-->

Agustus, Sumut Berpeluang Inflasi

HARIAN9 author photo
MEDAN| H9
Harga sejumlah kebutuhan pokok di bulan Agustus ini memang sedikit lebih tinggi dari rata-rata bulan juli sebelumnya. Beberapa komoditas pangan seperti cabai mengalami rata-rata kenaikan tipis. 

"Untuk harga cabai merah dan cabai rawit selama bulan Agustus mengalami rata rata kenaikan 8% hingga 10%. Meskipun sepekan menjelang akhir bulan agustus ini harga cabai rawit bergerak dalam kecenderungan turun,"kata ketua pemantau pangan Sumut, Gunawan Benjamin, Sabtu (29/8/2020).

Harga cabai rawit di bulan agustus turun dari kisaran 34 ribu per Kg saat ini hanya 20 ribu per Kg. Demikian halnya juga dengan cabai merah yang turun dari  kisaran 26 ribu menjadi 23 ribuan saat ini. Namun penurunannya terjadi di hari hari terakhir, sehingga secara rata rata masih mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya.

"Bawang putih juga mengalami kenaikan rata rata 12% hingga 22%. Untuk bawang putih ini harganya sangat bergantung pada harga di luar, karena umumnya didatangkan dengan cara impor," ujarnya. 
Selanjutnya harga minyak goreng juga mengalami kenaikan sebesar 85 seiring dengan harga CPO dari kisaran 2400 ringgit per ton menjadi 2700 ringgit per tonnya.

"Dan sejumlah harga komoditas sayur sayuran akibat erupsi sinabung juga akan memberikan kontribusi pada pembentukan laju inflasi dari tanaman seperti tomat, kol, brokoli dan sayuran lainnya,"katanya.

kemudian harga telur ayam juga rata rata mengalami kenaikan rata rata 3%. Sementara itu, sejumlah harag komoditas yang mengalami penurunan diantaranya adalah bawang merah.

"Bawang merah anjlok sekitar 10% hingga 14%. Sementara itu, kinerja harga kebutuhan pokok lainnya seperti daging ayam turun sekitar 10%. Sementara gula pasir turun sekitar 1%. Dari perhitungan yang saya lakukan, saya memperkirakan bulan ini (agustus) SUMUT akan merealisasikan inflasi tipis dalam rentang 0.05% hingga 0.13%,"katanya.

Dampak dari perayaan Idul Adha di akhir bulan Juli, ditambah erupsi sinabung menjadi kontirbutor paling besar terhadap pembentukan inflasi di bulan Agustus. Akan tetapi dibulan depan kita harus mewaspadai kemungkinan deflasi. Dikarenakan beberapa harga kebutuhan pokok masyarakat di akhir bulan ini geraknya mengalami penurunan. Yang sepertinya akan berlanjut hingga bulan depan.

"Ditambah lagi ada bulan Muharam yang selalu menjadi bulan dimana belanja masyarakat mengalami penurunan. Sejauh ini saja, aktifitas di pasar tradisional terus mengalami penurunan. Rentang penurunan omset penjualan itu beragam antara 15% hingga 30%. Aktifitas yang turun ini sangat berdampak pada potensi penurunan harga kebutuhan pokok masyarakat nantinya," pungkasnya.(pp-04)
Komentar Anda

Berita Terkini