MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT"

UMKM-IKM di Tabagsel Masih Minim Permodalan dan Pemanfaatan IT

Harian 9 author photo

PADANGSIDIMPUAN| H9.
Minimnya permodalan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah dan Industri Kecil Menengah (UMKM-IKM) khususnya di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), salah satu penyebab kurang berkembangnya pelaku UMKM-IKM dalam menjalankan usahanya. 

Hal itu terungkap dalam sesi diskusi berupa talkshow tentang pemberdayaan UMKM-IKM, pada event Festival Oleh-oleh Tabagsel (FO2T) yang diinisiasi Tabagsel Institut, yang berlangsung di Alaman Bolak Padangsidimpuan, Minggu (16/12).

Talkshow yang di moderatori Syahrir Siregar, SH, menghadirkan narasumber dan pembicara, masing-masing, Drs. M Yusar Nasution, Drs. Parulian Nasution, Prof. Zainal Arifin Hasibuan, Abdul Rahim Siregar, DR. Kiman Siregar, Irwansyah Siregar, Ir. HAli Muda Siregar dan Asrizal Hadi Lubis.

Dalam paparannya, narasumber Drs. M Yusar Nasution dari Tim Percepatan Pembangunan Prioritas Padangsidimpuan (TP4) mengatakan, ajang FO2T banyak menampilkan berbagai produk lokal, seperti tenun, bolu ubi, bolu salak, batik Tabagsel.

"Tentunya daerah-daerah di Tabagsel perlu bersinergis dan  ke depan dapat mendorong pelaku UMKM-IKM untuk lebih kreatif dan inovatif, sehingga produk unggulan dapat lebih digandrungi masyarakat. Tentunya juga harus didukung permodalan oleh lembaga keuangan," ujar Yusar.

Ia menyebutkan, Dinas pendidikan juga perlu mengambil alih dan mengintervensi serta mendorong siswa lebih kreatif dalam menciptakan karya. 

"Oleh-oleh Tabagsel harus lebih viral dengan memanfaatkan Informasi dan Tekhnologi (IT) serta pembuatan galeri oleh-oleh produk lokal di Kota Padangsidimpuan dan hal ini perlu bantuan dari Tabagsel Institute," terangnya.

Sekdakab Tapsel Drs. Parulian Nasution menyampaikan, perlunya peningkatan UMKM-IKM dalam membangun kesejahteraan masyarakat, karena, tantangan negara berkembang saat ini adalah kemiskinan dam tingginya pengangguran, sehingga perlunya upaya-upaya pemerintah untuk mengentasan kemiskinan tersebut yang salah satunya adalah memberdayakan sektor UMKM-IKM.

"Aura bisnis masyarakat Tabagsel di bawah rata-rata nasional, ini disebabkan kurangnya promosi dan inovasi bagi pelaku UMKM-IKM khususnya dalam membentuk sentra-sentra industri khususnya di wilayah Tabagsel," terang Parulian.

Ia mengharapkan, melalaui forum tslkshow ini perlu ada rekomendasi,  bagaimana kewirausaan bisa mendapatkan pendampingan, permodalan, pelatihan dan pengawasan agar ke depan pekaku UMKM-IKM lebih berkembang.

"Kabupaten Tapsel memiliki ikon produk lokal yakni Kopi Sipirok yang telah memiliki sertifikat hak paten sehingga memiliki legalitas yang kuat, aoalagi dari 99 jenis produk kopi di Indonesia,  Kopi Sipirok salah satu yang memiliki hak paten," tuturnya.

Guru Bessr Universitas Indonesia (UI) Prof. Zainal Arifin Hasibuan mengatakan sektor UMKM-IKM di Indonesia berkontribusi 60 persen bagi pendapatan masyarakat dan 70 persen mampu meraup tenaga kerja.

Di zaman digital saat ini perlunya pemanfaatan IT bagi pengembangan UMKM-IKM, sehingga memudahkan dalam menjalankan usaha baik dalam hal peningkatkan produksi, pemasaran, hingga membutuhkan permodalan.

