MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT* SELURUH JAJARAN PEMIMPIN UMUM, PEMIMPIN REDAKSI, WARTAWAN DAN KARYAWAN HARIAN9 MENYAMPAIKAN TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA BAPAK PROF. Dr. Ing H. BJ. HABIBIE. IN SYAA ALLAH HUSNUL KHATIMAH. SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN TEMPAT TERBAIK DI SURGA-NYA. AAMIIN"

Menolak Lupa!!! Tepat Hari Ini, 15 Tahun Kematian Munir Masih Teka Teki

harian9 author photo

MEDAN| H9
Kematian Munir, tepat pada 7 September 2004, tragedi memilukan terjadi di atas langit Romania, seorang warga negara biasa yang meninggal dalam penerbangan menuju Belanda, dia adalah Munir.

Seorang warga negara Indonesia yang dikagumi oleh masyarakat luas karena sifatnya yang suka menolong orang yang termarjinalkan serta sifat humanis yang dimilikinya.

Munir namanya, seorang aktivis HAM (banyak orang menyematkan kepadanya) yang sangat vokal terhadap pemerintah Orde Baru. Namun sayang Kematian Munir masih menjadi teka-teki, tragedi kematian Munir terjadi ketika politik di Indonesia sedang panas-panasnya, dimana sedang berlangsung Pilpres putaran 2 antara SBY dan Megawati.

Usman Hamid, mantan Kontras mengatakan “hasil otopsi dari pemerintah Belanda, menyatakan bahwa ditemukan racun arsenik diseluruh tubuh Munir”. Selain itu “kasus Munir ini sarat akan politik dan ketidaksukaan individual terhadap beliau (Munir)”. 

Betapa kejamnya manusia meracuni manusia lainnya hanya untuk menuntaskan kepentingan individual.
A Test of Our History kalimat itu yang disampaikan oleh presiden SBY ketika berpidato dihadapan media, beliau meminta kasus ini harus tuntas dan orang-orang yang terlibat harus di adili seadil-adilnya. 

Keseriusan pemerintah untuk menuntaskan kasus ini terlihat dari pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir, pada Desember 2004. Temuan TPF sangatlah mengejutkan bahwa pemerintah ikut andil dalam pembunuhan Munir, diantaranya Muchdi PR (Deputi V BIN), dan A.M. Hendropiyono (Kepala BIN periode 2001-2004) selain itu management Garuda pun terlibat dalam lingkaran hitam pembunuhan Munir yakni Mantan Direktur Utama, Indra Setiawan dan Polycarpus (Pilot Garuda).

Orang-orang tersebut memiliki peran masing-masing salah satunya Polycarpus yang menjadi agen lapangan, ia berperan sebagai eksekutor dimana ia memasuki racun arsenik ke minuman Munir ketika singgah di Coffe Bean, Singapura. 

Polycarpus pun telah dijatuhkan hukuman maksimal, namun para pembunuh Munir lainnya masih berkeliaran di luar sana dengan Impunitas yang dimilikinya.

Pertanyaan besar muncul “apa yang melatarbelakangi pembunuhan aktivis HAM Munir?”. Beberapa spekulasi muncul, mulai dari Munir dibunuh karena ingin membocorkan rahasia negara karena ia merupakan antek asing, sampai spekulasi Munir dibunuh karena ada masalah individu dengan petinggi militer Orde Baru. 

Tapi asumsi kuat ialah ketidasukaan militer terhadap Munir. Berawal dari kepindahan Munir ke Jakarta pada 1996, Munir mulai memfokuskan diri dalam dunia HAM setelah pindah dimana sebelumnya fokus Munir adalah perburuhan di Jawa Timur. 

Munir dikenal kritis terhadap Militer ketika kasus orang hilang dan penculikan aktivis terjadi, Munir menyatakan bahwa TNI terlibat langsung dalam kasus penculikan aktivis.

Munir yang menjadi pengacara dari para korban penculikan dan Munir menuding keterlibatan perwira TNI dalam hal ini Prabowo Subianto dan Muchdi PR, karena telah memberi perintah terhadap tim mawar yang berisikan anggota Kopassus. 

Munir sangatlah anti militerisme bukan berarti ia anti militer, ia tidak setuju apabila praktik militer diterapkan dalam masyarakat sipil.

Cukup banyak kontribusi Munir dalam kemajuan HAM seperti pembentukan lembaga korban Kontras (Komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan) tahun 1998, serta Imparsial tahun 2002. 

Munir juga berkontribusi dalam pemajuan kesejahteraan para militer melalui Pasal kesejahteraan militer atau dikenal dengan Pasal Munir. Munir tergerak karena melihat kesejahteraan yang kurang dari para personil TNI. 

Munir juga memperoleh beberapa penghargaan seperti Right livelihood (alternative Nobel Prizes), Man of The Year (1998) versi Majalah Ummat, Yap Tiam Hien Award dan masih banyak lagi.

Melihat semua perjuangan dan kontribusi yang sudah diberikan oleh Munir terhadap kemajuan HAM dan memuliakan Kemanusiaan wajarlah apabila Munir disematkan Maka dari itu layaklah Munir disematkan sebagai the true Human Rights Activist. 

Karena memang Munir adalah seorang pejuang HAM sejati yang tidak berhenti-hentinya membela kebenaran untuk menegakan keadillan dan kemanusiaan di Indonesia.

Bertahun tahun tragedi kematian Munir, disetiap Kamisan nama Munir selalu disebut, mereka berdiri meminta dan mengingatkan pemerintah bahwa masih adanya praktik-praktik pelanggaran HAM gaya Orde Baru yang terjadi pasca Orde Baru, Mereka menyadarkan pula bahwa kasus pembunuhan Munir masih belum selesai, pembunuhnya masih berkeliaran diluar sana. 

Sang aktivis HAM telah berpulang yang tersisa untuk kita adalah pemikiran-pemikirannya serta semangatnya, Selamat Jalan Cak Munir.(dikutip dari Kumparan, Sabtu (7/9/2019).

Komentar Anda

Berita Terkini