-->

7 Anak Rianto Simbolon Korban Pembunuhan Berencana di Samosir Trauma Berat

HARIAN9 author photo
JAKARTA| H9
Pembunuhan berencana terhadap Rianto Simbolon (41) war Sijambur Ronggur Ni Huta, Kabupaten Samosir yang diduga dilakukan Tahan Simbolon (42), Bilhot Simbolon (27), Justianus Simbolon (60) dan Parlin Sinurat(42)  yang mengakibatkan 7 orang anak korban mengalami trauma berat dan luar biasa (extraordanry),  mendapat atensi serius dari Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakakan, direncanakan hari Selasa 25/08 akan menurunkan Tim Investigasi dan Rehabilitasi Sosial Anak Komnas Perlindungan Anak Sumatera Utara dan Jakarta  ke Samosir untuk bertemu 7 orang anak-anak korban  di Samosir dan  sekaligus  berkordinasi dengan Lawyernya keluarga korban dan bertemu dengan Kadis PPPA Samoslir dan Polres Samsosir.

Anak-anak dari Rianto Simbolon sebagai korban pembunuhan berencana, harus segera diselamatkan dan dijamin kehidupannya.

 "Saya berharap, untuk kepentingan terbaik dan masa depan ke 7 orang anak-anak korban pembunuhan berencana ini,   pemerintah daerah harus hadir menyelamatkan dan menjamin perlindungan serta keberlangsungan sekolah, dan hehidupan sosial anak korban", kata Arist dalam keterangan persnya kepada sejumlah media di kantornya di Jakarta, Minggu (16/08).

Arist lebih jauh menjelaskan,  untuk kepentingan terbaik ke 7 orang anak-anak  korban,  Komnas Perlindungan Anak akan berkordinasi dengan Dinas PPPA dan Dinas Pendidikan  Kabupaten Samosir guna mencari solusi terbaik bagi ke 7 orang anak-anak korban.

Jika ke empat pelaku terbukti melakukan perencanaan pembunuhan seperti yang diatur dalam pasal 340 dan pasal 170 KUH Pidana, pelaku dapat diancam hukuman 20 tahun bahkan seumur hidup.

Dari peristiwa kejam dan sadis ini,  Komnas Perlindungan Anak menilai telah terjadi degradasi terhadap sistim kekerabatan hal ini terbukti bahwa pelaku maupun korban adalah semarga, untuk itu perlu dibangun kembali sistim sisosial yang saling  menghormati diantara selama. Rumah yang terus beribadah dan menjauhi  segala jenis minuman keras yang menjadi suplemen dan "triger" terjadinya kekerasan, tegas Arist.(pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini