LARISPA


MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT# ANDA PUNYA BAKAT MENULIS PUISI, ARTIKEL, KARYA ILMIAH DAN TULISAN LAINNYA, SERTA INGIN DIMUAT DI KANTOR BERITA HARIAN9 INI, SILAHKAN KIRIM tulisan ANDA VIA EMAIL redaksiharian9@gmail.com

Bersinergi dalam Melindungi Perempuan dan Anak, Media Harian9 Raih "Thanks" Akhir Tahun From Puspa Sumut

HARIAN9 author photo


MEDAN| H9
Secara nasional catatan akhir tahun (CATAHU) 2019 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melaporkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP) dilaporkan meningkat sebesar 14%, jumlah kasus KTP 2019 sebesar 406.178, meningkat dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu 348.466 kasus[1]. Kasus kekerasan dalam rumah tangga/ranah personal (KDRT/RP) masih menjadi masalah serius karena tercatat sebagai angka kekerasan paling tinggi yang dilaporkan, mencapai angka 71% (9.637), dengan jenis kekerasan seksual paling banyak dilaporkan.

Ketua Puspa Sumut, Misran Lubis mengatakan, situsi di tingkat lokal Sumatera Utara juga menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan situasi nasional. Data dari lembaga layanan perempuan dan anak Mitra FK PUSPA Sumut dan Data Laporan SIMFONI KPPPA RI untuk wilayah Sumatera Utara,  menujukkan data bahwa kasus kekerasan seksual diruang personal atau KDRT masih mendominasi. Dari data yang tercatat/dilaporkan 651 kasus, sekitar 52% adalah kasus adalah kekerasan seksual.

Jika dibandingkan dengan laporan yang tecatat di data SIMFONI tahun 2018, jumlah kasus di Sumatera Utara yang dilaporkan menurun hampir 30%, dari 923 kasus tahun 2018 menjadi 651 kasus tahun 2019. Daerah di Sumatera utara yang banyak melaporkan kasus KTP dan KTA adalah Kota Medan (88), Deli Serdang (74), Labuhan Batu Utara (37), Serdang Bedagai (37) dan Batu Bara (34).


Lembaga-lembaga mitra FK PUSPA Sumut sepanjang tahun 2019, sedikitnya telah menerima pengaduan dan memberikan pelayanan bantuan hukum, konseling dan bentuk pendampingan lainnya kepada lebih dari 830 perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.


"Dari data laporan mitra PUSPA Sumut tersebut, kasus kekerasan fisik sangat mendomisasi yakni 528 kasus (68 %), sedangkan kasus kekerasan seksual menurun dari tahun 2018, yakni 90 kasus (11%), dan kasus TPPO  naik menjadi 161 kasus (21%). Dari 90 kasus kekerasan seksual 97% nya (84 kasus) masih usia anak, bahkan diantara masih berusia dibawah 5 tahun (16%). Korban kekerasan seksual tidak hanya perempuan, tapi termasuk anak laki-laki, terutama anak laki-laki usia 6-12 tahun," katanya belum lama ini.

 Pelaku kekerasan paling tinggi adalah SUAMI, dalam bentuk kekerasan fisik, dan secara umum kekerasan diruang personal (KDRT) paling dominan, baik kekerasna seksual maupun kekerasa fisik. Selain suami, pelaku kekerasan tertinggi juga dilakukan oleh tetangga (12%). Selain itu ada juga ayah, teman, kakek, saudara kandung, ASN, dan orang yang tidak dikenal.

"Sampai dengan Desember 2019, FK PUSPA Sumut mencatat ada 73 organisasi masyarakat yang melakukan berbagai bentuk layanan kepada perempuan dan anak, mulai dari bantuan hukum bagi korban perempuan dan anak, bantuan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), dan layanan sosial kepada anak-anak termarjinalkan, pendidikan bagi perempuan, dan berbagai kegiatan peninkatan kapasitas dan akses perempuan terhadap ekonomi," ujarnya.

Layanan organisasi masyarakat yang lebih banyak difokuskan pada upaya-upaya pencegahan dengan meningkatkan kesadaran, pendidikan formal dan non-formal, pemberdayaan ekonomi, membentuk komunitas-komunitas peduli perempuan dan anak, merupakan strategi yang diperankan oleh Forum PUSPA, agar upaya memutus mata rantai kekerasan dapat dilakukan dari tingkat keluarga dan masyarakat. Selama 2019, sedikitnya 8.949 orang mendapatkan layanan dari Lembaga Masyarakat mitra FK PUSPA Sumut dan Pemerintah dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Berikut ini adalah rekapitulasi layanan Forum Komunikasi PUSPA Sumut bersama lembaga-lembaga mitra yang tersebar di beberapa kabupaten/kota:

"Konstribusi untuk pemberdayaan, perlindungan, dan layanan bagi perempuan dan anak, juga didukung oleh sejumlah lembaga media, akademisi dan sektor bisnis. Mereka tidak hanya berperan dalam fungsi pokoknya, namun melampaui (beyond) dari peran dasar. Misalnya saja organisasi media seperti DAAITV, Elshinta, Analisadaily, RRI Medan, TVRI Sumut, harian9.com, Suara MAHARDIKA, dan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam FJPI menunjukkan perannya, beyond dari peran-peran jurnalis," ujarnya.

Konstribusi-konstribusi ini tentu sangat berpengaruh besar, tidak saja dalam upaya-upaya pencegahan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, namun juga menghindarkan banyak anak-anak dari paparan narkoba, pornografi, free sex, pernikahan anak dan berbagai tindakan kriminalitas di komunitas anak. 

"Sisi lainnya juga memberikan edukasi dan menyebarkan inspirasi-inspirasi dari berbagai praktik baik yang dilakukan individu maupun organisasi di akar rumput. Secara khusus FK PUSPA Sumut memberikan apresisasi dan ucapan terima kasih yang tak ternilai kepada sahabat media," pungkasnya.(Jae9)



Komentar Anda

Berita Terkini