Industri Manufaktur Masih Menjadi Andalan Sektor Pemulihan Ekonomi Nasional

harian9 author photo

Oleh: Iwan Susatio

Pembangunan bidang industri manufaktur merupakan bagian integral dari pembangunan baik nasional maupun daerah yang harus direncanakan dan  dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga pembangunan bidang industri manufaktur dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. 

Di samping itu perlu adanya kelanjutan fungsi sumber daya industri manufaktur itu sendiri untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sektor industri manufaktur sebagai salah satu sektor andalan pembangunan nasional terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Selain memiliki kontribusi  terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), juga memiliki peran penting dalam penciptaan lapangan kerja baru yang akan berdampak pada semakin menurunnya angka pengangguran.

Di tengah tantangan dampak pandemi Covid-19, sektor industri tetap menjadi kontributor terbesar untuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 19,98 persen. Oleh karena itu, pemerintah fokus merancang berbagai stimulus yang dapat menggairahkan iklim usaha di tanah air.

Sejak awal krisis dampak dari wabah virus Korona, Kementerian Perindustrian berupaya untuk memastikan sektor industri bisa terus beroperasi karena merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Kontribusi sektor industri itu juga terlihat dari capaian nilai tambah sebesar Rp.700,51 triliun dan telah mempekerjakan sebanyak 18,5 juta pekerja.

Untuk itu, Kemenperin menerbitkan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) untuk mengamankan kelangsungan bisnis sektor industri, namun tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Guna menggiatkan kembali sektor industri, pemerintah semakin berusaha keras dengan meluncurkan berbagai kebijakan yang probisnis. Salah satu kebijakan strategis itu adalah penerbitan surat edaran yang mendorong pabrik dan fasilitas manufaktur dapat beroperasi dengan aman selama penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Baik perusahaan industri dalam negeri dan asing, dalam hitungan jam, telah memperoleh IOMKI yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan operasi. Hingga saat ini, Kemenperin telah mengeluarkan sebanyak 17,5 ribu izin tersebut, yang mewakili total tenaga kerja hingga 4,9 juta orang.

Tidak hanya menyasar kepada sektor industri skala besar saja, Kemenperin juga memberikan perhatian lebih kepada pelaku industri kecil menengah (IKM) agar tetap menjalankan usahanya di tengah kondisi sulit saat ini. Misalnya, mulai dari pelaksanaan program pelatihan hingga pemberian alat  produksi.

Melalui pelatihan yang diberikan, IKM juga dapat memanfaatkan  platform digital agar bisa melakukan penjualan secara online, yang sejalan dengan persiapan memasuki era industri 4.0.

Secara paralel, pemerintah juga memberikan berbagai kebijakan fiskal dan non-fiskal yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri manufaktur maupun calon investor baru. Kemenperin memberikan stimulus untuk industri yang terkena dampak pandemi dalam bentuk relaksasi pajak impor, pajak penghasilan, restitusi pajak pertambahan nilai, serta tunjangan pajak penghasilan untuk masing-masing perusahaan. 

Selain itu, pemerintah menawarkan fasilitas pajak potongan super hingga 300 persen untuk perusahaan yang mengembangkan kegiatan litbang dan mendapat potongan pajak hingga 200 persen bagi perusahaan yang terlibat dalam pengembangan pendidikan vokasi. Menperin optimistis, beragam stimulus tersebut akan mengerek ekonomi nasional secara bertahap dan diharapkan mulai pulih pada kuartal ketiga tahun ini.

Implementasi kebijakan fiskal dan nonfiskal itu untuk membantu aliran dana (cash flow) perusahaan, termasuk super deductible tax bagi perusahaan yang berinvestasi di bidang R&D dan pelatihan vokasi.

Dalam menjaga sektor industri agar mampu melakukan rebound, Kemenperin telah mengusulkan berbagai stimulus tambahan, di antaranya pengurangan biaya energi listrik dan gas agar lebih proporsional, mengusulkan fleksibilitas dalam pembiayaan bagi industri manufaktur, serta mendorong substitusi impor. Usulan tersebut merupakan tindak lanjut dari kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah.

Pelaku industri di dalam negeri masih punya semangat untuk menghadapi tantangan yang timbul dari pandemi Covid-19 dan gejolak perekonomian global. Ini terlihat dari sektor industri yang akan mewujudkan kemandirian Indonesia dalam menanggulangi penyakit seperti industri peralatan medis dan barang habis pakai (medical devices and consumables).

Pada industri peralatan medis dan barang habis pakai, potensi Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi mencapai 3 juta buah masker N95 dan sebanyak 4,7 miliar buah masker bedah per tahun, yang diproyeksi mampu memenuhi konsumsi domestik sebesar 172,2 juta per tahun.

Industri nasional juga telah mampu memproduksi massal hingga 648 juta buah produk hazmat untuk memenuhi konsumsi domestik tahunan yang diperkirakan mencapai 11,3 juta buah. Artinya, industri nasional tidak hanya mampu memenuhi konsumsi lokal, tetapi juga dapat memenuhi permintaan pasar dunia. Ini melengkapi kemampuan kita yang sudah dapat memenuhi permintaan domestik masker kain dan surgical gown.

