-->

KPPU Bacakan Putusan Dugaan Pelanggaran Jasa Angkutan Udara

harian9 author photo
MEDAN| H9
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) membacakan Putusan atas Perkara Nomor 15/KPPU-I/2019 tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 5 dan Pasal 11 UU Nomor 5 Tahun 1999 terkait Jasa Angkutan Udara Niaga Berjadwal Penumpang Kelas Ekonomi Dalam Negeri yang melibatkan 7 (tujuh) maskapai udara nasional. 

Dalam sidang yang terbuka untuk umum dan dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan nasional tersebut, KPPU memutuskan bahwa seluruh Terlapor secara sah dan
meyakinkan melakukan pelanggaran atas Pasal 5 dalam jasa angkutan udara tersebut.

"Untuk itu KPPU menjatuhkan sanksi berupa perintah kepada para Terlapor untukm melakukan pemberitahuan secara tertulis kepada KPPU setiap kebijakan mereka yang
akan berpengaruh terhadap peta persaingan usaha, harga tiket yang dibayar oleh konsumen, dan masyarakat sebelum kebijakan tersebut dilakukan," kata KPPU pusat melalui siaran pers yang disampaikan oleh Kepala Kanwil I KPPU, Ramli Simanjuntak, Rabu (24/6/2020).

Perkara ini bermula dari penelitian inisiatif yang dilakukan KPPU atas layanan jasa
angkutan udara niaga berjadwal penumpang kelas ekonomi penerbangan dalam negeri
di wilayah Indonesia. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan
kepada 7 (tujuh) Terlapor, yakni PT Garuda Indonesia (Terlapor I); PT Citilink Indonesia
(Terlapor II); PT Sriwijaya Air (Terlapor III); PT NAM Air (Terlapor IV); PT Batik Air
(Terlapor V); PT Lion Mentari (Terlapor VI); dan PT Wings Abadi (Terlapor VII).

"Dalam proses penegakan hukum yang dilaksanakan, KPPU menilai bahwa struktur
pasar dalam industri angkutan udara niaga berjadwal adalah oligopoli ketat (tight
oligopoly)," ujarnya.

Hal ini mengingat bahwa kegiatan usaha angkutan udara niaga berjadwal di
Indonesia terbagi dalam 3 (tiga) grup yaitu grup Garuda (Terlapor I dan Terlapor II), grup Sriwijaya (Terlapor III dan Terlapor IV), dan grup Lion (Terlapor V, Terlapor VI, dan Terlapor VII). 

Sehingga seluruh Terlapor dalam perkara ini menguasai lebih dari 95%
(sembilan puluh lima persen) pangsa pasar. Selain itu juga terdapat hambatan masuk
yang tinggi dari sisi modal dan regulasi yang mengakibatkan jumlah pelaku usaha sedikit
dalam industri penerbangan. 

Persaingan harga di industri tersebut diatur melalui peraturan pemerintah melalui batasan tertinggi dan terendah dari penetapan tarif atau harga penumpang pelayanan angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri, sehingga masih terdapat ruang persaingan harga diantara rentang batasan tersebut.

Berdasarkan persidangan, Majelis Komisi menilai bahwa telah terdapat concerted action
atau parallelism para Terlapor, sehingga telah terjadi kesepakatan antar para pelaku
usaha (meeting of minds) dalam bentuk kesepakatan untuk meniadakan diskon atau
membuat keseragaman diskon, dan kesepakatan meniadakan produk yang ditawarkan
dengan harga murah di pasar. 

Hal ini mengakibatkan terbatasnya pasokan dan harga  tinggi pada layanan jasa angkutan udara niaga berjadwal penumpang kelas ekonomi di wilayah Indonesia. Concerted action atau parallelism tersebut dilakukan melalui pengurangan subclass dengan harga murah oleh para Terlapor melalui kesepakatan tidak tertulis antar para pelaku usaha (meeting of minds) dan telah menyebabkan kenaikan harga serta mahalnya harga tiket yang dibayarkan konsumen.

Namun demikian, Majelis Komisi menilai bahwa concerted action sebagai bentuk
meeting of minds di antara para Terlapor tersebut, tidak memenuhi unsur perjanjian di
Pasal 11. 

Hal ini mengingat bahwa, berdasarkan Peraturan Komisi Nomor 04 Tahun
2010, unsur perjanjian di pasal tersebut membutuhkan berbagai hal seperti adanya
konspirasi diantara beberapa pelaku usaha; keterlibatan para senior eksekutif
perusahaan yang menghadiri pertemuan-pertemuan dan membuat keputusan;
penggunaan asosiasi untuk menutupi kegiatan; price fixing atau penetapan harga
dengan cara alokasi konsumen atau pembagian wilayah atau alokasi produksi; adanya
ancaman atau sanksi bagi anggota yang melanggar perjanjian.

Kemudian adanya distribusi informasi kepada seluruh pelaku usaha terlibat; atau adanya mekanisme kompensasi dari pelaku usaha yang produksinya lebih besar atau melebihi kuota terhadap mereka yang produksinya kecil atau mereka yang diminta untuk menghentikan kegiatan usahanya. Hal ini mengakibatkan, unsur Pasal 11 menjadi tidak terpenuhi.

Dalam membuat Putusan, Majelis Komisi turut mempertimbangkan sikap kooperatif para
Terlapor dalam proses persidangan dan adanya implikasi pandemi Corona Virus
Disease 2019 (Covid-19) yang telah berdampak besar pada perekonomian nasional dan
upaya pemulihannya, termasuk atas pelaku usaha industri penerbangan yang telah
mengalami banyak kesulitan bahkan sebelum terjadinya Pandemi.

Memperhatikan berbagai fakta-fakta pada persidangan maka Majelis Komisi
memutuskan bahwa para Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal
5, namun tidak tidak terbukti melanggar Pasal 11 sebagaimana diatur oleh UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999. Untuk itu dalam perkara tersebut, Majelis Komisi
menjatuhkan sanksi berupa perintah kepada para Terlapor untuk memberitahukan
secara tertulis kepada KPPU setiap kebijakan yang akan berpengaruh terhadap peta
persaingan usaha, harga tiket yang dibayar oleh konsumen, dan masyarakat, sebelum
kebijakan tersebut diambil.

Lebih lanjut, Majelis Komisi juga merekomendasikan kepada KPPU untuk memberikan
saran dan pertimbangan kepada Kementerian Perhubungan untuk melakukan evaluasi
terkait kebijakan tarif batas atas dan batas bawah, sehingga formulasi yang digunakan
dapat melindungi konsumen dan pelaku usaha dalam industry, serta efisiensi nasional;
dimana batas bawah adalah di atas sedikit dari marginal cost pelaku usaha dan batas
atas adalah batas keuntungan yang wajar dan dalam batas keterjangkauan kemampuan
membayar konsumen. 

Saran dan pertimbangan turut direkomendasikan Majelis Komisi kepada Pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan-kebijakan langkah-langkah dalam membantu maskapai mengatasi Covid-19 berupa regulasi dan paket-paket ekonomi diantaranya mempermudah masuknya pelaku usaha baru dalam industri penerbangan.(rel/pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini