MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT# DIJUAL SEBIDANG TANAH DI DISKI KECAMATANG SUNGGAL KABUPATEN DELISERDANG, UKURAN 12M x 18M, SK CAMAT HARGA Rp. 100JUTA, BERMINAT HUBUNGI 081370413190 (WAK SU)

Dorong Penyelesaian Perundingan RCEP, Mendag Hadiri Pertemuan ASEAN Troika dengan India

harian9 author photo

NEW DEHLI| H9
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita menghadiri pertemuan antara ASEAN Troika dengan Menteri Perdagangan India Piyush Goyal di New Delhi, India, pada Selasa (9/7) waktu setempat. 

Mendag Enggar yang hadir sebagai Koordinator Perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), bersama Deputi Menteri Perdagangan Thailand selaku Ketua ASEAN, Sekretaris Jenderal ASEAN, dan Ketua Komite Perundingan RCEP melakukan pertemuan konsultasi dengan Menteri Perdagangan India untuk memperjelas komitmen India guna menyelesaikan perundingan RCEP tahun ini sesuai instruksi para Pemimpin RCEP saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP kedua pada bulan November 2018 di Singapura.

Pertemuan Troika ini merupakan inisiatif menteri-menteri ekonomi ASEAN dalam pertemuan retreat di Phuket, Thailand pada April lalu. India dipilih sebagai negara peserta perundingan RCEP yang perlu didekati karena dalam berbagai putaran perundingan yang berlangsung sejak Maret 2013 India cenderung sangat berhati-hati sehingga dirasakan menahan laju pencapaian perundingan.

“Kita memahami kehati-hatian India dalam perundingan RCEP karena tidak memiliki FTA sebelumnya dengan beberapa negara peserta, seperti China dan Selandia Baru. Sejatinya, negaranegara ASEAN termasuk Indonesia juga sangat berhati-hati dalam merundingkan RCEP ini. Namun, setelah melalui 26 putaran seharusnya sudah dapat diidentifikasi cara-cara untuk mengakomodir sensitifitas kita dalam perundingan akses pasar maupun rules. Untuk itulah kita mendatangi India dan meminta India bekerja sama lebih erat dengan ASEAN,” jelas Enggar.

Dalam pertemuan pleno maupun dalam format tertutup, Menteri Enggar menekankan pentingnya penyelesaian perundingan RCEP yang sudah berlangsung lebih dari tujuh tahun ini, terutama di tengah maraknya perang dagang yang menyebabkan masa depan perdagangan dunia menjadi tidak pasti, yang pada gilirannya juga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

ASEAN mengutus Troika di saat para perunding sedang mempersiapkan putaran ke-27 yang akan berlangsung di Zhengzhou, China. 

“Para perunding hanya memiliki waktu dua minggu antara putaran ke-26 di Melbourne yang berakhir 3 Juli lalu dan putaran ke-27 di Zhengzhou yang akan dimulai pada 24 Juli mendatang. Jeda waktu yang singkat ini harus dimaksimalkan untuk melakukan konsultasi domestik agar pertemuan di China lebih banyak membuahkan hasil. Dalam konteks itulah Troika ASEAN memerlukan datang ke New Delhi dan berbicara tidak saja dengan Menteri Perdagangan India tetapi juga dengan seluruh tim runding India yang mendampingi Menteri India dalam pertemuan ini,” imbuh Enggar.

Troika ASEAN mengingatkan kembali arti penting RCEP bagi semua peserta perundingan. RCEP merupakan proses konsolidasi lima FTA ASEAN dengan enam negara mitranya agar mata rantai suplai regional yang telah terbentuk melalui FTA ASEAN dengan masing-masing mitra dapat diperdalam dan diperluas. 

Dengan total penduduk mencapai 3,5 miliar jiwa, kontribusi pada PDB dunia dan perdagangan dunia mendekati 40 persen, RCEP akan menjadi sebuah mega regional FTA dan berpotensi untuk menjadi pusat baru pertumbuhan ekonomi dunia.

Sementara itu, Ketua Komite Perundingan RCEP, Iman Pambagyo, menegaskan bahwa berbagai persiapan sedang dilakukan secara terkendali dari Jakarta. Ini untuk memastikan bahwa semua negara peserta memfokuskan persiapan domestiknya dengan sasaran atau target yang jelas.

"Komite Perundingan RCEP bekerja sama dengan Sekretariat ASEAN terus menyampaikan arahan ke semua ibu kota negara peserta agar menyelesaikan pekerjaan rumahnya masing-masing, sehingga pada putaran Zhengzhou dapat dicapai kemajuan yang lebih signifikan,” tegas Iman.

Pertemuan Bilateral dengan India

Selain membahas penyelesaian RCEP, Menteri Enggar juga melakukan pertemuan bilateral dengan mitranya, Menteri Perdagangan India.

Mendag kembali menyampaikan permintaan agar minyak kelapa sawit dari Indonesia mendapatkan perlakuan tarif yang sama dengan produk serupa dari Malaysia. Walaupun dipahami bahwa pembedaan tarif itu karena Malaysia memiliki FTA bilateral dengan India sementara Indonesia tidak. 

Permintaan ini ditanggapi serius oleh Menteri Perdagangan India yang pada gilirannya juga meminta perhatian Mendag Enggar atas berbagai kesulitan yang dihadapi eksportir India untuk memasuki pasar Indonesia dan patut diduga tidak sejalan dengan komitmen Indonesia di WTO maupun dalam ASEAN-India FTA.

“Kita perlu mempertimbangkan permintaan India agar minyak kelapa sawit Indonesia mendapatkan perlakuan yang adil di India. Ini perlu dilihat secara makro, tidak bisa terlalu sektoral, karena neraca perdagangan kita dengan India selalu surplus dan tahun lalu mencapai USD.8,7 miliar. Kita perlu memberi kesempatan yang ‘fair’ kepada India, dan percayalah India sulit mencatatkan surplus dengan Indonesia sepanjang ekspor minyak kelapa sawit kita ke india tidak dihadapkan pada hambatan tarif maupun nontarif,” pungkas Enggar.

Berdasarkan data BPS, total perdagangan Indonesia dan India periode 2018 tercatat USD.18,75 miliar dengan nilai ekspor Indonesia ke India sebesar USD.13,72 miliar dan impor sebesar USD.5,01 miliar, surplus bagi Indonesia sebesar USD.8,7 miliar. 

Adapun total perdagangan Indonesia-India periode Januari—April 2019 sebesar USD.5,58 miliar. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar

Di sela-sela Pertemuan ASEAN TROIKA, Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian India, Piyush Goyal di New Delhi, India, Selasa (9/7). (Foto: kemendag)




Komentar Anda

Berita Terkini