-->

Pemkab Paluta Tetap Fokus Tangani Stunting

harian9 author photo
PALUTA|H9
Ditengah penanganan pandemi Covid-19 yang mewabah secara internasional, Pemerintah Republik Indonesia juga fokus dalam menangani dan melakukan pencegahan stunting disetiap daerah.

Tak terkecuali Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang juga berperan serta memfokuskan penanganan stunting ditengah pandemi Covid-19 didaerah kabupaten Paluta khususnya.

Kepala Dinas Kesehatan Paluta dr Sri Prihatin Harahap menyebutkan bahwa berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), menunjukan prevalensi stunting di Kabupaten Paluta mengalami penurunan secara perlahan sejak tahun 2018 yakni 32,67% pada tahun 2018, kemudian 32,2% tahun 2019 dan sesuai laporan triwulan pertama pada tahun 2020 kembali menurun menjadi 31,8%.

“Prevalensi stunting didaerah kita ini menurun secara perlahan. Meskipun telah menurun, namun stunting masih menjadi salah satu prioritas utama pemerintah daerah,” ungkapnya.
Dikatakannya, salah satu penyebab terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil dan anak. Dan saat ini Pemkab Paluta fokus menurunkan stunting yang diintegrasikan dengan program sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di kabupaten Paluta.

Kemudian, saat ini Pemkab Paluta sudah membentuk tim penanggulangan stunting yang ketuanya adalah kepala BAPPEDA Paluta dan melibatkan sejumlah OPD serta sudah melakukan berbagai tahapan kerja antara lain analisa data, penyusunan RKA, rembuk stunting hingga pengajuan Perbup terkait stunting dan melakukan peninjauan lapangan untuk mengklasifikasikan desa locus stunting.

“Penanggulangan stunting dilakukan secara lintas sektor, karena permasalahan stunting bukan hanya permasalahan kesehatan saja, tetapi saling keterkaitan dengan aspek lainnya,” papar dr Sri yang ditunjuk sebagai sekretaris tim penanganan stunting daerah kabupaten Paluta.

Diharapkan setiap OPD terkait agar dapat secara sinergis melakukan kegiatan yang berkaitan dengan stunting, dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.

Senada, Kabid Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Emi Sari Pohan MKes menyampaikan bahwa masalah stunting berkaitan dengan gizi dan kekurangan gizi tidak saja membuat stunting tetapi juga menghambat kecerdasan, memicu penyakit dan menurunkan produktivitas. 

Apabila stunting tidak segera ditanggulangi, maka akan mengakibatkan rendahnya SDM penerus bangsa (lose generation) di masa yang akan datang.

“Guna mencegah terjadinya itu, kita sudah dari dulu melakukan berbagai program terutama bagian sensitif seperti pendekatan dengan cara perbaikan gizi sensitif melalui ketersediaan air bersih, ketahanan pangan dan gizi, Keluarga Berencana (KB), jaminan kesehatan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.  Sementara perbaikan gizi spesifik yakni dengan perbaikan gizi pada remaja puteri, ibu hamil, ibu menyusui dan bayi usia 0 – 23 bulan,” jelas Emi.

Selain itu, pihak Dinkes Paluta juga melakukan berbagai upaya yang meliputi kegiatan penyediaan makanan tambahan, baik untuk ibu hamil maupun balita, kegiatan penguatan promosi, surveillan dan tata laksana gizi.

Untuk itu, ia berharap kerjasama dan peran aktif dari semua pihak dan elemen masyarakat untuk bekerjasama dalam percepatan penanganan stunting di kabupaten Paluta.(WD-009)
Komentar Anda

Berita Terkini