MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT"

Cacingan Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Sumut

harian9.com author photo
MEDAN| H9
Penyakit cacingan masih dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Dan masyarakat banyak yang belum mengetahui tentang penyakit tersebut. Karenanya, Cacingan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Sumatera Utara (Sumut).

"Kelompok umur yang paling rentan terinfeksi cacingan adalah anak-anak. Cacingan dapat merusak gizi anak sehingga menyebabkan anemia bahkan kematian," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut Agustama kepada wartawan Harian9,yang dihubungi melalui telepon seluler di Meda ,Rabu (14/11/2018). 

Tingkat penurunan gizi pada anak bisa menyebabkan pertumbuhan fisik terganggu bahkan stunting, merusak perkembangan kognitif (kemampuan belajar) sehingga kemajuan pendidikan anak.

Dijelaskannya, masalah cacingan di Indonesia diantaranya adalah rata-rata prevalensi cacingan pada anak SD sebesar 28,12%, pengetahuan masyarakat tentang cacingan masih rendah juga kemampuan petugas untuk melakukan penanggulangan cacingan masih kurang dan komitmen pengambil keputusan yang kurang. 

Karenanya, lanjut Agustama, untuk menurunkan prevalensi cacingan di Indonesia khususnya di Sumatera Utara maka dilaksanakan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) cacingan.

"Sasaran POPM cacingan adalah anak usia 1 tahun sampai 12 tahun," jelasnya.

Ditambahkannya, keuntungan POPM cacingan diantaranya adalah menurunkan angka kurang gizi, menurunkan anemia, meningkatkan pendapatan per kapita keluarga serta meningkatkan pertumbuhan badan baik berat badan maupun tinggi badan anak. Dengan tercapainya hal tersebut maka peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa tercapai.

POPM cacingan dilaksanakan di seluruh posyandu, TK/PAUD/RA, SD/MI dan pesantren. POPM cacingan dilaksanakan satu kali setahun selama lima tahun berturut-turut. "POPM di Sumut tahun 2018 ini merupakan yang ke dua kali (POPM pertama tahun 2017). Cakupan POPM cacingan tahun 2017 sebesar 96,4%, angka ini jauh di atas target nasional yaitu minimal 75%. Sedangkan sampai Nopember ini sudah 96 %," ungkapnya. 

Selain itu,untuk mempertahankan cakupan tersebut, lanjutnya, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak dalam mendukung kegiatan POPM cacingan. POPM cacingan di Sumatera Utara dilaksanakan di kabupaten/kota non endemis filariasis, dengan kriteria daerah lokus stunting yaitu, Langkat, Padang Lawas, Gunungsitoli dan Nias Utara dilaksanakan dua kali setahun di bulan April dan Oktober. 

Daerah non lokus stunting yaitu, Medan, Pematangsiantar, Binjai, Tanjung Balai, Tebing Tinggi, Sibolga, Padangsidimpuan, Karo, Simalungun, Asahan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Dairi, Toba Samosir, Mandailing Natal, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Samosir, dan Padang Lawas Utara dilaksanakan satu kali setahun dimulai bulan Agustus,pungkas Agustama.(Jae9)



Komentar Anda

Berita Terkini