-->

Camat Pulau Rakyat Kabupaten Asahan Sambangi Keluarga Penderita Kolostomi

harian9 author photo


KISARAN|H9
Camat Pulau Rakyat bersama ketua TP PKK menyambangi keluarga Penderita Kolostomi di Desa Bangun Jumat (06/11/2020).Miris melihat kondisi Kenja Al Azam. Sejak lahir, bocah berusia dua tahun satu bulan ini harus menjalani kolostomi, yakni pembuatan lubang di perut untuk mengeluarkan feses (kotoran).

Camat Pulau Rakyat, Aspihan, SH MM didampingi ketua TP PKK Nurlela Sari Siregar dan bidan desa dari UPT Puskesmas Ofa Padang Mahondang, Sri Kurnia beserta Kepala Desa Bangun, Supardi, Jumat (06/11/20) pagi menyambangi rumah bocah malang tersebut di Dusun IV Desa Bangun, Kecamatan Pulau Rakyat, Kabupeten Asahan.

Kunjungan Camat beserta timnya tersebut untuk melihat secara langsung kondisi penyakit yang diderita anak ketiga dari tiga bersaudara dari keluarga Misah (27) dan Jepri Kesuma (31).

” Kami mendapat informasi ini dari bapak Kades bahwa ada seorang bocah menderita kelainan anus (kolostomi) serta penyakit kelainan jantung. Maka kami datang untuk melihat langsung kondisi Azam dan sedikit memberikan bantuan peduli kasih untuk mengurangi beban yang diderita ” kata Camat saat menyerahkan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, mie instan, gula putih, teh dan telur ayam yang diterima oleh Misah ibu dari Azam.

Menurut keterangan Bidan Desa, Sri Kumala, Azam menderita kolostomi pembawaan sejak lahir. Orang tuanya telah membawa anaknya tersebut ke Puskesmas Ofa Padang Mahondang, dan mendapat rujukan ke salah satu rumah sakit umum kemudian dilakukan operasi anus sementara.

Pasca operasi hingga kini, harus BAB melalui perut. Agar feses tak tercecer, perut yang dilubangi ditempel dengan perban.

” Operasi anus yang dilakukan masih sementara, karena untuk dilakukan operasi secara normal usianya (Kenja Al Azam) belum cukup dan berat badannya masih 6,7 Kg. Azam juga memiliki penyakit jantung bawaan sejak lahir. Kata dokter dioperasi dulu jantungnya baru bisa dilakukan operasi anus normal, lagi pula masih dalam situasi pandemi covid-19 ” ujar Sri Kumala.

Sementara itu Misah mengatakan, anaknya, Azam sudah ketergantungan obat, setiap saat ia harus makan obat, karena kalau tidak penyakit jantungnya bisa kambuh, dan nafasnya menjadi sesak.

Selain itu perkembangan tubuhnya lambat akibat kurang gizi, karena setiap yang dimakan tidak menjadi daging, berat badannya pun tidak bisa naik, setidaknya untuk bisa dioperasi berat 7 Kg ” tutur Misah.

Menurut Misah, dalam kesehariannya ia terpaksa menutup lubang operasi saluran BAB dengan perban yang ditempel di perut, sehingga sering mengakibatkan iritasi kulit dibagikan perut Azam dengan warna kemerahan.

” Biaya operasi anus dengan menggunakan kantong plastik khusus harganya Rp 10.000 untuk satu kali pakai, saya tak sanggup maka menggunakan perban ” tandas Misah.

Dalam kesempatan itu Camat Aspihan berharap agar Misah dan suaminya terus mengambil langkah-langkah medis dengan tetap berkoordinasi dengan bidan desa, dan bidan desa diharapkan bisa memfasilitasi langkah apa yang bisa dilaksanakan.

” Tetaplah dibawa kontrol ke rumah sakit agar badannya bisa naik untuk bisa cepat dioperasi agar penyakitnya dapat segera sembuh ” Ucap Camat Aspihan. (WD032)

Komentar Anda

Berita Terkini