MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT* SELURUH JAJARAN PEMIMPIN UMUM, PEMIMPIN REDAKSI, WARTAWAN DAN KARYAWAN HARIAN9 Mengucapkan Selamat Berbahagia atas Resepsi Pernikahan WIWID WIDODO dan NANI AFRIDA br GINTING, SH. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah"

Sumut Alami Deflasi di September, Ini Kata Analist Keuangan...

harian9 author photo

MEDAN| H9
Kabar baik sekali tentunya mendengar bahwa Sumut mengalami deflasi selama bulan September kemarin. Sumut tercatat deflasi seebsar 1.81% yang membuat laju tekanan inflasi berjalan turun menjadi 3.49%. Artinya sasaran besaran inflasi hingga bulan septembar masih sesuai dengan target Bank Indonesia 3.5% plus minus 1%.

Analist Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin meyakini bahwa kinerja inflasi Sumut hingga akhir tahun bisa digiring di bawah angka 3 persen. Penyebab utamanya adalah adanya penurunan pada komoditas penyumbang inflasi besar sebelumnya yakni cabai. Di bulan kemarin harga cabai serentak mengalami penurunan yang signifikan. Ini menjadi penyumbang besar bagi ruang terciptanya deflasi.

"Dan saat ini, stok cabai di berbagai daerah di Sumut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Ditambah lagi curah hujan yang cukup berpeluang menciptakan tambahan produktifitas tanaman cabai. Hal ini sangat berpeluang menciptakan tambahan sisi persediaan yang bisa memicu terjadinya penurunan harga cabai kedepan," katanya, Rabu (2/10/2019).

Jadi hal ini yang pertama yang berpeluang memicu potensi terjadinya penurunan harga cabai tersebut. Disisi lain, di bulan September kemarin, realisasi harga cabai sempat bertengger dikisaran harga 70 ribuan. Jika seandainya saja, dibulan oktober ini harga komoditas cabai bertahan dikisaran 40 ribuan. Dengan pendekatan perhitungan rata-rata tertimbang, maka cabai akan memberikan sumbangan deflasi lanjutan di bulan oktober.

"Terlebih jika realisasi harga cabai nantinya selama sebulan kedepan justru mengalami penurunan. SUMUT berpeluang mencetak deflasi kembali. Dan angkanya signifikan. Selama tidak ada gangguan dari variable yang sulit diprediksikan seperti bencana alam. Jadi Sumut masih berpeluang merealisasikan inflasi sesuai dengan target Bank Indonesia," ujarnya.

Oktober dan November menjadi bulan penentunya. Sementara Desember tidak terlalu berharap banyak, karena ada libur panjang, perayaan natal dan tahun baru yang bisa memicu inflasi. Namun laju tekanan inflasi hingga akhir tahun ini bisa saja berada dalam rentang 2% hingga 3%. Namun, deflasi yang disumbangkan dari bawang merah saat ini tentunya tidak diharapkan.

"Harga bawang merah sudah sangat rendah, yang sudah pasti petani kita dirugikan dengan penurunan harga bawang merah tersebut. Kita tentunya berharap bawang merah harganya bisa naik lagi, sehingga petani kita terlindungi daya belinya," pungkasnya. (kl9)

Komentar Anda

Berita Terkini