-->

Beca Vespa Bukan Lagi Ikon Kota Padangsidimpuan

HARIAN9 author photo


PADANGSIDIMPUAN| H9
OLEH: RISWANDY
Beca motor (betor) vespa merupakan alat transportasi publik yang digandrungi masyarakat Kota Padangsidimpuan. Selama beberapa dekade, kenderaan trasportasi publik ini sempat menjadi perhatian dunia, bahkan dijadikan ikon Kota Padangsidimpuan karena kenderaannya yang unik berjenis vespa buatan tahun 70 an, dengan modifikasi bak gandengan untuk tempat penumpang, serta dihias dengan corak warna-warni dan lukisan yang cukup indah, sehingga kerap orang menyebutnya becak artis.

Dulunya, alat transportasi publik ini sering jadi rebutan penumpang. Jumlahnya sampai seribu an unit dan beroperasi dengan trayek angkutan tidak saja di tengah kota, tapi juga hingga daerah pinggiran.   

Hampir di setiap tempat-tempat umum terlihat jejeran beca vespa ini berbaris parkir menunggu penumpang baik masyarakat yang sedang berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan, maupun para siswa yang akan ke sekolah maupun yang pulang sekolah. Karena disamping lajunya cukup kencang dan stabil, juga para penumpang cukup nyaman bila naik kenderaan ini, karena bisa terhindar dari hujan maupun terik panas matahari.

Untuk lebih terkoordinir, kehadiran ribuan beca vespa ini juga membentuk gabungan betor dengan berbagai organisasi ataupun kesatuan beca yang berbadan hukum baik berbentuk yayasan maupun koperasi, dengan berbagai macam nama organisasi seperti, Rajawali, Astra, Adu Nasib, Bintang, Primkopol, dll, sehingga mampu menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), baik dari pajak kenderaan maupun perparkiran yang dikoordinir pihak persatuan ataupun organisasi betor.  

Beca-beca vespa yang unik ini mampu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan sempat dijadikan ikon Kota Padangsidimpuan, sehingga banyak para turis baik lokal maupun mancanegara yang singgah ataupun transit di Kota Padangsidimpuan menyempatkan diri untuk menaiki beca vespa untuk berkeliling kota, apalagi ongkosnya sangat terjangkau dan tidak begitu mahal bagi kalangan turis.          

Di satu sisi, warga masyarakat juga merasa bangga dengan kehadiran beca vespa ini, karena sarana ini sangat membantu sebagai alat transportasi publik, yang lintasanya maupun trayeknya mampu mencapai hingga ke gang-gang atau jalan kecil yang tidak bisa dilalui kenderaan angkutan umum.

Kondisi itu kini hanya bisa dilihat sekitar sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Sekarang hanya tinggal kenangan.   Akibat berobahan zaman serta menjamurnya kenderaan roda dua sebagai alat transportasi warga, keberadaan betor vespa ini tidak lagi bisa dibanggakan apalagi untuk 
dijadikan ikon Kota Padangsidimpuan.

Yang kita lihat sekarang, keberadaan betor vespa sering menjadi masalah yang sangat krusial bagi Pemerintah Kota Padangsidimpuan, karena sering menimbulkan kemacetan di jalanan dan kesemrawutan kota akibat parkir sembarangan.  

Selain itu, kondisi fisik betor vespa banyak yang sudah tidak terawat lagi. Selain mesin kenderaan yang sudah hancur-hancuran karena tingginya biaya perawatan, mengakibatkan laju kenderaan dijalanan sering menimbulkan kebisingan dan polusi udara akibat gumpalan asap hitam yang keluar dari knalpot betor akibat mesin yang tidak terawat  juga kondisi body dan bak betor yang kebanyakan telah  keropos, sehingga tidak ada lagi keindahan pada betor vespa ini, bahkan keberadaannya ibarat besi tua yang berseliweran di tengah kota.  

“ Saat ini, dari seribu an jumlah betor vespa yang beroperasi di Kota Padangsidimpuan yang memiliki radius 14 kilometer persegi, sering menjadi masalah bagi keindahan kota Padangsidimpuan. Untuk itu, keberadaan betor vespa ini perlu ditata kembali sehingga keberadaannya tidak “manyomak” dan memicu kemacetan, “ terang Ibrahimsyah Nasution (35) salah seorang warga Padangsidimpuan, Sabtu (13/3/2021).

