MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT"

Indonesia-Maroko Akan Aktifkan Forum JTC dan Memulai Perundingan PTA Segera

harian9 author photo



JAKARTA| H9
Indonesia dan Maroko menyepakati peningkatan kerja sama perdagangan melalui aktivasi forum joint trade commission (JTC) dan segera memulai perundingan preferential trade agreement (PTA). Kesepakatan tersebut didapat setelah kedua negara melanjutkan pertemuan teknis di Jakarta, pada Selasa (22/1). Pada pertemuan ini, delegasi Indonesia dipimpin Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini dan Delegasi Maroko dipimpin Peneliti Senior Kawasan Asia dan Amerika, Kementerian Industri, Investasi, Perdagangan,dan Ekonomi Digital (IPIED) Asmaa Mkhentar.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari hasil kunjungan kerja Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita ke Maroko pada bulan Juni 2018 lalu. Pada kunjungan tersebut, Mendag menandatangani pernyataan bersama dengan Menteri Muda Perdagangan Maroko, Rakiya Eddarhem, mengenai rencana pengaktifan forum JTC dan pembentukan PTA Indonesia-Maroko.

“Dalam rangka menjaga momentum penandatanganan pernyataan bersama tersebut, Indonesia dan Maroko telah menentukan langkah-langkah untuk memulai pertemuan pertama JTC dan PTA yang direncanakan akan dilaksanakan pada akhir Maret atau awal April 2019 di Jakarta,” ujar Made.

Made juga mengungkapkan, kedua negara juga menyepakati kerangka acuan (TOR) untuk meluncurkan pertemuan JTC. Nantinya JTC tidak hanya sebuah forum pertemuan bilateral regular yang membahas isu-isu hambatan perdagangan, tetapi juga akan berperan penting untuk mendukung negosiasi PTA. Pada forum JTC, pemerintah kedua negara juga akan membahas upaya-upaya untuk mendorong interaksi bisnis antara sektor swasta dari kedua negara. Hasil dari interaksi bisnis tersebut adalah identifikasi produk yang berpotensi untuk ditingkatkan perdagangannya sehingga dapat menjadi indikasi produk yang dirundingkan dalam PTA.

“Perundingan PTA dengan Maroko berbeda dengan perundingan PTA lainnya, karena dilakukan secara paralel yaitu pertemuan antara pemerintah kedua negara yang membahas penurunan tarif dengan pertemuan antara pihak swasta kedua negara untuk mendiskusikan daftar produk yang akan dinegosiasikan untuk mendapatkan penurunan tarif atau potensi kerja sama investasi,” terang Made.

Made melanjutkan, pada pertemuan kali ini, kedua negara telah mengidentifikasi sektor/produk potensial untuk ditingkatkan perdagangannya. Pada kesempatan ini, Indonesia menyampaikan beberapa produk antara lain komponen otomotif, produk kulit, tekstil, rempah-rempah, makanan dan minuman, furnitur, kelapa sawit, kertas, kopi, dan produk perikanan.

Sedangkan pada pertemuan dengan Kadin Indonesia sehari sebelumnya, Maroko menyampaikan keinginannya untuk menjajaki kerja sama di sektor kelapa sawit, kopi, tekstil, karet dan ban, agro industri, farmasi, dan minyak zaitun.

Maroko merupakan salah satu pasar ekspor nontradisional yang menjadi hub ke pasar Afrika dan Eropa. Total perdagangan Indonesia-Maroko pada tahun 2017 mencapai USD 154,8 juta dengan ekspor Indonesia ke Maroko sebesar USD 86 juta sedangkan impor Indonesia dari Maroko sebesar USD 68,8 juta. Dengan demikian, pada tahun 2017 Indonesia surplus perdagangan sebesar USD 17,1 juta terhadap Maroko.

Produk ekspor Indonesia ke Maroko adalah kopi (USD 23,5 juta); benang serat stapel tiruan (USD 9,0 juta); benang serat stapel sintetik (USD 7,5 juta); minyak kelapa sawit dan fraksinya, baik yang dimurnikan maupun tidak (USD 7,1 juta); dan senyawa amino oksigen (USD 4,6 juta).

Sementara impor Indonesia dari Maroko adalah kalsium fosfat alami (USD 42,4 juta); setelan jaket untuk wanita (USD 6,2 juta); blus dan kemeja wanita (USD 4,4 juta); pupuk mineral atau kimia (USD 3,7 juta); pakaian olahraga, pakaian ski, dan pakaian renang (USD 1,4 juta).
Komentar Anda

Berita Terkini