FK PUSPA Sumut Tindak Tegas Sekolah Melakukan Acara Siswa Dimasa Pandemic

harian9 author photo
MEDAN| H9
Setiap akhir tahun ajaran pendidikan, ada tradisi yang dilakukan sekolah-sekolah seperti wisuda, perpisahan, study tour dan lainnya. Dalam situasi normal tradisi ini tentu tidak ada masalah selama ada kesepakatan antara sekolah, siswa  dan orangtua siswa. 

Namun pada saat ini seiring berakhirnya tahun ajaran 2019/2020  negara berada dalam situasi pandemic covid-19, maka daerah-daerah yang berstatus zona merah, Oranye dan kuning covd-19 harus ditiadakan. 

Hal ini juga sesuai dengan himbauan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Nadiem Anwar Makarim, pada acara webinar yang dilaksanakan Senin 15 Juni 2020.

Oleh karenya Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) provinsi Sumatera Utara (FK Puspa Sumut) meminta Dinas Pendidikan Sumatera Utara dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara segera mengeluarkan surat edaran larangan acara perpisahan , wisuda, dan acara apapun yang akan mengumpulkan  siswa-siswa ataupun orangtua siswa baik tingkat PAUD sampai SLTA selama Pandemi covid 19. Karena dapat membahayakan anak-anak dan berpotensi menjadi klaster penyebaran virus covid-19. 

Hal ini di sampaikan Misran Lubis selaku penggiat perlindungan anak terkait adanya laporan  dari orangtua siswa dan masyarakat, akan diadakannya acara perpisahan siswa TK Swasta Amal Shaleh yang berada di Jalan Cempaka Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia dengan melakukan study tour ke pemandian alam sejuk dan ke kebun teh Sidamanik yang rencananya akan di laksanakan pada hari Kamis (18/6) dengan mewajibkan seluruh siswa/i TK tersebut.

Misran menjelaskan bahwa hal ini diluar nalar dikarenakan di masa pandemi ini untuk proses belajar mengajar di lakukan dari rumah dan mengapa justru pihak sekolah mewajibkan untuk ikut dalam study tour dengan konsekwensi bagi yang tidak ikut serta tetap di wajibkan membayar biaya sebesar Rp. 250.000.

"Sejak di publis di media sosial terkait rencana study tour TK Amal Shaleh, tersebut ternyata ada beberapa laporan lain dari masyarakat dengan hal sama baik di kecamatan lain yang ada di kota Medan maupun di luar kota Medan, salah satu nya yang terjadi di Medan Labuhan, Martubung. Mungkin saja masih ada banyak modus yang sama yang di lakukan pihak sekolah namun orang tua tidak berani dan mampu berbuat karena di kawatirkan terjadi laporan penilaian anak baik raport maupun lainnya akan menjadi jelek,"katanya, Selasa (16/6/2020).

Menurut Misran kepala sekolah nya ini gak berfikir keselamatan anak anak, dan tidak mengindahkan kebijakan pemerintah. Sekarang ini belajar mengajar di lakukan dari rumah, bahkan ujianpun dilakukan secara virtual, kenapa malah di buat study tour, acara wisuda yang ikut tidak ikut pihak orang tua siswa harus tetap membayar. 

"Sekolah-sekolah mewajibkan bayaran antara  250.000-900.000 ribu, uang segitu saat ini kan harus nya bisa digunakan untuk hal yang lebih berguna bagi keutuhan sehari-hari keluarga, apalagi ini masuk pendaftaran siswa baru,” terang Misran.

Untuk itu menurut Misran untuk acara atau kegiatan yang tidak ada kaitan nya dengan materi pembelajaran baik nya saat ini di tiadakan dan meminta Dinas Pendidikan baik kota Medan maupun Provinsi Sumatera Utara untuk memberikan tindakan kepada sekolah yang melakukan acara atau kegiatan sejenis, baik wisuda, perpisahan atau study tour.

"Agar tidak ada lagi pengutipan dana yang saat ini dalam masa sulit disisi ekonomi,  bagi sekolah yang sudah melakukan pengutipan wajib mengembalikan uang tersebut 100%, selain itu juga untuk mencegah penyebaran covid 19 agar tidak terus berkembang dan membuka klaster baru covid 19.(pr-02)

Komentar Anda

Berita Terkini