Pers Covid19


LARISPA


BPCB Belum Memastikan Temuan Terbaru di Malang Berwujud Candi

HARIAN9 author photo

MALANG| H9
Hujan yang terus menerus mengguyur kawasan lereng Gunung Arjuno, mengakibatkan terjadinya longsoran tanah di bukit yang secara administratif terletak di Dusun Gagar, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Akibat longsoran tanah, benda-benda purbakala bermunculan di areal yang disebut warga setempat, zona angker, lantaran sering terlihat penampakan sosok yang diduga makhluk astral.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono, membenarkan keberadaan benda purbakala di Kabupaten Malang, namun ia belum dapat memastikan wujud atau rupa benda tersebut. 

"Belum ada penelitian yang lebih mengarah ke candi, masih sebatas dugaan, dugaan itu bersumber dari warga setempat, bukan dari BPCB, butuh penelitian lanjutan," kata Wicaksono (sabtu,21/3/2020).
Ia juga sudah mengontak pihak Pemdes Tulungrejo, agar menjaga benda purbakala tersebut, dengan mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan ke areal penemuan benda purbakala.

"Kita sudah mengontak, jangan sampai ada yang memindahkan, apalagi mengambilnya, itu tidak dibenarkan, semua ada prosedurnya," kata Wicaksono.

Lanjutnya, segala penemuan benda purbakala hanya diperbolehkan digali oleh pihak otoritas yang berwenang, dalam hal ini BPCB.

"Diharapkan segera melaporkan temuan tersebut ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, BPCB Jatim dan Polsek setempat, sesuaikan prosedur yang berlaku, agar segera ditindaklanjuti laporan penemuan tersebut," ujar Wicaksono. 

Sementara itu, Kades Tulungrejo, Muliadi membenarkan informasi keberadaan benda-benda purbakala tersebut. Menurutnya, ada 5 kali penemuan di sekitar bukit yang berada di Dusun Gagar.

"Penemuan pertama, masih beberapa batu bata kuno, ditemukan bulan Desember 2018. Penemuan kedua juga sama, cuma beberapa saja, itu pada bulan Januari 2020. Penemuan ketiga pada bulan Februari 2020, tapi jumlahnya sedikit, kondisinya berserakan. Bulan Maret 2020, itu penemuan keempat, lebih banyak dari yang pertama sampai ketiga," jelas Muliadi.

Terkait penemuan kelima, Muliadi cukup kaget, karena terlihat batu bata kuno yang sudah tersusun. Batu bata kuno itu terbuat dari bata merah, tersusun sepanjang 2 meter lebih, dengan ukuran 42 centimeter.

"Warga menduga, itu candi, benar tidaknya itu candi, tergantung hasil penelitian pihak yang berwenang menanganinya, kita pasrahkan semua hasilnya," kata Muliadi.

Ia mengaku akan segera menyelesaikan prosedur pelaporan penemuan benda-benda purbakala di desanya. Ia berharap, penemuan itu bisa mengungkap rahasia sejarah di areal bukit yang konon dipenuhi misteri, mitos dan mistis.

"Lokasi tempat ditemukannya benda-benda purbakala ini, sangat angker, jarang ada yang berani kesana. Ditemukannya benda-benda purbakala, kita duga akibat hujan yang terus menerus terjadi," pungkas Muliadi. (dodik)
Komentar Anda

Berita Terkini