Akibat Peningkatan Kasus, Perbatasan Aceh Akan Dijaga Ketat

harian9 author photo
ACEH TAMIANG| H9
Kasus Positif Covid-19 di Aceh dalam sepekan kian meningkat, melalui pertimbangan inilah Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh akhirnya memilih untuk menjaga secara ketat perbatasan Aceh dengan provinsi tetangga disejumlah kabupaten. Kegiatan berlangsung di Aula Sekdakab Aceh Tamiang dan dilaksanakan melalui Video Conference bersama empat Forkopimda  yang berada diperbatasan Aceh-Sumut yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subussalam, pada Sabtu (27/06/2020).

Dalam forum tersebut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT mengatakan,"perkembangan terjadinya peningkatan kasus positif Covid-19 akhir- akhir ini, menjadi perhatian serius bagi kita semua sehingga perlu dilakukan langkah strategis dalam penanganannya di Aceh, antara lain melalui pengaturan pergerakan orang pada perbatasan Aceh pada masa adaptasi menuju tatanan normal baru (New Normal),"jelasnya.

“Sebagaimana diketahui bahwa di wilayah Aceh terdapat empat posko perbatasan darat antara Aceh dan Sumatera Utara, yaitu di Aceh Tamiang yang berada di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Seumadam sebagai jalur masuk, dan Terminal Tipe B Kualasimpang untuk jalur keluar. Posko Aceh Tenggara yang berada di Dayah Perbatasan Darul Amin, Posko Subulussalam berada di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Jontor dan Posko Aceh Singkil berada di Desa Lae Balno Kecamatan Danau Paris.

“Berdasarkan hal tersebut, perlu disusun pedoman pergerakan orang pada perbatasan Aceh dalam masa adaptasi menuju tatanan normal baru masyarakat produktif dan aman Covid-19, terutama berkaitan dengan tata laksana, tugas, wewenang dan tanggung jawab Gugus Tugas Aceh dan kabupaten/kota.

Gubernur juga mengatakan,"pertemuan secara virtual yang dilaksanakan hari ini, agar ada kesamaan persepsi dan solusi terkait penanganan Covid-19 di perbatasan Aceh, dengan begitu  mampu menekan kenaikan kasus, sekaligus pengendaliannya dapat dilakukan secara terpadu, terarah dan sistematis,"tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Aceh Tamiang H. T. Insyafuddin, ST menyampaikan,"kami berharap kepada  Gubernur, mengenai janji penyediaan kamera termal yang digunakan untuk melakukan pengecekan suhu tubuh agar memudahkan kerja petugas diperbatasan dan meminta pengadaan Mobile Polymerase Chain Reaction (PCR) keliling atau Mobile Combat Covid-19 yang mampu memberikan hasil pengetesan dalam waktu 40 menit, serta penambahan alat rapid tes,"ungkapnya.

Menanggapi pernyataan Wakil Bupati Aceh Tamiang, Plt Gubernur Aceh mengatakan,"pengadaan kamera termal sudah dipesan dan masih dalam proses, karena pemesannya melalui e-katalog sama halnya juga dengan Mobile PCR. Namun untuk Mobile PCR, tidak untuk dimiliki, tapi akan digunakan secara bergilir dengan melihat daerah mana yang sangat membutuhkan dan semua anggaran harus melewati prosedur yang berlaku serta butuh proses,"jelas Gubernur. (WD-013).


Komentar Anda

Berita Terkini