Menurutnya, dulu betor vespa ini sangat terkenal dengan keindahan desainnya, ditambah corak warna yang terang sesuai dengan kesatuan atau yayasannya. Namun kini keindahan itu tidak terlihat lagi.

" Kita kadang cukup kecewa dengan kondisi banyaknya beca saat ini, apalagi parkir sembarangan dan sering tidak mengindahkan aturan berlalulintas, sehingga menimbulkan kesemrawutan di tengah kota, " ucapnya.

Ia mengungkapkan, kalau dilihat saat ini, tak jarang ditemukan beca yang kondisinya sudah sangat buruk masih beroperasi. Beca yang selama ini memiliki desain yang indah dan menjadi ikon kebanggaan di kota Salak ini, kini hanya tinggal kenangan. Saat ini beca tidak punya warna lagi bebas sesuai dengan warna keinginan sendiri, bahkan ada yang justru tidak memiliki warna alias di cat.

Dikatakannya, fenomen ini sudah menjadi pemandagan yang kurang baik. Saat ini jumlahnya terus bertambah dan terkadang pemilik betor vespa ini tidak lagi memperhatikan kondisi fisik dan mesin kenderaan, sehingga berdampak terhadap tingginya polusi udara akibat asap kenderaan dan juga dapat memicu rawan kecelakaan dan kemacetan.

“ Terkadang kita ngeri bila melihat beca besi tua berkarat dan bodi maupun vespanya sudah sobek dan berkarat tapi masih beroperasi, kekawatiran kita bila kerusakan itu yang memicu terjadi kecelakaan,” ujar Baim

Hendri (38), salah seorang pengemudi betor vespa mengakui, keberadaan betor vespa sekarang tidak lagi seperti dulu dan penghasilannya pun sudah tidak sesuai lagi akibat masyarakat sudah banyak memiki sepeda motor untuk alat transportasi.

“ Janganlan untuk merawat kenderaan ataupun membayar kewajiban pajak kenderaan. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja penghasilan dari sopir betor vespa ini tidak mencukupi. Terpaksa kita mencari usaha sampingan dengan bekerja serabutan, “ ujar Hendri yang menjadi sopir betor vespa hampir 20 tahun.

Ia menambahkan banyak betor yang sudah tidak lagi memilki organisasi, sehingga tidak heran bila betor vespa beroperasi tanpa aturan. “ Kalau dulu warna beca dan nomor sesuai dengan warna masing-masing disepakati yayasan. Namun saat ini tidak ada lagi itu, “ katanya.

Tidak Miliki Izin.

Anggota DPRD Imam Gozali Harahap mengatakan, diperkirakan saat ini ada sebanyak 1200 unit betor vespa yang beroperasi di Kota Padangsidimpuan dan hanya sebahagian kecil saja yang memberikan kontribusi terhadap 
pendapatan daerah baik melalui sektor pajak kenderaan, maupun dari sektor retribusi.

“ Ini diduga akibat kurang tegasnya pemerintah daerah dalam menertibkan beca yang beroperasi di Kota Padangsidimpuan, disamping 
ketidakpatuhan para pengusaha 
maupun pemilik beca dalam hal mengurus izin kenderaan maupun izin operasi, “ kata Gozali.

Masalah ijin operasional katanya, hampir seluruh betor yang beroperasi ijin operasional maupun ijin roda tiga sudah mati sejak puluhan tahun. Untuk itu pemerintah sudah sepantasnya melakukan pembinaan, bagaimana agar  pengemudi dan pemilik betor Vespa bisa mematuhi aturan guna meningkatkan sektor pendapatan daerah. 

" Diharapkan kedepan pemerintah daerah, pengemudi dan pemilik betor untuk duduk bersama mencari solusi bagaimana agar perbetor mematuhi aturan dengan mengurus ijin kenderaan maupun ijin operasional, karena kita khawatir aktivitas betor vespa yang beroperasi ini akan menjadi beban da
Negara, apalagi bila terjadi kecelakaan di jalan raya, sehingga berdampak 
terhadap resiko pembayaran klaim 
santunan asuransi korban kecelakaan, “ paparnya. ***   
Komentar Anda

Berita Terkini