Kemendag Gelar Forum Teknis di Tangerang

Harian 9 author photo

JAKARTA| H9
Kementerian Perdagangan terus berupaya meningkatkan ekspor produk farmasi dan alat kesehatan. Untuk itu, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag menggelar forum teknis dengan tema ‘Pengembangan Ekspor Produk Farmasi dan Alat Kesehatan’ di Tangerang, Banten, pada Selasa (9/10) lalu. 

Forum ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap perkembangan industri farmasi dan alat kesehatan di Indonesia.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perwakilan dari Kementerian Kesehatan, perwakilan dari Kementerian Perindustrian, perwakilan Kementerian Keuangan, serta beberapa perusahaan industri farmasi dan alat kesehatan.

“Pemerintah bekerja sama dengan pelaku usaha akan terus bersinergi meningkatkan ekspor produk farmasi dan alat kesehatan. Salah satunya dikarenakan peluang pasar produk farmasi dan alat kesehatan masih sangat besar. Selain itu, permintaan produk segmen ini terus meningkat dari masa ke masa,” ungkap Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Ditjen PEN Marolop Nainggolan.

Dijelaskannya, guna mendukung pengembangan ekspor produk farmasi dan alat kesehatan, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016. 

Salah satu yang menjadi sorotan adalah upaya pengembangan produksi bahan baku obat, obat, dan alat kesehatan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

“Produk farmasi dan alat kesehatan Indonesia layak diperhitungkan dan bersaing dengan produk dari negara lain. Untuk itu, Inpres No.6 Tahun 2016 harus segera ditindaklanjuti bersama kementerian/lembaga terkait. Diharapkan melalui Inpres tersebut dapat terwujud peningkatan ekspor produk segmen ini,” ujarnya.

Disampaikannya, ada beberapa tantangan dan kendala yang mengemuka dalam kegiatan ekspor produk farmasi dan alat kesehatan ini, antara lain semakin sulit dan ketatnya persyaratan untuk registrasi produk farmasi di negara tujuan ekspor. 

Hal ini disebabkan setiap negara tujuan ekspor berupaya melakukan proteksi, salah satunya dalam bentuk proses perizinan yang memakan waktu lama, bahkan hingga lima tahun. Tantangan selanjutnya yaitu persaingan harga dengan produsen produk sejenis dari negara lain. 

Pesaing utama untuk produk segmen ini, khususnya datang dari China dan India yang dapat memproduksi obat dengan harga yang sangat murah. Selanjutnya terkait bahan baku farmasi produksi Indonesia yang umumnya masih impor dengan komponen mencapai 80—90 persen. 

Hal ini disebabkan kurangnya pasokan bahan baku dari dalam negeri. Kendala lainnya adalah belum terciptanya harmonisasi regulasi antara kementerian/lembaga terkait dengan berbagai negara tujuan ekspor. Masalah teknis, lanjut Marolop, sering kali terjadi pada proses pengiriman. 

Hal ini karena ekspor produk farmasi seperti vaksin harus dikirim segera dan dalam waktu 24 jam harus tiba di lokasi, sehingga menggunakan mekanisme pengiriman khusus (cold chain) dan kontainer khusus. Hal ini menyebabkan beban pengiriman menjadi mahal terutama ke negara-negara di kawasan yang cukup jauh, seperti ke benua Amerika.

“Belum lagi apabila suatu negara mensyaratkan produk yang masuk harus menggunakan kemasan khusus atau sumber daya setempat. Selain itu, terkadang timbul permasalahan pembayaran apabila negara pembeli berasal dari negara yang sedang diembargo atau dari negara dengan sistem pembayaran yang belum sempurna,” jelasnya. 

Ditambahkannya, diperlukan peningkatan penelitian dan pengembangan produk farmasi dan alat kesehatan untuk menciptakan inovasi. Di samping itu, perlu perlindungan kekayaan intelektual (HKI) bagi merek produk Indonesia agar tidak dipalsukan di negara tujuan ekspor. 

Tidak kalah penting, diperlukan peran lembaga pembiayaan nasional untuk memberikan fasilitas pembiayaan, penjaminan, dan asuransi untuk kegiatan ekspor produk ini.

Untuk meningkatkan pemahaman calon mitra (buyer) diperlukan dukungan promosi, baik dari pemerintah, maupun pelaku usaha. Untuk itu, diperlukan bimbingan dan bantuan dari lembaga pemerintah dan perwakilan di luar negeri untuk menjangkau pelaku usaha setempat yang terpercaya dan berkomitmen melakukan kerja sama. 

Untuk kegiatan promosi dibutuhkan lembaga seperti Pharmacy Council yang dibentuk khusus untuk membantu mencari rekanan di negara tujuan ekspor. Selain itu, juga produsen farmasi dan alat kesehatan harus aktf mengikuti pameran atau kegaitan misi dagang yang disertai forum bisnis dan business matching.

“Kerja sama antar negara atau wilayah harus terus dilakukan, khususnya dalam hal harmonisasi peraturan (regulatory harmonization) di beberapa forum bilateral, regional, dan multilateral. Melalui upaya ini, diharapkan negara-negara tujuan ekspor dapat dengan mudah menerima produk farmasi dan alat kesehatan dari Indonesia,” pungkas Marolop.

Pada 2016 pasar farmasi Indonesia diperkirakan mencapai Rp.69 triliun dan akan mencapai lebih dari Rp.100 triliun pada 2020. 

Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional pada 2015—2035, sektor industri farmasi merupakan salah satu sektor industri penggerak utama ekonomi nasional di masa mendatang yang mampu menyerap sebanyak 40.000 tenaga kerja.

Saat ini, terdapat sekitar 239 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia dan sebagian besar berada di Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta dan memasok 70 persen kebutuhan obat dalam negeri.

Beberapa perusahaan farmasi besar nasional telah bergerak di pasar ekspor. Salah satunya PT Bio Farma (Persero) telah berhasil mengekspor produk farmasi ke sejumlah negara di dunia. 

Bio Farma tercatat menjadi salah satu produsen vaksin terbesar dunia dengan negara tujuan ekspor sebagian besar di negara berkembang.

Sementara itu, pasar industri alat kesehatan nasional pada tahun 2018 diperkirakan mencapai Rp.13,5 triliun atau tumbuh 10 persen dibanding tahun 2017. Saat ini produksi alat kesehatan Indonesia didominasi produk furnitur rumah sakit. 

Meskipun belum dapat memproduksi produk berteknologi tinggi, produsen lokal mulai merambah ke alat kesehatan teknologi menengah seperti USG, x-ray, dan mesin anastesi. Sementara produk alat kesehatan berteknologi tinggi didatangkan dari negara-negara Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan China. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar Anda

Berita Terkini