-->

Ajang Good Design Indonesia Perkuat Produk Ekspor Indonesia di Pasar Global

harian9 author photo

JAKARTA| H9
Kementerian Perdagangan (Kemendag) Selasa (23/06) merilis, di tengah pandemi COVID-19, Kementerian Perdagangan tetap konsisten memperkuat pelaku usaha melalui pengembangan produk ekspor dengan menggelar ajang Good Design Indonesia (GDI). Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional menyeleksi sebanyak 89 peserta dari 251 peserta yang lulus di tahap sebelumnya. Pengujian tahap akhir ini dilaksanakan selama tiga hari pada 16-18 Juni 2020 di Auditorium Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI), Jakarta.

Pelaksanaan dan penjurian GDI 2020 kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan tim juri dan peserta, penjurian dilakukan secara luring dan virtual secara bersamaan. Para pemenang akan menyabet predikat “GDI of the Year”, “GDI Best”, dan “Good Design Indonesia” yang akan diumumkan pada akhir Juni 2020.

“Dalam kondisi sulit seperti ini, kami terus berupaya menumbuhkan semangat para pelaku bisnis untuk lebih meningkatkan nilai tambah produk mereka melalui pengembangan desain,” ujar Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kasan.

Ia menegaskan, pandemi COVID-19 tidak menyurutkan semangat pelaku bisnis Indonesia untuk terus berkarya. 

“Semangat ini penting ditumbuhkan guna memajukan produk lokal agar bisa menembus pasar internasional dan bersaing di kancah global, sehingga dapat meningkatkan ekspor nonmigas Indonesia,” ujarnya.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Olvy Andrianita mengungkapkan, ada empat kriteria utama dalam penilaian, yaitu kreativitas dan inovasi baru, laku terjual di pasar domestik dan internasional, memiliki dampak sosial yang baik, dan berkelanjutan di tingkat rantai pasok.

Dalam penjurian tahap ini, 37 peserta hadir langsung ke Jakarta dan 46 peserta hadir secara virtual dengan tetap mengirimkan produk yang diperlombakan. Sisanya 6 peserta berhalangan hadir dan tidak mengirimkan produk desainnya.

Pada GDI 2020, lanjut Olvy, Tim Juri GDI menilai secara langsung melalui pengamatan fisik desain, produk, dan konsep desain yang dilombakan serta mendengarkan pemaparan dari masing-masing peserta. Selain itu, tim juri juga melihat bagaimana peserta dalam menerima kritik dan masukan dari juri untuk perbaikan desain produknya.

“Saya yakin dengan desain yang inovatif dan inspiratif, produk ekspor Indonesia yang dikerjakan dari tangan-tangan terampil anak-anak bangsa akan tetap unggul dalam persaingan global,” imbuh Olvy.

Tahun ini, Tim Juri GDI diketuai Presiden International Council for Small Business (ISBC) Indonesia sekaligus Deputy Chairman-Mark Plus Inc, Jacob Silas Mussry. Sedangkan anggota tim juri terdiri dari Former Chairman Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), Dino Fabriant; Sekretaris Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) sekaligus pendiri Mira & Associates, Mira Prihatini; Editor in Chief Femina dan Editorial Director Prana Group, Petty S. Fatimah; Executive Officer R&D Directorate PT Astra Daihatsu Motor, Pradipto Sugondo; Creative Director PT Parama Bayu Kreasi, Rama Soeprapto; Owner Shigeki Fujishiro Designer sekaligus perwakilan juri Good Design Award (GDA 2020), Shigeki Fujishiro; Konsultan Pemasaran Digital dan Dosen Paska Sarjana LSPR Communication & Business Institute, Tuhu Nugraha Dewanto;  Co-Founder Arcadia Architect & M Bloc Space, Jacob Gatot S.; dan Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag, Olvy Andrianita. 

Perwakilan juri Good Design Award dan tim pengamat (observer) dari Japan Institute of Design Promotion, biasanya hadir ke Jakarta pada tahun-tahun sebelumnya untuk penjurian tahap ini.

