MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT# Walikota Medan Kena OTT, Ini Kata KPK # Selain Eldin, Kadis PU, Protokoler dan Ajudan Kena OTT # Gubsu Edy Tanggapi Soal Walikota Medan Kena OTT # KPK Minta "And" Asal Medan Segera Serahkan Diri # Walikota Medan Kena OTT, Dengan Linangan Airmata Akhyar Menanggapinya#

Kasus Suspect Difteri Muncul Karena Praktek Tidak Benar Dijalankan

harian9 author photo

MEDAN| H9
Difteri merupakan jenis penyakit menular yang menyebar ke aliran darah dan membentuk membran pada nasofaring dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit difteri sudah lama dinyatakan hilang dan bebas karena jenis penyakit ini sudah dapat dicegah dengan imunisasi.

Sehingga jika muncul satu kasus saja di daerah yag sudah dinyatakan bebas, maka dapat dikatakan telah terjadi  wabah atau kejadian luar biasa. "Gejala penyakit ini seperti demam yang tinggi, selaput berwarna putih, nyeri sewaktu menelan, pusing dan bengkak pada leher," kata Praktisi Kesehatan Sumut Destanul Aulia SKM MBA Mec PhD, Senin (7/10/2019).

Menurutnya, jumlah kasus difteri di Indonesia sangat berfluktuasi yaitu menurun, meningkat dan kembali menurun. Bahkan penyakit difteri menyerang usia yang tidak terbatas yaitu usia termuda 3,5 tahun dan yang tertua usia 45 tahun.

Penyakit ini sudah seharusnya hilang dengan vaksinasi dan berbagai strategi kesehatan masyarakat. Namun karena prakteknya tidak benar dijalankan maka kasus ini muncul kembali menjadi wabah di Indonesia.

"Penyakit ini merupakan penyakit lama yang muncul kembali. Sejak tahun 1990-an kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru muncul kembali pada tahun 2009," ujarnya.

Praktek yang tidak benar itu seperti praktek perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah tangga, sekolah, tempat kerja, tempat umum dan di pelayanan kesehatan. Misalkan etika ketika batuk dan bersin yang seharusnya menutup mulut, tapi tidak dipraktekkan dengan baik. Sehingga kebiasaan buruk di masyarakat terus terjadi.

Berikutnya cuci tangan pakai sabun hanya merupakan program seremonial tetapi bukan program yang mengakar dan menjadi budaya di masyarakat. Program cakupan imunisasi yang tidak mencapai target disebabkan tenaga kesehatan yang kurang profesional maupun ketersediaan bahan dan peralatan yang kurang memadai.

Sisi lain, beberapa penyebab kegagalan imunisasi adalah banyak kaum atau kelompok yang anti vaksin yang mengatakan vaksin haram dan akan menyebabkan anak sakit. Kedua, faktor kedisiplinan karena imunisasi difteri memerlukan pengulangan.

Ketiga, kualitas vaksin yang kurang baik karena membutuhkan tempat penyimpanan yang seduai standard dan masa berlaku vaksin. Keempat, keluarga dan budaya dalam sehari-hari yang tidak sehat seperti merokok dan makan makanan yang tidak sehat dari hygiene dan sanitasi lingkungan.

"Kelima, fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau dan orang tua terlalu sibuk. Dan terakhir keenam, adaya pandangan bahwa kekebalan tubuh sudah ada pada setiap tubuh individu," sebutnya.

Jadi, menurut Destanul, munculnya kasus difteri adalah karena kegagalan sistem kesehatan secara nasional dan daerah dalam mempraktekan program kesehatan masyarakat dan menunjukkan perhatian pemerintah yang selama ini lebih memfokuskan pada kuratif dan kurang pada preventif dan promotif. (Ogi Bukit)

Komentar Anda

Berita Terkini