"Salah satu contoh adalah, adanya produk lokal yakni Bolu Salak Kenanga yang dalam menjalankan usahanya dengan menerapkan IT, sehingga peluang ke depan produk Bolu Salak Kenanga ini sangat memungkinkan untuk mendunia," papar Prof. Zainal.

Abdul Rahim Siregar seorang konsultan bisnis dan pengusaha asal Kota Padangsidimpuan yang saat ini menjalani bisnis di Kota Medan mengungkapkan, dalam menggerakkan UMKM-IKM harus ada pendampingan dan pengawasan dalam menjalankan usaha, serta membuat meraca keuangan agar bisa membuat perbandingan antara modal dan omset penjualan.

Ia mengharapkan, perlunya merobah menset dalam menjalankan usaha dan meningkatkan manajemen usaha, serta perlu kemudahkan memperoleh akses permodalan.

"Permasalahan UMKM-IKM adalah lemahnya produktivitas akibat lemahnya Sumber Daya Manusia ( SDM) dan kurangnya pengetahuan IT dan sulitnya permodalalan dari lembaga keuangan. Bahkan dari 9 juta UMKM di Indonesia, hanya 3 juta yang memanfaatkan IT. Tentunya ini jadi perhatian kita semua," ungkapnya.

Irwansyah Siregar, pengusaha Kopi Sipirok Tapsel mengatakan, dalam menjalankan usaha kita tidak bokej setengah-setengah hati. Tetapi harus gigih dan serius sehingga dapat lebih  sukses dalam menjalankan usaha.

"Dalam menjalankan usaha  saya masih menggunakam modal sendiri dan belum ada pendampingan dari lembaga keuangan, namun saya tetap yakin usaha yang saya jalankan akan  tetap berkembang, tentunya dengan modal kegigihan dan memiliki keinginan untuk maju," ucap dia.

DR. Kiman Siregar, skademisi dan dosen salah satu Perguruan Tinggi mengharapkan, melalui FO2T dapat meningkatkan sinergitas antara pelaku UMKM, Per Bank an dan kami berharap dukungan pemerintah. 

"Kegiatan ini guna membangkitkan dunia usaha khususnya pelaku UMKM-IKM di Tabagsel," katanya.

Ali Muda Siregar, pengusaha Bolu Salak Kenanga menambahkan, perekonian rakyat, 60 persen di topang oleh UMKM-IKM. Tentunya ini perlu menjadi perhatian bagi seluruh kalangan lembaga keuangan untuk membantu permodalan.

"Bisnis yang kita lakukan mulai dari ide , perencanaan, keberanian serta mau belajar, sehingga mampu jadi pengusaha yang tangguh. Untuk itu, sebagai sumbangsih tentunya dalam memperkenakan buah lokal khususnya salak perlunya kemasan yang benar-benar kebih baik yakni kemasan dari model sumpit ke model dus, sehingga mempengaruhi minat beli," sarannya.

Asrizal Hadi Lubis dari Bank Sumut meminta para pekaku UMKM-IKM dapat memanfaatkan lembaga keuangan untuk pendapatkan permodalan. Tentunya dengan nematuhi prosedur yang di terapkan oleh masing-masing lembaga keuangan.

"Masih banyak pengusaha pemula yang perlu dapat pembinaan dari Per Bank an. Tentunya ini harus di rebut. UMKM-IKM selaku nasabah juga harus memahami prosedur dalam pengajuan kredit Per Bank an untuk permodalan," sarannya.

Pada acara talkshow tersebut, juga dilakukan sesi tanya jawab antara pelaku UMKM-IKM, masyarakat dengan narasumber, yang mana pada intinya, para pelaku usaha masih mempersoalkan minimnya memperoleh permodakan dan pemanfaatan IT. (Wan9)
Editor: Mardan H Siregar

Narasumber sedang memberikan materi pada acara talkshow tentang pemberdayaan UMKM-IKM, pada event FO2T yang diinisiasi Tabagsel Institut, yang berlangsung di Alaman Bolak Padangsidimpuan, Minggu (16/12). (Foto: Riswandy).













Komentar Anda

Berita Terkini