PPK


LARISPA


Bupati Sergai: Pluralisme, Toleransi Lahirkan trust Terhadap Perjalanan Pembangunan Kebudayaan

HARIAN9 author photo

BANJAR MASIN |H9
Dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020, Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman didaulat menjadi narasumber pada Dialog Kebudayaan bersama 9 Bupati/Walikota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat di Hotel Mercure Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (7/2/2020).

Dialog kebudayaan ini dibuka oleh Menteri Koordinator PMK Prof Dr Muhajir Efendi MAP dan dihadiri juga Ketua Dewan Pers Prof Dr M Nuh, Ketua PWI Pusat Atal S Depari beserta ketua Panitia Dialog Kebudayaan Yusuf Susilo Hartono.

Sedangkan peserta dialog kebudayaan sekitar 100 orang terdiri dari para wartawan daerah dan wartawan di Provinsi Kalimantan Selatan, OPD pendamping 10 Bupati/Walikota penerima Anugerah Kebudayaan.

Bupati Soekirman juga diagendakan akan menerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat yang akan diserahkan oleh Menko PMK Prof Dr Muhajir Efendi MAP dihadapan Presiden RI Joko Widodo pada hari Sabtu (8/2/2020) bertempat di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan. 

Mengawali dialog kebudayaan tersebut, Bupati Sergai Ir H Soekirman menyampaikan dengan berpantun, yang diyakininya dapat  terus melestarikan budaya di Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat dan langsung disaksikan oleh seluruh tamu undangan termasuk Menko PMK, Jajaran Dewan Pers dan Pengurus PWI Pusat.  

Bupati yang hadir didampingi Kadis Kominfo Drs H Akmal, AP, M Si mengungkapkan kekhawatirannya terhadap modal sosial bangsa ini yang semakin hari semakin tergerus. Modal sosial itu diantaranya berupa pluralisme, yang seharusnya sejalan dengan toleransi. 

Toleransi yang dimaksudkan sebagai modal sosial harus juga bisa melahirkan "trust" atau kepercayaan terhadap perjalanan pembangunan kebudayaan yang pada akhirnya akan menguatkan kohesivitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Oleh karenanya lanjut Bupati, dengan adanya  toleransi serta kepercayaan dapat membangun daya tarik secara emosional sesama anggota kelompok, dimana adanya saling menyukai, membantu dan secara bersama sama saling mendukung untuk tetap bertahan dalam kelompok dalam mencapai satu tujuan.

Untuk dapat mewujudkan itu semua, ungkap Bupati Soekirman, bahwa Kabupaten Sergai yang multi etnis, sudah bentuk Kampung Budaya, hal itu sebagai tindak lanjut dari Undang Undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. 

"Di Sergai telah terbentuk Kampung Budaya Melayu, Jawa, Bali, Banjar serta Kampung Budaya Batak, dari kelima kampung budaya tersebut memiliki tujuan agar keberagaman terus berkembang dan menciptakan toleransi,"ungkap Soekirman.

Dijadikannya kampung budaya itu, kata Bupati, karena dalam kehidupan kesehariannya masih ada hal-hal tradisi yang menonjol terhadap budaya di setiap kampung budaya yang ada. 

"Walaupun tidak semua masyarakat yang ada di kampung budaya tersebut bersuku yang sama, namun tradisi suku yang menonjol itu masih tetap ada dan lestari dibudayakan menjadi tradisi," tandas Soekirman. 

Sedangkan Menko PMK Muhajir Efendi, saat membuka dialog mengutarakan bahwa hanya manusia yang berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Karena manusia mempunyai daya cipta yang disebut akal budi. Budaya itu terletak di alam fikiran setiap orang, sehingga manusia mempunyai kemampuan mencipta. 

Menko PMK menyatakan bahwa dengan akal budi bisa mengangkat manusia pada derajat yang tinggi, namun bisa juga sebaliknya menjatuhkan manusia seburuk mungkin. 

"Oleh karena itu, nilai nilai budaya seperti kebenaran, kebajikan dan nilai keindahan harus menjadi tolok ukur logika, etika dan estetika. Ini semua akan menjadikan budaya kita menjadi benar atau salah, baik ataukah buruk," pungkasnya.

Ketua Dewan Pers Prof Dr M Nuh menyampaikan bahwa pembangunan dengan pendekatan kebudayaan ini akan sangat berbeda dengan pembangunan melalui pendekatan politik. 

Pembangunan dengan pendekatan kebudayaan dimaksudkan, kata M. Nuh, untuk mencari persamaan sebagai modal sosial dalam pembangunan. Sedangkan pembangunan dengan pendekatan politik lebih cenderung pada mencari perbedaan. 

"Tentunya akan lebih cepat berhasil dan maju membangun dengan pendekatan budaya, karena persamaan yang menjadi titik awal bermulanya,"ungkap Ketua Dewan Pers.

Pada akhir dialog kebudayaan semua peserta dan narasumber 10 Bupati/Walikota bersepakat untuk mendorong kebudayaan agar menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan daerah masing-masing.(Bidi9) 
Komentar Anda

Berita Terkini