MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT"

Lirik Peluang Peningkatan Ekspor Melalui Pemanfaatan E-Commerce, Kemendag Rangkul Stakeholders Untuk Maksimalkan Potensi

harian9.com author photo

BOGOR| H9
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan terus berupaya untuk meningkatkan ekspor non migas Indonesia yang tahun ini ditargetkan meningkat 7 persen di banding dengan tahun sebelumnya. Salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Jendral Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kemendag yaitu merangkul para stakeholder di bidang e-Commerce untuk memaksimalkan peluang peningkatan ekspor non-migas. 

Saat ini terdapat puluhan Kementerian maupun lembaga yang memberi bantuan kepada para pelaku usaha untuk memanfaatkan e-commerce  namun dirasakan tidak terjadi peningkatan yang nyata di dalam peningkatan ekspor. 

Kondisi yang terjadi saat ini di dalam perdagangan dalam jaringan (e-commerce, cross broder trade) menurut cacatan terdapat lebih dari 20 juta buah consignment note dari luar negeri pada tahun 2018 ke Indonesia namun sebaliknya hanya 1 persen ekspor Indonesia yang tercatat menggunakan perdagangan secara elektronik. Situasi ini diduga sebagai akibat dari kesalahan fokus dan target dalam rantai pembinaan yang dilakukan. 

Direktur Kerja Sama Pengambangan Ekspor Nasional, Marolop Nainggolan, pada pertemuan dengan tema Pengembangan UKM Tujuan Ekspor Melalui Pemanfaatan E-Commerce di Bogor, 10 April 2019, menyampaikan bahwa, “Sejalan dengan perkembangan dunia saat ini khususnya di era revolusi industri 4.0, digitalisasi dalam perekonomian menjadi andalan pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam rangka peningkatan ekspor”. 

“Diperlukan kemudahan bagi para pelaku usaha Indonesia untuk melakukan ekspor melalui platform e-Commerce Indonesia khusus Ekspor agar tidak hanya produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, tapi juga sebaliknya konsumen di luar negeri dapat dengan mudah dipesan dari luar negeri”. “Ironi pun sebenarnya kita hadapi di dalam negeri karena belum ada platform yang menyediakan layanan ekspor melalui perdagangan online,” tambah Marolop Nainggolan. 

Turut hadir pada pertemuan yang dilaksanakan oleh Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor itu, adalah para praktisi seperti IDEA, beberapa platform perdagangan online, perusahaan logistik dan wakil dari Kemenko Perekonomian, Bea dan Cukai, Badan Karantina serta Pemda Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. 

Pertemuan mencatat beberapa masalah dalam pengembangan e-commerce dalam negeri terutama menyangkut kesiapan pelaku usaha maupun dalam kebijakan dan regulasi. Dipandang perlu upaya semua pihak untuk meningkatkan komitmen dan kesediaan dari para pelaku UKM untuk memasuki e-commerce. 

Para pengelola platform mendapat kesan bahwa pelaku usaha umumnya tidak berkeinginan berdagang melalui e-commerce karena merasa sudah cukup beruntung melalui perdagangan konvensional dalam pasar dalam negeri yang cukup besar. 

Di pihak lain perlu upaya bersama dalam mencapai peningkatan kapasitas (literasi) para pelaku UKM dalam melakukan perdagangan online bahkan perlu dimulai dari hal mendasar seperti penggunaan e-mail maupun website. 

Seiring meluasnya jangkauan layanan internet, bisnis e-commerce di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir, telah bermunculan para pelaku kreatif sehingga perlu disediakan wadah pembinaannya. 

Selain produk fisik (seperti barang kerajinan, makanan dan pakaian), perdagangan dalam kategori jasa fisik (seperti layanan desain grafis, jasa global customer service) dan jasa digital (seperti penyedia tools/aplikasi) yang berorientasi kepada pasar global telah mulai meningkat. 

Diperlukan dukungan bagi para pelaku dalam menciptakan variasi produk dan jasa, berkembang lebih jauh dalam pasar nasional serta menembus pasar global.

Memperhatikan perkembangan pasar dan kebutuhan produk digital global di mana nilai perdagangannya sudah lebih besar jika dibandingkan dengan perdagangan konvensional, sudah saatnya Indonesia memiliki pejabat yang khusus menangani pemasaran, promosi perdagangan melalui e-commerce. 

Meskipun pemerintah telah menyediakan layanan secara digital dalam beberapa hal dipandang perlu untuk lebih responsif terhadap laju perdagangan e-commerce. Layanan sertifikasi secara online, maupun perizinan online misalnya belum cukup untuk mendukung perkembangan e-commerce Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam digitalisasi UKM di Indonesia yakni, pertama, fokus pada segmen pelaku UKM strategis yang memiliki mindset entrepreneurship, agresif dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang. 

Kedua, hilirisasi pada peningkatan produk lokal melalui peningkatan value added,  unggul dalam pasar nasional dan dapat bersaing pada pasar global.  Terakhir, ketiga, berorientasi ekspor Business to Business (B2B) dan Business to Customer (B2C) melalui platform global.

Sebagai salah tindak lanjut dari pertemuan ini, para peserta bersepakat perlunya sinergi dari semua pemangku kepentingan untuk pengembangan ekspor oleh UKM melalui e-commerce. 

“Untuk itu, para peserta mengusulkan sebuah kegiatan percontohan yang diharapkan dapat menarik minat para pelaku usaha menggunakan e-commerce,” demikian dijelaskan oleh Marolop Nainggolan. 

“Pilot project  tersebut akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat dengan memberi fokus kepada satu sektor usaha tertentu dengan tujuan pasar tertentu,” lanjut Marolop.  

“Pihak kami akan memilih sejumlah tertentu pelaku usaha yang akan dibimbing hingga dapat melakukan ekspor menggunakan platform e-commerce,“ demikian diterangkan oleh Marolop Nainggolan. 

Mengakhiri pembicaraan, Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor ini menambahkan, “Melalui bimbingan yang intensif, di akhir pilot project ini diharapkan menghasilkan 10 UKM eksportir baru”. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar

Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor, Direktorat Jendral Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag Marolop Nainggolan, pada acara FGD E-Commerce. (Foto: kemendag)



Komentar Anda

Berita Terkini