan manfaat kepada keduanya. 

Mendag Enggar menyampaikan bahwa Indonesia akan meningkatkan ekspor produk-produk Indonesia yang potensial di pasar AS. 

Di sisi lain, Indonesia siap membeli bahan baku dan barang modal produksi AS yang tidak diproduksi di Indonesia untuk mendukung industri Tanah Air, sehingga produksi dan ekspor Indonesia akan meningkat.

Pemerintah Indonesia menunjukkan kesungguhan untuk meningkatkan kerja sama strategis pada kunjungan kali ini kepada Pemerintah AS dengan membawa pelaku usaha dan melakukan transaksi jual beli produk. 

Hal itu untuk mendukung proses produksi dan nilai tambah produk Indonesia, baik untuk domestik maupun ekspor.

“Di dalam ketidakpastian ekonomi dunia saat ini, justru Indonesia proaktif memanfaatkan setiap peluang yang ada. Misalnya, dengan mengadakan perundingan perdagangan maupun kerja sama bilateral yang lebih erat antara bisnis dan pemerintah seperti yang kita adakan di Washington DC ini,” tegas Mendag.

Mendag Enggar menjelaskan kepada Dubes Lighthizer isu-isu terkait hambatan perdagangan yang menjadi perhatian Indonesia. 

Isu-isu tersebut antara lain proses peninjauan ulang terhadap Indonesia sebagai negara penerima skema generalized system of preferences (GSP) dan pengecualian bagi Indonesia atas pengenaan kenaikan tarif impor produk besi baja dan aluminium AS. 


“Permintaan mempertahankan GSP untuk Indonesia tersebut tidak hanya untuk kepentingan industri di Indonesia, tetapi juga juga untuk kepentingan industri di AS karena terkait proses produksi domestik mereka, jadi sebetulnya ini kerja sama win-win (saling menguntungkan),” ungkap Enggar.

Indonesia masih memerlukan GSP untuk meningkatkan daya saing produk di pasar AS. 

Produkproduk Indonesia yang selama ini menggunakan skema GSP AS antara lain karet, ban mobil, perlengkapan perkabelan kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, aluminium, sarung tangan, alat musik, pengeras suara, keyboard, dan baterai.

Di tahun 2017, produk Indonesia yang menggunakan skema GSP bernilai USD.1,9 miliar. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara penerima GSP lainnya seperti India sebesar USD.5,6 miliar; Thailand.USD 4,2 miliar; dan Brasil USD.2,5 miliar.

“Proses peninjauan ulang saat ini tengah berlangsung, oleh karena itu kunjungan kali ini sangat tepat waktunya dan strategis dalam menegaskan kembali arti penting perdagangan kedua negara,” kata Enggar.

Dalam kunjungan kerja ke AS tersebut, Mendag Enggar juga menggalang dukungan berbagai kalangan bagi keterbukaan akses pasar Indonesia. Mendag antara lain menemui asosiasi importir AS, asosiasi tekstil AS, hingga anggota kongres AS.

Sekilas mengenai perdagangan RI-AS

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan total perdagangan Indonesia dan AS tahun 2017 sebesar USD.25,91 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD.17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD.8,12 miliar.

Dengan demikian, Indonesia surplus terhadap AS sebesar USD.9,67 miliar. Ekspor utama Indonesia ke AS antara lain udang, karet alam, alas kaki, ban kendaraan, dan garmen.

Sementara impor utama Indonesia dari AS antara lain kedelai, kapas, tepung gandum, tepung maizena, serta pakan ternak.

Total perdagangan Indonesia-AS tahun 2017 meningkat 10 persen dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar USD.23,44 miliar. Adapun tren perdagangan pada periode tahun 2013-2017 tumbuh positif sebesar 0,39  persen.

Sementara itu, nilai perdagangan kedua negara untuk periode Januari-Mei 2018 telah mencapai USD.11,85 USD. Nilai ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar USD.10,65 miliar. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 


Komentar Anda

Berita Terkini