LARISPA


MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT# DIJUAL SEBIDANG TANAH DI DISKI KECAMATANG SUNGGAL KABUPATEN DELISERDANG, UKURAN 12M x 18M, SK CAMAT HARGA Rp. 100JUTA, BERMINAT HUBUNGI 081370413190 (WAK SU)

Dukung Pelaku Usaha, Kemendag Percepat Implementasi Sistem Resi Gudang Melalui Penyederhanaan Perijinan

harian9 author photo

JAKARTA| H9 
Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku usaha melakukan berbagai langkah strategis untuk mempercepat implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai suatu instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tjahya Widayanti di Jakarta, hari ini, Selasa (3/12).

“Untuk mendorong implementasi SRG, Kementerian Perdagangan telah menyederhanakan prosedur perizinan kelembagaan di bidang SRG. Penyederhanaan tersebut antara lain dalam perizinan gudang, pengelola gudang, Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) dalam SRG, dan Pusat Registrasi,” ujar Tjahya.

Berdasarkan data Bappebti, pada 2009—2018, pemerintah telah membangun 123 gudang SRG secara bertahap yang tersebar di 106 kabupaten/kota pada 25 provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 94 gudang telah mendapatkan persetujuan Bappebti sebagai gudang SRG dan sisanya masih menunggu kesiapan sarana dan kelembagaan. 

Selain itu, terdapat 72 gudang milik swasta/BUMN yang telah disetujui Bappebti sebagai gudang SRG. Gudang-gudang tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Bappebti juga telah memberikan persetujuan kepada 61 pengelola gudang SRG (PT, BUMN, BUMD, dan koperasi), 52 LPK SRG (LPK Inspeksi Gudang, LPK Manajemen Mutu dan LPK Uji Mutu Komoditi), dan 1 pusat registrasi, yaitu PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero).

Sejak 2008—November 2019, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan 3.341 resi gudang dengan total volume komoditi sebesar 110.226,71 ton (84.272,59 ton gabah, 11.849,19 ton beras, 7.599,89 ton jagung, 1.312,57 ton kopi, 4.299 ton rumput laut, 3,14 ton kakao, 31,16 rotan, 701,73 ton garam dan 157,43 ton lada) dan total nilai komoditi mencapai Rp.718,19 miliar.

Menurut Tjahya, pemanfaatan SRG dari tahun ke tahun menunjukkan pertumbuhan yang fluktuatif. Nilai transaksi resi gudang tertinggi terjadi tahun 2014. Saat itu, diterbitkan 605 resi gudang dengan volume 21.649,27 ton komoditi senilai Rp.116,51 miliar.

“Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa para pelaku usaha semakin berminat memanfaatkan SRG sebagai instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan,” ungkap Tjahya.

Pembiayaan resi gudang juga telah dilakukan oleh beberapa lembaga keuangan dan perbankan seperti BRI dan Bank Pembangunan Daerah maupun Lembaga Keuangan Non-Bank, yaitu PKBL PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.

Pada 2008—November 2019, nilai kumulatif pembiayaan yang telah dicapai sebesar Rp.414,21 miliar. Sedangkan, pada 2019, terdapat sebanyak 246 resi gudang yang diagunkan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp.54,44 miliar.

SRG berpotensi memberikan kontribusi terhadap pembangunan sektor industri dan perdagangan berbasis sumber daya lokal. Pembangunan tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme yang meningkatkan akses pasar dan ketersediaan informasi mengenai stok dan mutu komoditi, termasuk informasi harga.

Peraturan Menteri Perdagangan No. 33 Tahun 2018 tentang Barang Yang Dapat Disimpan di Gudang SRG menetapkan sebanyak 17 komoditi yang dapat disimpan dalam gudang SRG. Komoditi tersebut adalah gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut, rotan, garam, gambir, teh, kopra, timah, bawang merah, ikan dan pala. 

“Namun, tidak tertutup kemungkinan nantinya komoditi yang dapat disimpan dengan skema SRG akan bertambah,” jelas Tjahya.

Pemberian Subsidi Bunga Kredit Resi Gudang

Untuk meringankan beban bunga bank dalam pemanfaatan SRG, khususnya bagi petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani dan koperasi, pemerintah memberikan Subsidi Bunga Kredit Resi Gudang (SSRG).

Beban bunga bagi peserta S-SRG ditetapkan sebesar 6 persen per tahun. Selisih tingkat bunga S-SRG dengan beban bunga peserta S-SRG merupakan subsidi pemerintah. Subsidi bunga diberikan selama masa jangka waktu S-SRG paling lama 6 bulan.

Subsidi bunga ini akan disalurkan melalui bank-bank pelaksana yang ditunjuk pemerintah yaitu BNI, BRI, BJB, Bank Jateng, Bank Jatim, Bank Kalsel, Bank Sumsel Babel, dan Bank Lampung.

“Beberapa SRG yang telah dianggap sukses berperan dalam membantu petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani dan koperasi, diantaranya SRG di Wonogiri, SRG Grobogan, SRG Cianjur, SRG Aceh Tengah, dan SRG Barito Kuala. SRG yang sudah berjalan dengan baik ini diharapkan bisa menjadi contoh pengembangan SRG di wilayah Indonesia lainnya,” pungkas Tjahya. (rel/03)

Komentar Anda

Berita Terkini