-->

BI Sumut: UMKM Sektor Fashion Punya Potensi Cukup Besar

HARIAN9 author photo


MEDAN| H9
Sektor desain dan jahit menjahit baju siap pakai memiliki potensi cukup besar dalam meningkatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk itu Bank Indonesia Wilayah Sumut mendorong UMKM sektor fashion yang potensinya cukup besar.

Soekowardojo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara  mengatakan hal ini pada penutupan "Program Inkubasi Desain Mode dan Produksi Baju Siap Pakai" di SMKN 8 Jalan Dr Mansyur Medan  Rabu (10/3/2021).

Soekowardojo menyebutkan kegiatan pelatihan desainer dan penjahit ini juga sebagai dukungan Bangga Buatan Indonesia (BBI) dan Bangga Berwisata di Indonesia. Jadi BI berkolaborasi dengan desainer dan penjahit untuk memajukan UMKM di bidang fashion. Sektor UMKM sendiri banyak, ada produksi, jasa, perdagangan, pariwisata dan jasa wisata seperti sekarang ini yakni sektor fashion.

BI membuat program sektor fashion karena di daerah ini seperti dituturkan Fashion Desainer dari Jakarta Wignyo Rahardi, agak sulit mencari desainer atau desain baju yang berkualitas. 

"Semoga apa dibuat BI bisa dicontoh instansi dan daerah lain di Sumut," kata Soekowardojo.   

Saat ini ada sekira 1,2 juta pelaku UMKM di Sumut atau 400.000-an di Medan. Tak mungkin BI memgcover pembinaan semua UMKM itu. Pelatihan terhadap desainer baju dan penjahit ini diharapkan tidak berhenti sampai di sini, namun bisa meluas ke daerah lain di Sumut. Bagi yang sudah dilatih agar menurunkan ilmunya ke yang lain. 

"Kalau berbagi ilmu akan tambah kuenya," ungkap Soekowardojo.

Ia menjelaskan untuk meningkatkan bisnis fashion di Sumut perlu ada pelatihan sehingga potensi yang besar itu dapat dikelola dengan baik. 

"Peranan desainer perlu kolaborasi dengan penjahit sehingga menghasilkan baju siap pakai," katanya.

Menurutnya pada pelatihan desainer dan penjahit ini, prosesnya cukup panjang. Ada 50 UMKM perajin tenun, batik dari Medan, Binjai, Deliserdang, Sergai, Tebing Tinggi dan Dairi. Dari jumlah itu, terjaring 40 perajin yang kemudian dibagi masuk ke kelas mode dan kelas menjahit.

Hasil kolaborasi keduanya dipamerkan dalam fashion show yang diperagakan model. Karya mereka lebih berorientasi pada etnik daerah dan kebanyakan berbahan motif ciri khas daerah Sumut.

Fashion Desainer Wignyo Rahardi mengatakan tenaga desainer di Sumut masih minim. Namun tak cukup hanya menedesain saja tapi produknya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Dina Safia, salah seorang perajin yang ikut dalam pelatihan itu menjelaskan semoga kegiatan seperti ini terus dikembangkan. Produksinya pada masa pandemi sekarang, bisa dilakukan melalui digital marketing,"ujarnya. (PP04)

Komentar Anda

Berita Terkini