-->

Pemkab Paluta Gelar Rapat Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi

harian9 author photo


 PALUTA|H9
Sebagai tindaklanjut monitoring dan survey yang dilakukan oleh kementerian dalam negeri dalam memantau perkembangan kasus stunting di daerah khususnya di kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Tim percepatan pencegahan dan penurunan stunting menggelar rapat sekaligus monitoring dan evaluasi percepatan pencegahan dan penurunan stunting terintegrasi di aula Sekretariat kantor Bupati Paluta, Rabu (11/11).

Rapat yang dipimpin oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Paluta Haholongan Siregar, diikuti oleh pimpinan organisasi perangkat daerah terkait yang tergabung dalam Tim percepatan pencegahan dan penurunan stunting kabupaten Paluta.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Paluta Haholongan Siregar mengatakan, pemerintah pusat secara nasional bermaksud untuk melihat sejauh mana langkah-langkah pemerintah daerah dalam menangani persoalan stunting dan apakah berhasil dalam menanganinya. 

Dan kegiatan monitoring serta evaluasi ini untuk menentukan langkah selanjutnya maupun capaian kinerja yang telah dilaksanakan sebelumnya upaya penanggulangan masalah stunting.

“Saya harap kita semua dapat melakukan mengidentifikasi aspek-aspek utama penyebab terjadinya kasus stunting serta langkah dalam penanggulangannya sebagai bahan evaluasi untuk langkah selanjutnya,” harapnya.

Senada, ketua Tim percepatan pencegahan dan penurunan stunting kabupaten Paluta yang juga kepala Bappeda Paluta Erwin Hotmansyah Harahap SSTP menyebutkan Stunting atau kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi disebabkan berbagai aspek, mulai dari pengetahuan ibu yang kurang memadai, infeksi berulang, sanitasi yang buruk, layanan kesehatan yang terbatas atau bahkan gabungan dari seluruh aspek. 

Karena itu, identifikasi penyebab utama stunting menjadi sangat penting untuk memudahkan upaya penyelesaiannya.

“Selain tindak lanjut survey yang dilakukan kementerian, ini merupakan evaluasi kinerja yang telah kita laksanakan untuk menentukan arah atau langkah kita selanjutnya,” jelasnya.

Tambahnya, Untuk beberapa daerah mungkin yang menjadi permasalahan hanya persoalan sanitasi, sedangkan di daerah lain adalah akses layanan kesehatan. 

Dan semakin jelas penyebab utamanya, maka solusi yang tepat sasaran bisa dikerjakan dan tidak membuang-buang waktu, energi dan anggaran untuk kegiatan yang tidak menjawab permasalahan.

“Tujuannya ialah untuk melaksanakan tugas perencanaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi, advokasi, sosialisasi dan komunikasi dalam penurunan stunting di kabupaten Paluta,” ujarnya.

Sementara, terkait dengan penanganan kasus stunting yang terjadi di kabupaten Paluta, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paluta yang juga merupakan Sekretaris Tim percepatan pencegahan dan penurunan stunting kabupaten Paluta dr Sri Prihatin bersama Kabid Binkesmas Emmi Sari Pohan mengungkapkan dari hasil monitoring yang dilakukan di kabupaten Paluta terutama didesa Locus Stunting menunjukan pada tahun ini telah terjadi penurunan kasus stunting anak usia di bawah dua tahun di sejumlah desa yang ada di kabupaten Paluta.

Dan upaya untuk menurunkan kasus stunting tersebut, tidak terlepas dari sejumlah program intervensi yang telah dilakukan oleh pemerintah baik pusat berkoordinasi dengan Pemkab.

“Pelaksanaan program kegiatan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif maupun pengembangan sanitasi melalui program STBM merupakan bentuk penanganan stunting baik yang dilakukan oleh dinas kesehatan maupun dinas terkait lainnya,” terangnya.

Katanya, ada dua langkah utama pendekatan yang telah dilakukan dalam penanganan kasus stunting melalui intervensi yakni intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif ditambah pendekatan program STBM dan program lainnya oleh dinas terkait lainnya.

Dan kegiatan-kegiatan intervensi gizi spesifik yang telah dilakukan di antaranya untuk intervensi pada balita pihaknya berkoordinasi dengan petugas kesehatan yang ada di kecamatan maupun desa melakukan pemantauan tumbuh dan kembang balita di posyandu yang ada di desa-desa dan pemberian bantuan makanan tambahan untuk anak-anak balita yang mengalami kasus stunting. 

“Kegiatan intervensi gizi lainnya kami juga melakukan intervensi ibu balita baik dengan pemberian makanan tambahan maupun vitamin dan memberikan penyuluhan kesehatan melalui kelas pembelajaran untuk ibu, baik itu ibu balita maupun ibu hamil dan peningkatan kapasitas petugas khususnya para bidan untuk mengetahui standar layanan kesehatan penanganan stunting,” ungkapnya.

Selain pendekatan intervensi gizi spesifik khususnya di bidang kesehatan, dalam rapat tersebut juga diungkapkan sejumlah program dan kegiatan intervensi gizi sensitif yang dilakukan oleh pemprov terkait penanganan pencegahan stunting di daerah khususnya melalui pemberdayaan kaum perempuan.

Terkait dengan penjelasan tersebut, ketua  ketua Tim percepatan pencegahan dan penurunan stunting kabupaten Paluta Erwin Hotmansyah Harahap SSTP dalam kesempatan tersebut juga meminta desa–desa yang kasus stuntingnya cukup tinggi untuk mendapatkan perhatian dan dilakukan intervensi penanganan.

“Kita ketahui masih ada desa di sejumlah kecamatan yang masih cukup tinggi kasus stunting nya dan hal ini agar menjadi perhatian bersama untuk penanganannya," ungkapnya.(WD-009)
Komentar Anda

Berita Terkini