MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT* SELURUH JAJARAN PEMIMPIN UMUM, PEMIMPIN REDAKSI, WARTAWAN DAN KARYAWAN HARIAN9 MENYAMPAIKAN TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA BAPAK PROF. Dr. Ing H. BJ. HABIBIE. IN SYAA ALLAH HUSNUL KHATIMAH. SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN TEMPAT TERBAIK DI SURGA-NYA. AAMIIN"

Upayakan Peningkatan Akses Pasar, Indonesia Sepakat Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan Rusia dan AS

harian9 author photo

BANGKOK| H9
Kementerian Perdagangan dalam rilisnya Jum'at (13/09) menyampaikan, Pemerintah Indonesia terus mengupayakan peningkatan hubungan perdagangan bilateral dengan meminimalisasi hambatan perdagangan dan investasi dengan negara mitra. Dengan meminimalisasi hambatan, maka kemudahan akses pasar akan semakin meningkat.

Hal tersebut diupayakan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dengan melaksanakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Maksim Oreshkin dan Deputi United States Trade Representative (USTR) Jeff Gerrish di sela-sela Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) ke-51 di Bangkok, Thailand, Selasa (10/9).

“Kita setuju menaikkan hubungan bilateral perdagangan dan investasi dengan Rusia. Indonesia dan Rusia sepakat untuk mengidentifikasi hal-hal yang selama ini menghambat kerja sama kedua negara,” ujar Mendag.

Mendag menerangkan, pihak Rusia meminta dukungan Kemendag dalam proyek kereta api di Kalimantan. Terkait hal tersebut, Mendag berkomitmen akan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait di Indonesia. Selain itu, Rusia juga menyatakan minatnya pada potensi investasi pembangunan infrastruktur pemindahan ibu kota Indonesia.

Sementara itu, pihak Indonesia menaruh perhatian pada keputusan Parlemen Rusia yang menaikkan pajak minyak sawit, dari 10 persen menjadi 20 persen. Rusia menekankan, kenaikan pajak minyak sawit tersebut adalah tindakan penyesuaian tarif dan bukan proteksi. 

Rusia tidak memproduksi minyak sawit sehingga tetap membutuhkan asupan minyak sawit Indonesia. Untuk itu, Rusia menyatakan akan menghitung dampak kenaikan pajak tersebut pada serapan konsumsi Rusia.

Kedua Menteri juga sepakat menindaklanjuti rencana imbal dagang pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35 bagi Indonesia. Selain itu Indonesia juga meminta Rusia selaku negara dengan ekonomi terbesar di Eurasian Economic Union untuk mendukung insiatif pembentukan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Eurasian Economic Union.

“Potensi perdagangan kita dengan Rusia cukup besar, untuk itu kami mendorong agar hambatan perdagangan kedua negara dapat diatasi dan hubungan ekonomi dapat ditingkatkan melalui rencana pembentukan perjanjian perdagangan dengan Eurasian Economic Union, mengingat Rusia adalah bagian dari Eurasian Economic Union dan merupakan ekonomi terbesar di situ.” ujar Mendag.

Selain memberikan manfaat peningkatan dagang dengan Rusia, kerja sama dengan Eurasian Economic Union juga akan memberikan manfaat perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota lainnya, seperti Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgizstan.

Sementara itu, pada pertemuan dengan USTR, Mendag membahas mengenai skema generalized system of preferences (GSP) dan isu-isu akses pasar dalam hubungan perdagangan IndonesiaAmerika Serikat (AS). Pemerintah AS menaruh perhatian khusus pada beberapa regulasi Pemerintah Indonesia yang dikhawatirkan dapat menahan ketertarikan investor AS untuk berinvestasi di Indonesia, seperti Amazon dan Google. 

Regulasi yang diantisipasi AS tersebut yaitu revisi dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 tahun 2012, khususnya terkait kewajiban penempatan pusat data (data localization), yang akan dikeluarkan pemerintah. Selain itu juga revisi dalam PP No. 14 tahun 2018 terkait kepemilikan asing pada perusahaan perasuransian.

“Saya yakinkan kepada mereka bahwa Pemerintah Indonesia berupaya membuat investor nyaman dengan meminimalisasi berbagai hambatan dagang dan investasi,” lanjut Mendag.

Sementara terkait dengan tarif preferensi skema GSP, pihak AS diharapkan dapat memberikan keputusan memperpanjang pemberian fasilitas GSP kepada Indonesia. Hal ini penting mengingat fasilitas GSP memberikan keuntungan besar bagi kinerja ekspor Indonesia karena sebanyak 10 persen total ekspor Indonesia ke AS dikenakan tarif 0 persen.

Sebelumnya di hari yang sama, Selasa (10/9), Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo selaku Koordinator Negara ASEAN juga telah melaksanakan pertemuan bilateral dengan Deputi Menteri Perdagangan Internasional Kanada John Hannaford.

Pada pertemuan tersebut, Iman menyatakan akan segera menindaklanjuti kerja sama antara ASEAN dan Kanada. (rel/03)
Editor: Mardan H Siregar 




Komentar Anda

Berita Terkini