USU Dukung Percepatan Pembangunan PLTA Batangtoru

Harian 9 author photo
Bupati Tapsel Syahrul M.Pasaribu dan Rektor USU Prof. Dr. Runtung SH MH M.Hum menandatangani dokumen MoU antara USU dengan PT. NSHE dan Pemkab Tapsel di Biro Rektor USU Jalan Dr. T.Mansur Kampus USU Medan, Senin (10/9). (Foto : Ist)



TAPSEL| HARIAN9
Universitas Sumatera Utara (USU) mendukung percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang dikelola PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang lokasinya 100 persen berada di Areal Penggunaan Lain (APL) di wilayah batangtoru dan Marancar Kabupaten Tapsel.

Hal itu diungkapkan Rektor USU Prof. Dr. Runtung SH MH M.Hum, usai melakukan penandatanganan MoU antara USU dengan PT. NSHE dan Pemkab Tapsel, di Biro Rektor USU Jalan Dr. T. Mansur Kampus USU Medan, Senin (10/9).

Penandataganan MoU tersebut dihadiri Ketua Majelis Wali Amanat USU Panusunan Pasaribu MM,  Ketua Komisi VII DPR RI H. Gus Irawan Pasaribu SE Ak MM, Direktur Dharma Hydro Nusantata-Holding  PT. NSHE Anton Sugiono, Direktur PT. NSHE Sarimuddin Siregar, Sekretaris Bappeda Sumut Munir Tanjung, Pendiri Masyarakat Ekowisata Indonesia Sumut yang juga Mantan Presidium WALHI Sumatera 1983-1989 Ir. H Soekirman,  Kepala BLH Sumut Dr.  Binsar Situmorang, Plt. Kepala Dinas PMPPTSP Tapsel Sofyan Adil dan Kepala Bappeda Tapsel Abadi Siregar.

Lebih lanjut Rektor menyampaikan, USU sangat meyambut baik MoU antara USU, PT. NSHE dan Pemkab Tapsel, karena ini membuktikan bahwa PT. NSHE  melibatkan Perguruan Tinggi untuk mensukseskan pembangunan PLTA sebagai bagian dari energy baru terbarukan (energy yang ramah lingkungan).

“Sebagaimana dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang antara lain tentang penelitian dan pengabdian masyarakat, maka MoU ini lebih rinci dan detail nantinya akan ditindak lanjuti oleh para pihak dengan fakultas terkait, sehingga hydro power  yang ramah lingkungan ini segera dapat terwujud dan sekaligus diharapkan dapat menjadi penyangga energy listrik di Sumut serta diharapkan turut meningkatkan taraf hidup masyarakat,“ ujar Rektor.

Rektor juga mengharapkan, dengan PLTA ini kekayaan keanekaragaman hayati seperti orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) dan ekosistem Batangtoru semakin terjaga dengan baik.

“Karenanya saya minta bagi para Dekan yang hadir untuk menindaklanjuti MoU ini dengan PT. NSHE maupun pihak lainnya, sehingga pembangunan PLTA tersebut dapat berjalan sesuai rencana demi kemakmuran rakyat Sumut umumnya dan Tapsel khususnya,“ tutur Rektor.

Sementara Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu mengatakan, tujuan dilaksanakannya MoU tersebut agar terbangun sebuah sinergitas percepatan pembangunan infrastruktur kelistrikan dengan didukung kelestarian lingkungan demi pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut Syahrul, PLTA Batangtoru yang dibangun oleh PT. NSHE yang lokasinya 100 persen berada di kawasan APL dan merupakan bahagian dari proyek strategis nasional berkapasitas 510 MW yang nantinya bisa menjawab kebutuhan listrik di Sumut, utamanya saat beban puncak.

“APL lainnya yang tutupannya masih sangat baik antara lain adalah kawasan objek wisata air terjun Silima-lima yang  berada di Kecamatan Marancar atau disekitaran lokasi PLTA dan hal ini  juga sebelumnya sudah diekspos ke media dan Conservation Internasional Indonesia (CII) pada saat kunjungan lapangan ke ekosistem Batangtoru beberapa waktu lalu,” terang Syahrul.

Ia menambahkan, dilibatkannya USU dalam MoU tersebut karena USU merupakan Universitas terkemuka di Sumut yang memiliki banyak pakar, peneliti dan pemerhati lingkungan. 

Untuk itu Syahrul  meminta kepada semua pemerhati lingkungan agar mau meluangkan waktunya datang dan melihat secara langsung pengaruh pembangunan PLTA ini hubungannya dengan ekosistem.

“Kepada pihak PT. NSHE, saya minta dalam membuka Access Road dan fasilitas lainnya dilokasi proyek supaya seminimal mungkin menebang pohon, walaupun kewajiban PSDH/DR sudah dipenuhi kepada pemerintah yang semua itu dimaksudkan untuk tetap terjaganya kenyamanan lingkungan,“ paparnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komisi VII DPR RI H. Gus Irawan Pasaribu SE Ak MM yang berkomitmen akan mengawal terus percepatan pembangunan PLTA Batangtoru agar lingkungan tetap terjaga.

“Sebab di Marancar sendiri yang merupakan tanah leluhurnya ada sebuah kearifan lokal (Local Wisdom), yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik yaitu Haunatas, Tanjung Rompa, Bonan Dolok Dan Siranap (hatabosi), dimana kearifan lokal tersebut mengandung makna air adalah sumber kehidupan dan air berasal dari hutan. Untuk itu warga sampai sekarang masih terus menjaga untuk tidak menebang pohon walaupun di lingkungan APL,“ ujar Gus Irawan

Sementara  mewakili PT. NSHE Agus, dalam paparannya menjelaskan, PLTA Batangtoru hanya membutuhkan luas genangan 90 Ha saja dan dibendung diantara dua tebing yang sempit dan curam yang tingginya dari dasar sungai sekitar 200-300 m.

“Tidak seperti bendungan lainnya di Indonesia seperti Jatiluhur yang membutuhkan luas genangan sampai 8000 Ha untuk menghasilkan daya 150 MW, namun untuk PLTA Batangtoru hanya membutuhkan luas genangan 90 Ha saja,“ paparnya. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar 










Komentar Anda

Berita Terkini