Kerajinan Anyaman Bambu, Ekonomi Kreatif Potensial Di Desa Ini

HARIAN9 author photo

MALANG| H9
Lembaran bambu siap anyam, terlihat disepanjang jalan pedesaan menuju situs purbakala yang diyakini warga setempat berwujud candi. 

Bambu tersebut diletakkan di teras-teras atau pekarangan rumah warga, sebagian masih berwujud batang bambu, dan sebagian lagi sudah berbentuk lembaran. Bambu itu memang sengaja ditaruh didepan rumah, untuk dikeringkan selama beberapa hari.

Salah satu pengrajin, Paidi (62 thn) warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, melakukan aktifitas rutin harian menganyam bambu, kamis (20/2/2020).

Disebut Paidi, ada 2 jenis anyaman bambu yang ditekuni hingga hari ini, tampah dan tompo, keduanya adalah perlengkapan rumah tangga tradisional. 

Ditambahkannya, ada 19 orang yang berprofesi sama dengannya, yaitu pengrajin anyaman bambu. Namun, tidak semua membuat jenis yang sama, tergantung fokus jenis anyaman masing-masing dan kebutuhan pasar.

Harga jual tiap tampah di pasar tradisional mencapai Rp 20.000,- dan dalam sehari Paidi sanggup menyelesaikan 8 buah tampah. Dalam pembuatannya, tiap 1 batang bambu, bisa dibuat tampah sebanyak 15 buah.

Waktu pengeringan bambu berbeda-beda, tergantung kondisi, bila musim kemarau, bambu 
cukup dikeringkan selama 5 hingga 8 hari. Tetapi, ketika musim hujan, dibutuhkan waktu 15 hari untuk mengeringkannya.

Selain tampah, ada tompo, dan tompo ini ada 3 ukuran berbeda. Tompo ukuran kecil, harga jual di pasar tradisional mencapai Rp 7.500,- dan dalam sehari bisa diselesaikan sebanyak 20 buah tompo.

Tompo ukuran sedang, harga jualnya mencapai Rp 15.000,- dan bisa dibuat 15 buah dalam sehari. Sedangkan tompo ukuran besar, harga jualnya menembus angka Rp 40.000,- dan dalam sehari bisa diselesaikan 10 buah.

Kebutuhan batang bambu, berbeda ukuran, berbeda juga banyaknya tompo. 1 batang bambu bisa menghasilkan 50 tompo ukuran kecil, atau 30 tompo ukuran sedang, atau 20 tompo ukuran besar.

Pangsa pasar anyaman bambu berbagai jenis di desa ini, menembus pasar Malang, Kediri dan Jombang. Umumnya, pedagang pasar mendatangi langsung rumah-rumah warga, sekaligus melakukan transaksi jual beli. (dodik)

Komentar Anda

Berita Terkini