-->

Covid-19, Bukan Halangan Kemendag dan Pengusaha Tingkatkan Ekspor TPT

harian9 author photo
JAKARTA| H9
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Kasan, mengajak seluruh elemen yang berkepentingan dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berkontribusi aktif memajukan ekspor TPT Indonesia. 

Produk TPT masih menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia yang industrinya turut terganggu sejak terjadi pandemi COVID-19. Untuk itu, diperlukan strategi ekspor tepat guna meningkatkan ekspor TPT, baik dari sisi peningkatan daya saing, relaksasi regulasi, asistensi teknik, dan penguatan promosi.

Hal tersebut disampaikan Kasan saat menjadi pembicara kunci pada web seminar (webinar) bertajuk “Diversifikasi dan Adaptasi Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia pada Tataran Kehidupan Normal Baru” pada Selasa (23/6). 

Hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut yaitu Direktur Pengembangan Produk Ekspor (PPE) Kemendag, Olvy Andrianita; Atase Perdagangan RI di Amerika
Serikat (AS), Wijayanto; Vice President Director PT Pan Brothers Tbk., Anne Patricia Sutanto, dan importir TPT di Amerika Serikat, Metrini Geopani Simatupang dan Emelie Conroy. 

Webinar ini dihadiri lebih dari 230 peserta yang berasal dari kalangan pelaku bisnis, asosiasi, perguruan tinggi, media, dan perwakilan Kementerian/Lembaga terkait, serta Pemerintah Daerah.

“Industri TPT merupakan industri manufaktur nasional yang strategis. TPT memberikan sumbangan devisa ekspor dan merupakan industri padat karya yang menjadi salah satu ‘jaringan pengaman sosial’ dari sisi pendapatan penduduk. Untuk itu, pasar eskpor komoditas TPT harus dipertahankan, terutama setelah terkena imbas merebaknya COVID-19,” ujar Kasan.

Kasan menjelaskan, sejak merebaknya COVID-19, perdagangan tesktil terkena imbas mengingat bahan baku penolong dan aksesori sebagian besar diimpor dari Tiongkok. 

Kondisi pandemi, penerapan karantina wilayah (lockdown) di beberapa negara, dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia, turut mengganggu pasokan dan permintaan industri tekstil Indonesia di pasar lokal dan pasar ekspor. Di pasar domestik terjadi kelambatan pembelian dan omzet pedagang.

Sementara itu, Olvy memaparkan berbagai hambatan industri TPT Indonesia yang teridentifikasi, yaitu hampir 70 persen bahan baku masih impor, daya saing harga rendah, daerah produksi yang masih terpusat di pulau Jawa, belum optimalnya diversifikasi produk, mesin produksi yang sudah tua, serta kurangnya branding bagi produk TPT Indonesia.

Hambatan lain yang dialami komoditas TPT dunia dan Indonesia di tengah pandemi COVID-19, lanjut Olvy, antara lain penurunan tingkat permintaan pada industri TPT, penurunan omzet industri TPT dunia yang mengindikasikan penurunan daya beli konsumen, pembatalan sejumlah acara besar dunia yang menjadi sarana promosi, penutupan sementara destinasi wisata dan toko ritel tekstil, karantina wilayah (lockdown), serta pelemahan ekonomi global dan di sisi lain peningkatan hambatan proteksi

dari negara mitra dagang.

Melalui webinar tersebut, Olvy memaparkan pula strategi diversifikasi dan adaptasi produk ekspor TPT. Pertama, menentukan fokus pasar dan produk ekspor unggulan dengan spesifikasi tertentu, termasuk diversifikasi produk TPT untuk kesehatan seperti masker dan APD; mendorong percepatan penggunaan serat alam sebagai bahan baku industri; serta  (meningkatkan produk fesyen khususnya fesyen muslim.(pr-01)
Komentar Anda

Berita Terkini