-->

Dewan Energi Mahasiswa Sumatera Utara, PLTU di Sumut Penyumbang Sumber Krisis Iklim

HARIAN9 author photo


MEDAN| H9
Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU ) Batubara Pangkalan Susu yang berlokasi di Tanjung Pasir, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat memiliki kapasitas daya sebesar 2 x 200 megawatt yang dibangun di atas area seluas 105 Ha,ini menyebabkan penggundulan hutan bakau meluas, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi udara dan menghasilkan jutaan ton limbah. 

Air dalam jumlah yang besar dalam pengoperasian PLTU batu bara mengakibatkan kelangkaan air di banyak tempat. Pembakaran batu bara di PLTU adalah sumber utama gas rumah kaca serta penyebab perubahan iklim seperti karbondioksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, serta metana yang memperburuk kondisi iklim kita.

Pengelola PLTU, seharusnya memperhatikan lingkungan sekitar usaha mereka, agar petani dan nelayan bisa bekerja dan tak terganggu operasi pembangkit. 

Abu batubara diduga menyebabkan petani gagal panen. Hama merusak tanaman petani. Belum lagi debu-debu batubara yang beterbangan ke pemukiman maupun tanaman warga. Mereka melihat abu menyelimuti Desa Pulau 9 berjarak 700 meter juga Desa Beras Basah, Payah Kampak, Sungai Siur, dan Pintu Air. Selain itu, asap pembakaran dari cerobong pembangkit, menyebar ke pelosok Langkat.

Memahami kondisi yang ada, Dewan Energi Mahasiswa Sumatera Utara hadir sebagai mediasi yang menjembatani edukasi EBT dan peluang nya. Pada kegiatan yang bertajuk Kombur Energi Internal DEM Sumut dengan tema “Potensi Energi Sumut, Apakah Batu Bara Pilihan Strategisnya?”. Kegiatan ini telah terselenggara pada hari Minggu (28/3/2021) kemarin dan dihadiri oleh anggota Dem Sumut, sebagai wadah silaturahmi dan berbagi pengetahuan terkait energi.

Dalam kegiatan tersebut, Mutiara Firanty selaku anggota DEM Sumut menyampaikan bahwa potensi energi disumut sangatlah banyak, lalu batu bara bukanlah menjadi solusi yang tepat. Karena sumut memiliki banyak potensi energi lain. 

"Perlu disadari bahwa kita berada di garis sinar matahari yang maksimal dari seluruh dunia. Maka harapannya dapat dimanfaatkan itu. Oleh karena itu, kami mendeklarasikan untuk menghentikan pembangunan fasilitas unit PLTU di Pangkalan Susu yang baru, dan mengganti sumber energi batubara menjadi sumber energi terbarukan (angin, cahaya matahari, air, panas bumi, kekuatan ombak), selanjutnya tidak lupa juga untuk memperbaharui dan mengharmoniskan semua kebijakan dan peraturan perundangan agar berpihak pada energi terbarukan, termasuk membangun mekanisme insentif kepada energi terbarukan (disinsentif kepada energi batu bara)," katanya, Rabu (31/3/2021).

Selanjutnya Presiden DEM Sumut, Raden Haitami Abduh, menyatakan maksud dan harapannya pada kegiatan ini. Raden menyampaikan, “Bahwa Potensi SDA di Indonesia khususnya Sumatera Utara sangat berlimpah. Tapi pemanfaatan SDA dan SDM sangat belum maksimal. 

Hari ini Batu bara masih saja menjadi prioritas utama. Padahal, Batu bara memiliki banyak sekali dampak negatif mulai proses pertambangannya sampai pengelolaannya. 

Alam di eksploitasi untuk mendapatkan batu bara, bekas galian yang seakan akan tidak lagi menjadi hal yang perlu dipertanggungjawabkan, proses pengangkutan batu bara melalui jalur laut yg tidak jarang sekali membuat batu bara tumpah ke laut dan membuat pencemaran, limbah serta asap pabriknya yg tidak terkontrol sehingga banyak mengganggu kenyamanan dan sangat berbahaya bagi mahkluk hidup. Sudah jelas bahwa batu bara harus segera kita tinggalkan dan beralih kepada energi yang lebih bersih. 

"Kita sebagai mahasiswa yg tergabung dalam DEM SUMUT harus mengawal ini dan juga mendukung pemerintah dalam proses transformasi dari energi fosil serta buruk menuju energi baru terbarukan yg lebih baik,” katanya.

 Selain berdampak buruk bagi lingkungan, seperti halnya PLTU yang menggunakan batu bara sebagai bahan baku pengoperasian pembangkit listrik tentunya akan sangat berdampak karena menghasilkan limbah B3, dikarenakan merugikan dan menyebabkan masyarakat terjangkit penyakit pernafasan ketika setiap harinya menghirup udara kotor karena telah terkontaminasi oleh debu fly ash dan buttom ash yang dihasilkan dari pembakaran batubara, sehingga dikhawatirkan ke depanya akan banyak dari masyarakat yang mengidap penyakit Batuk, Bronkitis, TB, ISPA, dsb. 

"Diharapkan dengan adanya kegiatan ini selain dapat menjadi pencerdasan literasi, juga mampu menjadi perubahan kecil yang dimulai dari kita sendiri. khususnya  dalam penggunaan energi yang lebih bersih," pungkasnya. (fathur)


Komentar Anda

Berita Terkini