Pimpinan Umum, Pimpinan Redaksi Beserta Seluruh Jajaran wartawan dan staf HARIAN9, Mengucapkan Selamat Sukses Atas Terbentuknya PD BARUPAS KOTA MEDAN Pimpinan Umum, Pimpinan Redaksi Beserta Seluruh Jajaran wartawan dan staf HARIAN9, Mengucapkan Selamat Kepada Saudara Ir. KHAIRI AMRI Atas Terpilih Menjadi KETUA PW BARUPAS SUMATERA UTARA PERIODE 2018 - 2023

Suhu Kota Medan 35 Celsius Cuaca Pancaroba Menjadi Virus dan Bakteri Berkembang

Harian 9 author photo


MEDAN| HARIAN9
Suhu panas Kota Medan dan sekitarnya selama empat hari ke depan diprediksi mencapai 35 derajat celsius.

Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Syahnan mengatakan suhu panas tersebut tercatat pada hari Senin 16 Juli 2018. Kemungkinan suhu ini akan berlangsung sampai empat hari ke depan.

"Ini disebabkan angin bersifat divergen, sehingga awan-awan menyebar, berlangsung hingga dua hingga empat hari ke depan. Labilitas udara stabil, kelembaban udara kering sehingga tidak adanya pertubuhan awan," kata Syahnan kepada wartawan di Medan, Rabu(18/7/2018).

Namun, sejumlah daerah di Sumut masih berpeluang terjadi hujan di daerah pegunungan, pantai barat termasuk Sibolga dan Barus. "Curah hujan yang berpeluang di wilayah pegunungan seperti Tanah Karo, Dairi, di kawasan Tapanuli Tengah," jelas Syahnan.

Menurutnya, Sumut termasuk Kota Medan sedang dilanda panas tergolong tinggi pada siang hari dan bertahan beberapa jam, namun peluang hujan intensitas sedang terutama pada tengah malam masih bakal terjadi.

Hingga saat ini, menurutnya, di kawasan Sumatera Utara sedang terjadi pancaroba antara panas dan hujan. Seharusnya di Juli 2018 ini, kawasan Sumut berada pada posisi kemarau. Seperti di daerah Pantai Timur baik Asahan, Labura dan Langkat terpantau mengalami kekeringan.

Sementara, kelembapan udara pada Senin mencapai 67 hingga 97 persen, dan kecepatan angin 10 knot atau 22 km per jam. 

"Beberapa hari ke depan, kawasan Medan dan sejumlah kabupaten/kota di Sumut tidak terjadi angin kencang,"ujarnya

Sementara ditempat terpisah, Kepala Puskesmas Pancurbatu dr Hj Tetty Rossanti Keliat mengatakan cuaca pancaroba dapat membuat virus dan bakteri penyebab penyakit berkembang lebih pesat. Jika di saat bersamaan daya tahan tubuh sedang menurun sangat mungkin untuk terkena beberapa penyakit antara lain flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi saat cuaca pancaroba.

Keluhan yang juga dikenal sebagai common cold ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, yang tersering adalah Rhinovirus. Saat kondisi cuaca pancaroba, angin yang berhembus kencang dengan mudah menyebarkan virus ke semua orang yang daya tahan tubuhnya sedang menurun.

Terik matahari dan angin yang bertiup kencang membuat debu beterbangan ke sana ke mari. Jika sering berada di luar rumah dan tidak menggunakan masker, sangat mungkin mengalami batuk. 

"Batuk merupakan mekanisme pertahan tubuh, ketika saluran pernapasan berusaha untuk mengeluarkan benda asing atau lendir yang terperangkap di saluran napas," kata Tetty.

Demam berdarah merupakan penyakit yang lumrah terjadi di saat cuaca pancaroba. Ini karena penyebar virus demam berdarah, Nyamuk Aedes Aegypti, lebih mudah berkembang saat pergantian musim seperti sekarang. Selain itu, salah satu penyakit langganan saat cuaca pancaroba adalah diare.

Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus, air yang tidak bersih, dan rendahnya daya tahan tubuh. 

"Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan tinja lembek atau cair, yang dikeluarkan dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. Kondisi ini juga dapat disertai dengan gejala nyeri perut, mual, atau bahkan muntah. Pada kasus yang parah, penderita dapat mengalami demam dan feses berdarah," imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan Tetty, demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhosa. Bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh akibat sanitasi yang buruk, terutama di saat cuaca tak menentu. 

"Demam tifoid memiliki gejala demam, diare, serta mual dan muntah. Penyakit ini dapat mengancam nyawa penderita jika tidak segera diatasi," ungkapnya.

Namun, sejumlah daerah di Sumut masih berpeluang terjadi hujan di daerah pegunungan, pantai barat termasuk Sibolga dan Barus. "Curah hujan yang berpeluang di wilayah pegunungan seperti Tanah Karo, Dairi, di kawasan Tapanuli Tengah," sebut Syahnan.

Menurutnya, Sumut termasuk Kota Medan sedang dilanda panas tergolong tinggi pada siang hari dan bertahan beberapa jam, namun peluang hujan intensitas sedang terutama pada tengah malam masih bakal terjadi.

Hingga saat ini, menurutnya, di kawasan Sumatera Utara sedang terjadi pancaroba antara panas dan hujan. Seharusnya di Juli 2018 ini, kawasan Sumut berada pada posisi kemarau. Seperti di daerah Pantai Timur baik Asahan, Labura dan Langkat terpantau mengalami kekeringan.

Sementara, kelembapan udara pada Senin mencapai 67 hingga 97 persen, dan kecepatan angin 10 knot atau 22 km per jam. 

"Beberapa hari ke depan, kawasan Medan dan sejumlah kabupaten/kota di Sumut tidak terjadi angin kencang," tutur Syahnan mengakhiri.

Terpisah, Kepala Puskesmas Pancurbatu dr Hj Tetty Rossanti Keliat mengatakan cuaca pancaroba dapat membuat virus dan bakteri penyebab penyakit berkembang lebih pesat. 

Jika di saat bersamaan daya tahan tubuh sedang menurun sangat mungkin untuk terkena beberapa penyakit antara lain flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi saat cuaca pancaroba.

Keluhan yang juga dikenal sebagai common cold ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, yang tersering adalah Rhinovirus. Saat kondisi cuaca pancaroba, angin yang berhembus kencang dengan mudah menyebarkan virus ke semua orang yang daya tahan tubuhnya sedang menurun.

Terik matahari dan angin yang bertiup kencang membuat debu beterbangan ke sana ke mari. Jika sering berada di luar rumah dan tidak menggunakan masker, sangat mungkin mengalami batuk. 

"Batuk merupakan mekanisme pertahan tubuh, ketika saluran pernapasan berusaha untuk mengeluarkan benda asing atau lendir yang terperangkap di saluran napas," kata Tetty.

Demam berdarah merupakan penyakit yang lumrah terjadi di saat cuaca pancaroba. Ini karena penyebar virus demam berdarah, Nyamuk Aedes Aegypti, lebih mudah berkembang saat pergantian musim seperti sekarang. 

Selain itu, salah satu penyakit langganan saat cuaca pancaroba adalah diare. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus, air yang tidak bersih, dan rendahnya daya tahan tubuh. 

"Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan tinja lembek atau cair, yang dikeluarkan dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. Kondisi ini juga dapat disertai dengan gejala nyeri perut, mual, atau bahkan muntah. Pada kasus yang parah, penderita dapat mengalami demam dan feses berdarah," sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan Tetty, demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhosa. Bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh akibat sanitasi yang buruk, terutama di saat cuaca tak menentu. 

"Demam tifoid memiliki gejala demam, diare, serta mual dan muntah. Penyakit ini dapat mengancam nyawa penderita jika tidak segera diatasi," pungkasnya. (Jae9)
Editor: Mardan H Siregar

Komentar Anda

Berita Terkini