MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT"

Intersesi Menteri RCEP ke-8: Selesaikan Beberapa Isu Perundingan, Menteri RCEP Optimis Konklusi Bulan November

harian9 author photo

BEIJING| H9
Para Menteri Ekonomi dari 16 Negara Peserta Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) kembali melakukan Pertemuan Intersesi ke-8 di Beijing, China, Sabtu (3/8). Ini merupakan Pertemuan Intersesi Menteri RCEP yang kedua pada tahun ini setelah pertemuan yang pertama pada bulan Maret dalam upaya mempercepat penyelesaian perundingan RCEP pada tahun ini. 

Dalam rangka tersebut, Menteri Ekonomi ASEAN secara khusus melakukan pertemuan bilateral dengan keenam Mitra FTA untuk menyamakan pandangan terhadap upaya penyelesaian beberapa isu penting yang masih terkendala serta langkah penyelesaian seluruh perundingan pada bulan November 2019, untuk ditandatangani pada tahun 2020. 

Para Menteri membahas dan menyepakati langkah-langkah penyelesaian maupun tindaklanjut terkait beberapa isu sensitive yaitu penerapan ketentuan Most Favored Nation (MFN), provisi tentang mekanisme sengketa antara Investor dan Pemerintah atau Investor State Dispute Settlement (ISDS) dan beberapa provisi di bidang E-Commerce.  

Dengan disepakatinya langkah-langkah tindaklanjut tersebut, Tim Perunding RCEP diharapkan dapat menyelesaikan perundingan semua akses pasar dan teks perjanjian di seluruh bidang perundingan yang masih terkendala penyelesaiannya hingga saat ini agar penyelesaiannya dapat diumumkan pada KTT RCEP ke-3 pada bulan November 2019.  

“Para Menteri berhasil menyepakati langkah-langkah penyelesaian isu-isu perundingan yang cukup sensitive dan sulit diselesaikan oleh tim perunding serta berpotensi menghambat kemajuan perundingan. Penyelesaian RCEP sangat penting apalagi dengan semakin maraknya tekanan-tekanan perdagangan (trade tension) akhir-akhir ini. Oleh karenanya, pembahasan dan penyelesaian provisi ISDS dalam Bab Investasi akan dilakukan setelah Perjanjian ini mulai diimplementasikan secara efektif,” ungkap Mendag Enggar.

Menurut Mendag Enggar, sebagai Koordinator Negara Perundingan RCEP, Indonesia berkomitmen mengajak seluruh Negara Peserta RCEP secara kolektif mendorong penyelesaian perundingan RCEP sesuai target. Penyelesaian perundingan tanpa ada penundaan lagi merupakan tanggungjawab bersama 16 Negara Peserta. 

“Para Menteri Negara Peserta RCEP sepakat untuk tidak mengijinkan tertundanya penyelesaian dan penandatanganan Perjanjian RCEP, setelah mengalami penundaan pada tahun 2015 dan 2017. Penundaan penyelesaian perundingan berarti kehilangan peluangn ekonomi bagi seluruh peserta RCEP dan bahkan bagi dunia.,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Lebih lanjut Mendag mengingatkan kembali bahwa perundingan RCEP merupakan pakta regional terbesar dunia yang mencakup 47,4 persen populasi dunia, 32,2 persen ekonomi global, 29,1 persen perdagangan global dan 32,5 persen arus investasi global.

“RCEP tidak hanya menguntungkan bagi kawasan, tetapi juga bagi ekonomi dunia. RCEP akan menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi bagi seluruh anggota yang masih memiliki perbedaan perkembangan ekonomi. Tentu saja peluang tersebut nantinya dapat direalisasikan apabila setelah Perjanjian RCEP ditandatangani, seluruh negara peserta meratifikasi dan mengimplemntasikan Perjanjian tersebut,” tegas Mendag.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo menambahkan, selain menyelesaikan pembahasan langkah-langkah penyelesaian beberapa isu sensitive tadi, para Menteri juga melakukan pertemuan bilateral untuk menyelesaikan perundingan akses pasar dengan prinsip saling menguntungkan. 

“Perundingan akses pasar juga dilakukan oleh para Menteri pada kesempatan pertemuan ini dan beberapa negara berhasil mencapai penyelesaian," jelas Iman.

Sebelumnya, pada Jumat (2/8) Menteri Bidang Ekonomi ASEAN bertemu untuk melakukan konsolidasi posisi ASEAN. ASEAN juga melakukan pertemuan bilateral dengan Negara Mitra FTAs dalam rangka menyusun strategi negosiasi sesi plenary. 

Menteri Ekonomi ASEAN secara khusus meminta Negara Mitra FTAs untuk menunjukkan fleksibilitas dan solusi bagi isu-isu yang masih terkendala agar penyelesaian RCEP dapat tercapai dan diumumkan pada KTT ASEAN bulan November 2019 di Thailand.

Di sela-sela pertemuan, Menteri Enggar juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan Negara Mitra FTAs yaitu Korea, India dan Selandia Baru. Dengan Korea, secara khusus dibahas langkah-langkah penyelesaian Perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership (IK-CEPA). 

Sementara dengan India dan Selandia Baru, selain isu bilateral Indonesia dengan kedua negara tersebut, pembahasan fokus penyelesaian perundingan akses pasar RCEP.

Pertemuan Intersesi ini dilaksanakan back to back dengan putaran perundingan RCEP-TNC ke-27 yang berlangsung pada 23—31 Juli 2019 di Zhengzhou, RRT. 

Para Menteri Ekonomi peserta RCEP yang terdiri dari 10 Menteri Ekonomi ASEAN dan 6 Menteri mitra FTA ASEAN yaitu Australia, India, Jepang, Korea, RRT, dan Selandia Baru. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar Anda

Berita Terkini