-->

Konsultan CSR, Wahyu Aris Darmono: Sektor Bisnis Perlu Bina Hubungan dengan OMS

harian9 author photo


MEDAN| H9
Sektor bisnis memerlukan berbagai keahlian yang dimiliki oleh Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) atau Civil Society Organization dalam rangka menurunkan risiko dan meminimalisir dampak yang muncul khususnya terhadap masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan beroperasi melalui pengelolaan investasi social (social investment). 

Program pengembangan masyarakat (community development) yang sering kali disebut dengan 'CSR' pendekatannya perlu dikoreksi menjadi pendekatan investasi yang akan memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi para pemangku kepentingan. 

Demikian diungkapkan Konsultan Corporate Social Responsibility (CSR) Wahyu Aris Darmono selaku fasilitator dalam Training Advokasi dan Strategi Engagement CSR dengan Bussiness Respect to Human Rights (Sektor swasta peduli HAM) di Kampung Wisata Bahari Ramah Anak, Kelurahan Belawan Bahari, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, pada Selasa-Rabu, 17-18 November 2020, kemarin. 

“Di lain pihak, OMS juga dituntut untuk terus meningkatkan akuntabilitas dan kapasitas lembaga masing-masing, manajemen administrasi, serta mengembangkan instrument atau tools (alat) sesuai dengan standar-standar global seperti ISO 26000, SDG’s atau standar industri lainnya, merancang strategi komunikasi dan membangun hubungan yang strategis dengan sektor bisnis,” ungkap Aris. 

Menurut Aris, saat ini, masih banyak perusahaan yang membuang-buang anggaran mereka sia-sia karena tidak mampu mengoptimalkan program pengembangan masyarakat yang mereka laksanakan. 

“Selain menjalankan kewajiban yang diamanatkan oleh undang-undang, invastasi sosial sebenarnya sangat efektif sebagai strategi bisnis. Investasi sosial berdampak positif dalam peningkatan kinerja bisnis perusahaan," ungkap konsultan yang aktif di A+ CSR Indonesia itu. 

Untuk itu, Aris mengajak OMS Sumut untuk terus mengembangkan kemampuan mengelola program investasi sosial yang dibutuhkan oleh perusahaan dan masyarakat yang terkena dampak beroperasinya perusahaan. 

Fasilitator lainnya, Direktur Konsil LSM Indonesia, Misran Lubis menyampaikan, pentingnya terus memegang teguh prinsip OMS, menyamaan visi dan membangun komitmen bersama serta merumuskan langkah-langkah konkret untuk mendalami isu investasi sosial. 

“Teman-teman OMS perlu memetakan isu, risiko dan dampak dan menyasar komunitas masyarakat yang terkena dampak operasi perusahaan, termasuk di kawasan-kawasan industri, sehingga dapat mengembangkan program advokasi dan engagement bersama,” papar Misran. 

Menurut Misran, saat ini, knowledge community di internal aliansi OMS perlu diperkuat baik forum, media saling berbagi pengalaman baru, terutama dalam menjawab tantangan, tuntutan perubahan dan perkembangan zaman.

“Peningkatan akuntabilitas dan kapasitas lembaga dalam dokumentasi, administrasi, komunikasi dan publikasi, termasuk berbagai panduan-panduan standar minimum organisasi masyarakat sipil perlu dipenuhi,” ujar Misran yang juga Ketua Forum Komunikasi PUSPA Sumut itu. 

Misran menambahkan, untuk mengembangkan investasi social dan knowledge community di kalangan OMS, diperlukan Think Thank yang telah berpengalaman dalam meimplementasikan program investasi sosial di dalam kerangka keberlanjutan.

“Tim kecil ini nantinya berperan untuk mempersiapkan dan merumuskan langkah-langkah advokasi dan engagement, seperti lobby, identifikasi dan pemetaan atau assesment, termasuk mengembangkan perangkat seperti template logical framework, annual report, sustainability report, sesuai standar global,” sebut Misran

Kegiatan yang didukung Civic Engagement Alliance (CEA Indonesi), ICCO Cooperation, Konsil LSM Indonesia (Indonesia NGO Council) itu diikuti sedikitnya 25 peserta mewakili Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang berasal dari beberapa Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara, seperti; Medan, Binjai, Langkat dan Deli Serdang.(PR-01)


Komentar Anda

Berita Terkini