-->

Dampak Pandemi Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Diperkirakan Melambat

HARIAN9 author photo
MEDAN| H9
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Wiwiek Sisto Widayat mengatakan pertumbuhan ekonomi Sumatera diperkirakan melambat dipengaruhi deselerasi seluruh komponen permintaan dan Lapangan Usaha (LU) utama, diperkirakan berada di kisaran 2,0 hingga 2,4 persen (yoy). 

Perkembangan hingga akhir tahun 2020 menunjukkan pertumbuhan ekonomi akan melambat sejalan dengan dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan resesi ekonomi dunia dan deselerasi 'domestic demand' secara keseluruhan. 

"Disamping itu, juga terdapat resiko pertumbuhan, terutama terkait dengan perkembangan pandemi Covid-19. Diantaranya, jika jumlah kasus terus bertambah, aktivitas perekonomian baik dari sisi konsumsi, investasi, dan ekspor akan semakin tertekan dan turun semakin dalam dibanding prakiraan,"katanya, Kamis (2/7/2020).

Selain itu, jika proses adaptasi dan kesiapan para agen (pelaku) ekonomi tidak optimal maka fase pemulihan (recovery) ekonomi pasca pandemi juga tidak akan optimal.

Dirincikan, sejumlah faktor penahan pertumbuhan ekonomi Sumatera yakni konsumsi rumah tangga (penurunan disposible income sebagai dampak dari pandemi), konsumsi pemerintah (kurang optimalnya PAD, khususnya terkait pajak terkait usaha pariwisata), investasi dan LU konstruksi (penyesuaian jadwal padaberbagai proyek Pemda seiring physical distancing), net ekspor (dampak resesi ekonomi dunia dan penurunan kinerja pariwisata) dan LU pertanian (penurunan produktivitas komoditas perkebunan antara lain dampak dari kebakaran hutan akhir 2019).

"Kemudian juga, LU tambang (harga komoditas yang rendah di tengah terbatasnya permintaan migas, batu bara, timah), LU industri pengolahan (penurunan domestic demand secara keseluruhan terhadap berbagai produk industri) serta LU perdagangan (kegiatan perdagangan melambat sejalan dengan deselerasi konsumsi dan penjualan ekspor)," ujarnya.

Sementara, inflasi Sumatera pada akhir tahun 2020 diperkirakan relatif akan melambat dibandingkan dengan tahun 2019. Meski demikian, beberapa komoditas tetap perlu diperhatikan karena tetap akan mengalami kenaikan inflasi terutama rokok dan emas perhiasan. Sedangkan, harga bahan makanan diperkirakan masih mengalami inflasi namun relatif sedikit melambat dibandingkan 2019 seiring kemarau yang normal.

"Kami juga terus berupaya menjaga stabilitas harga melalui pengendalian TPID dengan melakukan 4K. Diantaranya, keterjangkauan harga (operasi pasar dan inovasi pasar murah), ketersediaan pasokan (monitoring stok dan inspeksi hingga ke gudang distributor, alokasi anggaran untuk Cadangan Pangan Pemerintah Daerah),  kelancaran distribusi (optimasi proses lalu lintas logistik dengan berbagai pilihan moda transportasi, inovasi program 'pasar online'), dan  komunikasi efektif (imbauan belanja bijak dan 'no panic buying', imbauan pemanfaatan pasar online)," pungkasnya. (PP-04)
Komentar Anda

Berita Terkini