-->

Indonesia Komitmen Wujudkan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

harian9 author photo

JAKARTA| H9
Sebagai rangkaian dari pertemuan tahunan G20 tahun 2020 di bawah Presidensi Arab Saudi, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengundang seluruh ahli di bidang energi anggota G20 untuk mengikuti virtual meeting the G20 Workshop on the Circular Carbon Economy (CCE) Guide, pada Minggu, (14/6). Indonesia yang merupakan satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20 diwakili oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM, Yudo Dwinanda Priaadi.

Pertemuan ini dipimpin oleh Mr. Fareed Alasaly (Chair of the Energy Sustainability Working Group) dan Adam Sieminski (President of King Abdullah Petroleum Studies and Research Center-KAPSARC) dan diikuti oleh negara-negara anggota G20 diantaranya: Australia, Jepang, China, Turki, Argentina, India, Indonesia, dan beberapa organisasi internasional antara lain International Energy Agency (IEA), International Renewable Energy Agency (IRENA), dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Program CCE ini dipromosikan/diusulkan oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebagai pendekatan dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan, yang didasari oleh pentingnya melakukan tindakan menjaga kestabilan lingkungan sambil memastikan akses ke energi bersih dan terjangkau untuk semua. CCE dipandang sebagai anternatif ekonomi dengan mempertimbangkan konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle and Remove) yang merupakan isu utama pada G20 tahun 2020.

Dalam pertemuan ini, Yudo Dwinanda Priaadi selaku Delegasi Tetap G20 dari Kementerian ESDM menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen menjadi bagian dunia dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. 

"Dengan adanya perkembangan global saat ini, CCE menjadi sebuah isu penting dan merupakan suatu prasyarat guna menciptakan ekonomi dunia yang berkelanjutan, dimana ketersediaan energi yang terjangkau dan ramah lingkungan menjadi prasyaratnya. Dari hulu sampai hilir sektor energi, kami mulai mempertimbangkan empat aspek CCE melalui pengurangan emisi, efisiensi energi, dan pengembangan energi terbarukan khususnya bioenergi yang menjadi kebijakan kunci Indonesia", tegas Yudo.

Yudo menambahkan beberapa perkembangan aktifitas sektor energi Indonesia antara lain potensi dan pengembangan proyek carbon capture, utilization and storage (CCUS) yaitu menangkap emisi CO2 dari lapangan gas untuk kemudian diinjeksikan kembali ke lapangan minyak yang diharapkan dapat meningkatkan produksinya yang biasa dikenal dengan enhance oil recovery (EOR).

Yudo menegaskan bahwa energi terbarukan juga akan menjadi kunci penyediaan bahan bakar ke depannya. Saat ini Indonesia tercatat sebagai produsen listrik dari panas bumi terbesar kedua di dunia dengan kapasitas terpasang 2,1 GW. Selain penerapan kebijakan B30 (30% bahan bakar diesel berasal dari biodiesel berbahan sawit), Indonesia saat ini tengah menyiapkan pembangunan kilang hijau atau dikenal sebagai green refineries untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi dengan bahan baku minyak sawit. 

Indonesia saat ini telah berhasil menguasai teknologi pembuatan katalis lokal hasil kerja sama PT Pertamina dengan ITB dan telah diujicobakan di beberapa kilang dengan system co-processing.

"Tiap negara melakukan upaya masing-masing untuk melaksanakan CCE, dan akan mempercepat tujuan apabila negara-negara G20 berkolaborasi secara global," tutup Yudo.

Pertemuan ini membahas perkembangan teknologi dan inovasi yang tersedia untuk masing-masing 4R, yang laporannya ditulis oleh beberapa Organisasi Internasional dalam keahlian mereka masing-masing untuk dibagikan dan diinformasikan kepada anggota negara G20 guna mendorong kegiatan-kegiatan yang dapat memajukan CCE. 

Beberapa negara memberikan tanggapan terkait atas perkembangan teknologi dan pengembangan hydrogen, efisiensi energi, bioenergi dan CCUS kaitannya dengan 4R.

Sebagai informasi, G20 adalah kelompok 20 perekonomian terbesar dunia, yang terdiri dari 19 negara ditambah dengan Uni Eropa. Tujuan utama G20 adalah menghimpun para pemimpin negara-negara ekonomi maju dan berkembang utama dunia untuk mengatasi tantangan ekonomi global serta isu-isu lainnya yang menjadi prioritas bersama. 

Sementara, prioritas Indonesia di G-20 pada sektor ESDM adalah meningkatkan akses terhadap energi di kawasan Asia. Forum G20 yang pada tahun 2020 ini diketuai oleh Arab Saudi akan segera merilis Pedoman CCE dan akan dipublikasikan secara resmi melalui website: www.cceguide.org. (esdm/wp.03)



Komentar Anda

Berita Terkini