Beberapa produk hazmat produksi dalam negeri telah lulus uji skala internasional American Association of Textile Chemists and Colorists (AATCC) Standards; AATCC 42 (uji dampak air) dan AATCC 127 (uji tekanan hidrostatik), serta standar internasional untuk perlindungan menyeluruh terhadap bahaya biologis dan cairan (ISO 16604 level 2). Hingga saat ini, enam dari 16 produsen dalam negeri telah disertifikasi dan bersiap untuk mengekspor dan memenuhi permintaan global.

Sementara, untuk industri ventilator, saat ini perusahaan lokal sedang menyiapkan produksi massal untuk alat bantu pernapasan tipe darurat pada pertengahan Juli 2020. Sementara itu, produksi untuk ventilator tipe ICU akan dilakukan pada akhir Juli 2020.

Dalam pembuatan ventilator ini, industri dalam negeri dapat memproduksi secara lokal semua komponen mekanik dengan kandungan lokal hingga 80 persen. 

Pada industri farmasi, saat ini Indonesia memiliki lebih dari 220 perusahaan, di mana 90 persen dari mereka berfokus pada industri hilir seperti produksi obat-obatan. Sementara untuk mengatasi ketergantungan impor, kami berkolaborasi dengan para stakeholder utama untuk menyusun kebijakan dan  peraturan dalam membangun ekosistem industri yang kondusif sehingga Indonesia bisa mandiri.

Melangkah ke fase new normal, Menperin menargetkan tercapainya 35 persen substitusi impor pada tahun 2022. Kami sedang menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat menarik investor asing dan domestik untuk berinvestasi dalam menghasilkan produk substitusi impor, juga untuk meningkatkan penggunaan bahan baku yang diproduksi secara lokal dan barang setengah jadi.

Kementerian Perindustrian juga bakal terus mengambil langkah strategis untuk pertumbuhan industri yang berkelanjutan dan mendukung investasi di Indonesia, baik dari domestik maupun asing. Sebagai salah satu tujuan investasi dunia, Indonesia berupaya menjadi basis produksi ASEAN dan pemain utama dalam rantai nilai global.

Policy Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) juga menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah terkait kebijakan di bidang ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya, pemerintah disarankan melakukan prioritisasi sektor ekonomi. Artinya  pemerintah harus menentukan sektor ekonomi apa yang menjadi prioritas di tengah pandemi ini.

Ketua Policy Center Iluni UI Jibriel Avessina menyarankan, pemerintah untuk memprioritaskan sektor manufaktur dan pertanian. Salah satu alasannya karena dua sektor tersebut menyerap paling banyak tenaga kerja.

Rekomendasi tersebut, dapat dilihat dalam 'Kertas Kerja Policy Center ILUNI UI: Rekomendasi Kebijakan Penanganan Wabah Covid-19 di Indonesia’, publikasi Policy Center yang terkait penilaian terhadap penanganan dan rekomendasi penanganan Covid-19 di Indonesia.

Pijakan utama dari penentuan prioritisasi sektor dapat dilihat dari tiga aspek utama, yakni dari sisi pertumbuhan sektoral, kemudian dari sisi potensi pertumbuhan sektoral di masa depan, dan dari sisi kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat.

Kita sudah melihat bagaimana COVID-19 ‘menghantam’ sektor jasa khususnya jasa perdagangan (termasuk ritel), pariwisata, dan akomodasi perhotelan serta restoran, termasuk sub-sektor yang masuk dalam kategori MICE (Meeting, Incentives, Conferences, and Exhibitions).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2020, sektor pertanian paling tinggi menyerap tenaga kerja yakni mencapai 27,3 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan sebesar 18,8 persen, dan yang ketiga adalah sektor manufaktur sebesar 14,96 persen.

Iluni UI juga menyarankan agar setiap detail kebijakan pemerintah harus dipertegas oleh presiden. Khususnya berkenaan dengan kapan setiap kebijakan tersebut efektif berjalan dan mekanisme pengaduan jika kebijakan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini yang paling dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengantisipasi praktik yang tidak sesuai kebijakan.

Berkenaan dengan menjaga produktivitas UMKM. Ada dua alasan penting kenapa produktivitas UMKM harus dijaga. Covid-19 telah memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas UMKM akibat terganggunya jaringan distribusi dan menurunnya permintaan pada kategori produk-produk tertentu. Selain itu, kebijakan physical distancing juga memperkecil ruang gerak pelaku UMKM untuk melakukan aktivitas produksi mereka.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah memberikan stimulus berupa bantuan-bantuan melalui LPDB, PNM, ULaMM, UMi, Mekaar, BAV, hingga Pegadaian.

Di sisi lain, pemerintah juga telah mengumumkan bahwa akan dilakukan relaksasi kredit bagi UMKM, khususnya bagi mereka yang benar-benar terdampak COVID-19. Namun demikian, fasilitas ini hanya memberikan relaksasi saja dan belum sepenuhnya terlaksana dengan baik, di mana masih banyak pelaku UMKM yang tetap ditagih, baik oleh bank maupun penyedia pinjaman nonbank. (Iwan Susatio, Stastisi BPS Kota Medan)

Ilustrasi Industri

Komentar Anda

Berita Terkini