Berbagai karya desain berkualitas yang mengedepankan inovasi dan kreativitas tinggi dengan tingkat ketelitian dan presisi membuat tim juri yang terdiri dari 9 juri dari Indonesia, 1 juri dari Jepang, serta 1 observer dari Japan Institute of Design Promotion (JDP) memiliki tantangan tersendiri dalam menentukan pemenang.

Ketua Tim Juri Jacob Mussry mengaku sangat senang melihat kualitas produk para peserta. 

“Kualitas produk peserta GDI sangat lengkap karena memadukan idealisme dan komersial. Tidak hanya bagus secara desain tetapi juga diminati pasaran (marketable),“ ujarnya.

Keikutsertaan perwakilan juri Good Design Award atau G-Mark pada penjurian GDI tahap ke-2, merupakan realisasi dari program pertukaran juri antara Ditjen PEN sebagai penyelenggara GDI di Indonesia dengan JDP sebagai penyelenggara GDA di Jepang. Ini memperlihatkan bahwa penilaian dan kriteria pemenang GDI sudah sesuai standar global. Namun demikian, para pemenang ini nantinya akan dikurasi lagi untuk mendapatkan pendampingan ekspor (export coaching) demi meningkatkan akses pasar.

Selain itu, Olvy menjelaskan, penjurian GDI di Jakarta ini sekaligus menjadi tahapan seleksi awal sebelum memasuki 2nd screening GDA di Jepang. Produk penerima penghargaan GDI of the Year dan GDI Best akan difasilitasi oleh Ditjen PEN untuk mengikuti tahap seleksi akhir GDA pada 18--20 Agustus 2020 di Aichi Sky Expo, Jepang. Fasilitasi tersebut yaitu dari sisi kemudahan pendaftaran, pengiriman, pembiayaan, dan publikasi melalui GDA Yearbook. Produk-produk GDI tersebut akan berkompetisi dengan para finalis dari negara-negara lain. 

Karena kondisi sulit saat ini di Jepang dan negara lainnya terkait isu COVID-19, maka acara penganugerahan G-Mark ditiadakan.

Selain pasar Jepang, Kementerian Perdagangan juga mendorong produk tersebut dapat memperoleh pasar di negara lainnya melalui penjaringan buyers oleh Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), serta kerja sama dengan ajang desain berkelas dunia lainnya seperti Red Dot dan IF Design Award di Jerman, Gold Pin Design Award di Taiwan, atau Core77 Design Award di Kanada.

Lanjut Olvy, para pemenang juga akan dibantu pemasarannya di dalam negeri melalui kerja sama antara Ditjen PEN dengan Alun-Alun Indonesia di Jakarta yang direncanakan berlangsung pada September 2020. Platform Menuju Pasar Global GDI bukan sekedar ajang desain semata yang memberikan hadiah berupa uang bagi pemenang. Visi GDI adalah menjadi platform bagi desainer dan pelaku usaha lokal menuju pasar global. 

Untuk itu, beberapa stimulus atau bantuan untuk ekspor yang ditawarkan Ditjen PEN kepada para pemenang diwujudkan berupa peluang bisnis, informasi dan peluang pasar ekspor, serta kesempatan promosi, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai upaya mendorong peningkatan ekspor di Indonesia, Ditjen PEN juga memberikan fasilitas bagi pemenang GDI berupa kesempatan membangun kerja sama dagang dengan sejumlah pembeli lokal maupun buyers asing, melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Kasan mengapresiasi kerja sama yang telah dijalin antara Kemendag melalui Ditjen PEN dengan JDP sejak tahun 2017 untuk mengembangkan sektor desain di kedua negara. 

“Dengan terseleksinya produk-produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi dipasar global melalui penyelenggaraan GDI, diharapkan kinerja ekspor nonmigas nasional akan terdongkrak terutama ke pasar Jepang,” ujar Kasan.

