LARISPA


MOTO HARIAN9 ADALAH "MENCERDASKAN UMAT# ANDA PUNYA BAKAT MENULIS PUISI, ARTIKEL, KARYA ILMIAH DAN TULISAN LAINNYA, SERTA INGIN DIMUAT DI KANTOR BERITA HARIAN9 INI, SILAHKAN KIRIM tulisan ANDA VIA EMAIL redaksiharian9@gmail.com

Pekan Pertama Januari, Harga Pangan di Sumut Mahal

HARIAN9 author photo

MEDAN| H9
Sampai pekan pertama bulan januari 2020. Harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat belum mengalami penurunan dan bergerak landai sejak tahun baru. Harga cabai merah dijual di level 36 ribu per Kg, sementara bawang merah masih dijual dikisaran 40 ribu per Kg, bawang putih 32 ribu per Kg dan cabai rawit dijual di kisaran 40 ribu per Kg.

Seperti yang dikatakan Ketua Pemantau Pangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan harga daging ayam dijual di harga 33 ribu per Kg, sementara telur ayam dijual dikisaran harga 22.500 per Kg nya. Harga sejumlah kebutuhan pokok tersebut masih bertahan mahal hingga saat ini. Dan semua bahan pokok itu masih terus menyumbangkan besaran inflasi sejauh ini. Meskipun sedikit lebih murah dibandingkan dengan harga saat satu hari sebelum tahun  baru.

"Akan tetapi jika membandingkan rata-rata di bulan desember, sejauh ini harga rata-rata bahan pokok di SUMUT masih jauh lebih mahal. Untuk bawang merah harganya mahal dikarenakan oleh beberapa wilayah di jawa tengah yang kebanjiran mengakibatkan sejumlah wilayah gagal panen bawang merah. Dikarenakan bawang merah naik, mengakibatkan bawang putih juga mengalami kenaikan harga yang sama," katanya, Kamis (9/1/2020)

Selanjutnya, harga cabai juga dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi mengakibatkan petani enggan untuk memanen dan gangguan pasokan terjadi. Distribusi dan produksi mengalami gangguan. Alhasil cabai merah yang awalnya naik terlebih dahulu saat ini diikuti dengan cabai jenis lainnya.

"Untuk masalah cabai ini saya pikir akan teratasi seandainya nanti cuaca kembali bersahabat. Dan kita berharap cabai merah di januari bisa kembali normal dalam rentang harga 27 hingga 33 ribu per Kg nya. Untuk harga daging ayam maupun telur ayam yang belum juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan tren konsumsi babi menurun di masyarakat," ujarnya.

Untuk penurunan ini sebaiknya perlu kita cermati dengan serius. Mengingat ada beberapa permasalahan mendasar. Pertama tren konsumsinya menurun akibat serangan virus, atau memang kedua populasi babi yang semakin terancam jumlahnya. Kedua penyebabnya tersebut akan membuat harga daging subtitusinya berpeluang mengalami kenaikan. Seperti halnya daging ayam dan telur ayam.

"Januari sejauh ini akan menyumbangkan inflasi. Terlebih inflasi yang sudah pasti sumbangkan oleh kenaikan harga rokok. Sejauh ini sulit berharap kalau SUMUT tidak akan terjadi inflasi di Januari. Dan kita berharap inflasi di awal januari tidak signifikan layaknya tahun kemarin dimana inflasi di 8 bulan pertama mencapai 5.4%," katanya.

Indikasi inflasi SUMUT di awal tahun ini memang menunjukan adanya laju tren inflasi yang besar. Tetapi kita harap jauh lebih baik dari tahun kemarin. 
"Memang kita sudah terlatih dan terbiasa laju inflasi bergerak naik turun  dengan sangat tajam (berfluktuasi). Tetapi laju inflasi bagai roller coaster tersebut kerap memunculkan kepanikan tersendiri di tengah masyarakat. Secara keseluruhan saya masih optimis nantinya Inflasi SUMUT akan sesuai dengan sasaran Bank Indonesia. Yakni 3% plus minus 1%," pungkasnya.(jae9)
Komentar Anda

Berita Terkini