LARISPA


Banyak Teori Ekonomi Kadaluarsa

HARIAN9 author photo

MEDAN| H9
Kondisi pasar tradisional pada hari ini terlihat sepi. Dari pantauan dilapangan, terdapat 15 hingga 20% pedagang yang tidak berjualan di pasar tradisional. Sementara pedagang yang masih bertahan mengeluhkan sulitnya mereka mendapatkan pembeli. 

"Pembeli yang kita tanyai menyatakan bahwa penjualannya merosot antara 30% hingga 50%. Ditutupnya sejumlah toko di pasar tradisional ternyata tidak membuat pedagang yang tetap berjualan mendapatkan kenaikan omset," kata Ketua Pemantau Pangan Sumut, Gunawan Benjamin, Senin (23/3/2020).

Tidak terbayang jika semua pedagang seandainya tetap berjualan. Bisa jadi omset di setiap pedagang bisa turun di bawah 50%. Mobilitas masyarakat menurun drastis pada perdagangan hari ini. 

"Dan saya menilai upaya untuk meredam penyebaran covid-19 di pasar tradisional terbilang sangat sulit," ujarnya.

Gunawan menyatakan demikian, dikarenakan pasar tradisional ini menjadi tempat yang menyediakan kebutuhan dasar masyarakat dimanapun. 

Sekalipun saat ini kondisinya sepi, saya yakin masyarakat akan tetap datang ke pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (makan). 

Bahkan jika dibandingkan dengan listrik sekalipun, masyarakat akan lebih mampu bertahan tanpa adanya listrik, dibandingkan tanpa adanya pasokan bahan makanan.

Kalau pusat perbelanjaan modern seperti mall, supermarket, swalayan atau apapun itu, mungkin berpeluang mengalami penurunan omset yang signifikan. Namun dampaknya kecil buat masyarakat kita. 

"Tetapi bayangkan jika pasar tradisional ini mengalami “kelumpuhan” karena covid 19. Bukan tidak mungkin kita akan terpuruk pada masalah ekonomi yang kian sulit diuraikan," katanya.

Pasar tradisional menjadi benteng dan indikator dalam melihat ketahanan pangan masyarakat yang paling akhir. Sejauh ini harga sejumlah kebutuhan pokok masih terbilang stabil. Bahkan ada yang cenderung turun seperti daging ayam, dan cabai. Tetapi kondisi ini sangat bertentangan dengan teori ekonomi, dimana saat harga turun maka konsumsi naik.

Yang terjadi saat ini adalah harga turun, konsumsi juga mengalami penurunan. Semua teori ekonomi terllihat kadaluarsa berhadapan dengan covid-19. 

Bahkan berbicara mengenai kondisi serius tahun 97/98 yang membuat pelemahan rupiah memicu kenaikan harga pangan. Saat ini pengalaman tersebut tidak terbukti berulang. Justru Rupiah sudah diatas 17 ribu per US Dolar, harga pangan cenderung turun.

"Kembali lagi, memang di perkotaan terjadi eksodus masyarakat akibat aktifitas bisnis maupun layanan umum seperti pabrik, perkantoran, sekolah berhenti karena covid-19. Sehingga menghempaskan permintaan akan komoditas pangan. Tetapi petani saat ini yang dirugikan, ekonomi kita saat ini bukan mendapatkan pukulanberat dari daya beli masyarakat,"ujarnya.

Tetapi nanti pada akhirnya jika mobilitas masyarakat terus turun. Bukan tidak mungkin daya beli masyarakat akan anjlok, dan bisa menimbulkan masalah kronis lainnya.(PP-04)

Komentar Anda

Berita Terkini