-->

BI Sumut Catat IHPR Meningkat 0,5 Poin di Triwulan IV/2019

HARIAN9 author photo

MEDAN| H9
Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat  mengatakan, BI Sumut telah  mencatat bahwa pada triwulan IV 2019, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) meningkat 0,5 poin dari 7,1 persen (triwulan III 2019) menjadi 7,6 persen. 

"Berdasarkan Survei Bank Indonesia yakni Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer, indeks harga rumah ukuran menengah dan besar mengalami peningkatan, sementara indeks harga rumah dengan kategori kecil stabil dibandingkan triwulan III 2019," katanya, Senin (10/2/2020).

Dikatakannya, untuk Survei Harga Properti Residensial (SHPR) sekunder, harga rumah untuk segmen menengah mengalami kenaikan nilai pasar 0,4% (qtq), dari Rp1,062 miliar (triwulan III 2019) menjadi Rp1,066 miliar (triwulan IV 2019). 

"Sementara, pada segmen menengah atas, kenaikan nilai pasar relatif terbatas sebesar 0,06% (qtq), dari Rp3,203 miliar menjadi Rp3,205 miliar (triwulan IV 2019). Harga tanah rata-rata untuk segmen menengah mencapai Rp6,03 juta/m2 atau meningkat 0,4% (qtq). Sementara harga tanah untuk segmen menengah atas Rp6,12 juta/m2 atau meningkat 0,1% qtq). Properti sekunder masih belum dilihat kembali sebagai peluang investasi yang baik sehingga belum terjadi perubahan yang berarti di sektor ini," katanya.

Investor masih lebih tertarik pada properti primer dibandingkan sekunder karena return dari investasinya masih cukup tinggi. Sementara, sektor sekunder di awal tahun 2020 diperkirakan masih diminati oleh end-user dalam jumlah yang terbatas yang mencari
rumah dengan lokasi yang baik serta harga yang masih lebih bersaing dibandingkan properti primer.

"Untuk Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU), pada triwulan IV 2019, saldo bersih tertimbang kegiatan dunia usaha di Provinsi Sumut masih mencatat perbaikan, meski masih menunjukkan arah penurunan penjualan. Namun, performa dunia usaha diperkirakan akan mengalami perbaikan pada triwulan I 2020. Kinerja berbagai sektor utama juga mencatat pelemahan, diantaranya sektor Pertanian, Industri Pengolahan dan Konstruksi," jelasnya.

Untuk Survei Pemantauan Harga (SPH) hingga pekan pertama Februari 2020 menunjukkan adanya penurunan harga dibandingkan periode Januari. Berdasarkan SPH Februari 2020, penyumbang deflasi berasal dari komoditas daging ayam ras, angkutan udara dan ikan tongkol. Sementara, penyumbang inflasi berasal dari komoditas cabai merah, bawang putih dan bawang merah.

"Sementara, untuk Survei Konsumen (SK), KPw BI Provinsi Sumut mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi pada Januari 2020 terjaga pada level optimis (>100) meski lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Melemahnya optimisme konsumen disebabkan pelemahan pada kedua komponen pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK)," ujarnya.

Sedangkan Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2019 tumbuh 3,66% (mtm). Peningkatan penjualan eceran terjadi di seluruh kategori, dengan peningkatan tertinggi pada kelompok peralatan, informasi dan komunikasi serta makanan, minuman dan tembakau. 

"Meski demikian, penjualan eceran pada Desember 2019 tidak setinggi tahun 2018. Terindikasi dari pertumbuhan IPR yang turun 9,45% (yoy),"pungkasnya. (jae9)
Komentar Anda

Berita Terkini