Sebagai apresiasi, para pemenang GDI of the Year dan GDI Best tahun ini akan dianugerahi trofi GDI karya Arleta Rachma Wibowoputri, pemenang Kontes Desain Trofi GDI. Terinspirasi dari bentuk dan filosofi obor,  desain baru trofi GDI menampilkan kemewahan material marmer yang bersifat tak lekang oleh waktu. 

Kementerian Perdagangan berharap kreativitas dan inovasi para desainer dan pelaku usaha lokal akan terus berkembang hingga di masa-masa mendatang. Penganugerahan GDI tahun ini rencananya akan dilaksanakan pada September 2020.

Karya Peserta GDI Berkualitas Tinggi

Karya para peserta GDI berkualitas tinggi. Karya-karya tersebut juga sangat kuat pada konsep dan memiliki nilai humanisme yang tinggi.

“Pandemi Covid-19 ternyata tidak mengurangi kualitas karya-karya desain buatan Indonesia. Semua produk memiliki keunggulan masing-masing. Tidak mudah menentukan siapa yang terbaik. Produk atau desain yang terbaik dan dipilih tersebut diharapkan dapat menjadi primadona ekspor dan meningkatkan devisa,” ungkap Olvy.

Sejumlah karya, bahkan sangat menarik dan memberikan inspirasi, seperti produk konstruksi dinding dari keramik, kursi anyaman, lampu dekor dari ritsleting, wadah anyaman kombinasi bambu dan kayu, kursi rotan yang datar, keranjang buah dari anyaman pandan dan daun ilalang, kain syal indigo motif batik berbahan baku katun dan sutera lokal dari ulat yang memakan daun singkong, serta kain syal dari bahan rami yang sangat unik.

Tak hanya itu, desain-desain pada produk kursi minimalis dari kayu tumpuk, travel guitar, tikar anyaman rumput jerami, dan wadah dari bambu juga sangat menarik perhatian juri karena potensi ekspornya tinggi di pasar Jepang dan global seperti Argentina, Brasil, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan.

Yang tak kalah istimewa adalah tas kulit tanpa jahitan yang sudah diekspor ke Jepang dan Amerika Serikat. Begitu pula wadah buah dari daun gebang asal NTT yang sudah diekspor ke AS, Eropa, Australia, Singapura, dan Hong Kong,serta produk-produk dekorasi rumah dari bahan daur ulang yang terinspirasi dari instrumen gamelan dan sudah diekspor ke Asia Tenggara.

Desain produk lain juga tak kalah,seperti desain arsitektur hunian mikro kombinasi plywood dan besi; desain booth pameran yang sudah diekspor ke RRT; peralatan minum the (tea set) yang sudah diekspor ke Singapura; kain rangrang dari Nusa Penida, tas ransel; peralatan elektronik, serta konsep panduan wisata yang dikemas dalam bentuk buku yang menarik karena menampilkan permainan untuk menemukan lokasi tempat wisata dan tempat kuliner.

Di antara peserta GDI tahun ini, terdapat beberapa desainer pemenang GDI dan G-Mark tahun sebelumnya, yang menyajikan inovasi produk berdasarkan kritik dan masukan para juri tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Hanung peserta GDI yang memproduksi gitar, mengaku bangga bisa ikut dalam ajang seleksi GDI 2020. 

“Saya bisa belajar, bertemu dengan para desainer dan tim juri, serta meningkatkan jejaring dengan para desainer di Indonesia. Harapannya mendapat wawasan baru dan belajar dari pengalamanpengalaman para produk desainer sekaligus memperkenalkan produk gitar travel lebih luas lagi,” kata Hanung. 

Ia mengaku sudah membuka cabang distributor di sejumlah kota di Indonesia seperti di Bandung, Jakarta, Bali dan Sidoarjo. Untuk distributor di luar negeri, seperti Singapura dan Australia. (rel/wp.03)

(Foto: Kemendag)


Komentar Anda

Berita Terkini