-->

Harga Cabai Rawit Meroket, Petani Sumut Mulai Jenuh

harian9 author photo
MEDAN|H9
Ketua Pemantau Pangan Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, harga cabai rawit yang secara mengejutkan meroket hingga menembus level RP 33 ribu per Kg sampai dengan akhir pekan ini. Bahkan di sejumlah kedai sampah harganya sudah mencapai RP 40 ribu per Kg. Meroketnya harga cabai rawit ini tidak terlepas dari kejenuhan petani yang mengalami kerugian akibat harga yang murah dan bertahan untuk waktu yang lama.

"Dari beberapa responden yang kami tanyai, petani enggan memanen bahkan merawat tanaman cabai rawitnya dikarenakan harga jual yang sangat murah sebelumnya. Dengan harga yang murah tersebut memang membuat petani harus mengeluarkan biaya panen yang mahal. Membayar aron (buruh tani pemanen) menjadi terasa sangat membebani dikarenakan harga jual cabai yang jauh dibawah harga keekonomiannya,"katanya, Minggu (5/7/2020).

 Terlebih lagi, tanaman cabai rawit bukanlah tanaman utama yang dibudidayakan oleh petani. Umumnya cabai rawit hanya tanaman pelengkap di antara tanaman cabai merah atau tanaman lainnya. Jadi cabai rawit saat ini dua kali lebih mahal dari harga cabai merah. Dimana harga cabai merah sekarang berada dikisaran RP 15 hingga RP 18 ribu per Kg. Sementara rawit harganya RP 33 hingga RP 38 ribu per Kg.

Dari pantauannya  dilapangan, ada beberapa masalah mendasar yang seharusnya bisa membuat kita kuatir, akan adanya kemungkinan kenaikan harga komoditas cabai kedepan. Tren harga cabai yang sudah berlangsung lama ini membuat minat petani menanam cabai menjadi surut. 

"Budaya petani kita adalah mencari tanaman yang lebih menjanjikan harga ketimbang fokus kepada satu tanaman tertentu. Jadi kita harus kuatir dengan kemungkinan terjadinya tekanan supply akibat pola pergerakan harga tersebut. Pemerintah jangan terlena dengan penurunan harga cabai selama ini. Trennya yang turun memang membuat harga cabai menjadi salah satu penyumbang deflasi,"ujarnya.

Disebutkan, potensi kenaikan harga juga terjadi saat pelonggaran terus dilakukan lebih longgar lagi. Selama ini, harga cabai, dan sejumlah sayuran lainnya diklaim sulit naik harganya karena aktifitas sosial masyarakat masih terbatas. Seperti sekolah dan perguruan tinggi yang tutup, banyak ditutupnya hotel maupun restoran dan pusat perbelanjaan, hingga aktifitas hajatan masyarakat seperti kawinan, sunatan, pertemuan, hingga pesta adat lainnya yang masih terhenti.

Menurutnya, jika itu semua dibuka, potensi konsumsi akan mengalami kenaikan. diperkirakan kenaikan konsumsinya itu bisa mencapai 30% dari posisi saat ini. Jadi pemerintah harus mengantisipasi jauh hari kemungkinan tersebut. 

"Disisi lain, saya juga menghimbau agar petani jangan gegabah langsung mengganti tanamannya. Saya menemukan, sejak harga cabai bertahan murah, banyak petani yang mulai menggantinya ketanaman bawang merah," tutupnya.(PP-04)


Komentar Anda

Berita Terkini