MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT* SELURUH JAJARAN PEMIMPIN UMUM, PEMIMPIN REDAKSI, WARTAWAN DAN KARYAWAN HARIAN9 MENYAMPAIKAN TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA BAPAK PROF. Dr. Ing H. BJ. HABIBIE. IN SYAA ALLAH HUSNUL KHATIMAH. SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN TEMPAT TERBAIK DI SURGA-NYA. AAMIIN"

Keinginan Tampil Cantik dan Seksi Picu Gangguan Kepribadian

HARIAN9 author photo
MEDAN I H9
Saat ini, informasi mengenai cars mempercantik diri bagi seorang perempuan mudah didapatkan. Begitu juga untuk memperoleh alat dan bahan kecantikannya.

Kaum perempuan, terlebih mereka yang bekerja apalagi menjadi publik figur, selalu memperhatikan penampilannya. Mereka berusaha untuk tetap tampil cantik bahkan seksi karena ingin menjadi pusat perhatian.

Psikolog Dra. Irna Minauli, M.Si
mengatakan, banyak perempuan yang senang tampil dan seksi. Tanpa mereka sadari bahwa perilakunya itu sebenarnya ditujukan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, khususnya lawan jenis.

"Jika keinginan untuk tampil cantik dan seksi sudah merupakan obsesi bagi seseorang maka perlu dikaji kemungkinan apakah yang bersangkutan mengalami gangguan kepribadian histrionic," katanya di Medan, Minggu (31/3/2019).

Irna  menjelaskan, gangguan ini, ditandai dengan keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian. Ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian maka dirinya merasakan adanya kekurangan dan merasa tidak dicintai atau tidak diinginkan yang kemudian menyebabkan mereka sering bersikap histeris guna mendapatkan perhatian tersebut.

Akan tetapi, bagi sebagian perempuan mungkin mereka dipengaruhi oleh framing yang dibuat oleh media. Misalnya digambarkan bahwa seorang perempuan yang cantik harus berdandan dengan model alis tertentu, bulu mata, blush-on serta lipstick warna tertentu. Secara fisik misalnya digambarkan bahwa perempuan yang cantik haruslah tinggi, langsing, berkulit putih dan berambut panjang.

"Framing yang dibentuk oleh majalah pria dewasa misalnya membuat banyak perempuan yang beranggapan bahwa perempuan seksi adalah mereka yang memiliki payudara besar sehingga banyak perempuan yang kemudian melakukan operasi plastik," ujar direktur Biro Minauli Consulting, ini. 

Padahal, lanjut Irna, framing yang dilakukan oleh majalah pria dewasa tersebut merupakan representasi dari kelompok laki-laki dengan tingkat pendidikan rendah dan kecerdasan yang rendah. Terbukti ketika penelitian dilakukan pada kelompok laki-laki dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, maka faktor tersebut tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan faktor kepribadian dan kecerdasan perempuan itu sendiri.

Ditambahkannya, sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak yang dibesarkan dengan boneka cantik cenderung akan meniru cara berpakaian serta dandanan boneka tersebut. Akibatnya banyak yang kemudian memiliki body image  (citra tubuh) yang buruk. Mereka merasa bahwa tubuh mereka tidak ideal sehingga banyak yang kemudian mengembangkan gangguan dalam perilaku makan. 

"Beberapa remaja kemudian mengalami anorexia nervosa sehingga mereka tidak mau makan, atau mengalami bulimia dimana mereka makan banyak namun kemudian dimuntahkan atau mereka minum obat pencahar sehingga mereka tetap dapat mempertahankan berat badan ideal menurut mereka," tegasnya.

Menurutnya, kondisi ini tentu dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka. Banyak yang kemudian mengalami kondisi gizi buruk serta masalah kesehatan lainnya. (Jae9)

Komentar Anda

Berita Terkini