-->

Kompleksitas Masalah Anak di Pesisir, Yayasan Anak Bahari Nusantara Terbentuk

HARIAN9 author photo


MEDAN| H9
Kompleksitas masalah kelautan dan perebutan ruang ekonomi di kawasan perairan, telah mengabaikan kesejahteraan masyarakat yang dihidup di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kemiskinan, ketertinggalan akses pendidikan, dan rendahnya standart kesehatan masyarakat. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil juga menjadi daerah rawan bencana: Abrasi. erosi, tsunami, perubahan iklim, dan lain lain.

Pembina Yayasan Anak Bahari Nusantara, Misran Lubis menjelaskan terkait dengan adanya kebijakan Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil serta Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau kecil (RZWP3K), maka tujuannya haruslah membawa kesejahteraan masyarakat, secara khusus pada kelompok masyarakat rentan: Anak, Perempuan, Disabilitas, dan Masyarakat Adat. 

"Belawan sebagai salah pintu gerbang jalur laut, tidak hanya untuk Kota Medan, namun juga pentu gerbang bagi kawasan Sumatera bagian Utara. Pelabuhan Belawan menjadi salah satu pelabuhan yang sangat sibuk dengan 2 fungsi dermaganya, yaitu dermaga penumpang dan dermaga barang/ logistik,"katanya belum lama ini.

Di Kecamatan Medan Belawan memiliki 6 (enam) Kelurahan, salah satunya menjadi pilot project sinergi dan inovasi FK PUSPA Sumatera Utara, yaitu Kelurahan Belawan Bahari.

"Hasil Study FK PUSPA Sumut 2016, Situasi Anak di pesisir belawan memiliki jenjang pendidikan yang rendah, sekitar 25% tidak menamatkan pendidikan dasar 12 tahun, bahkan hampir 10 % nya tidak tamat SD, hanya sebagian kecil yang menamatkan pendidikan tingkat SLTA, sebagian putus sekolah dan menjadi pekerja anak," ujarnya.

Anak-anak juga banyak terpapar narkoba, pornografi, kekerasan seksual, masalah kesehatan, dan free sex, muncul kelompok-kelompok Ajo atau anak joget, kombinasi paparan narkoba dan free sex.

Atas dasar realita tersebut, dibutuhkan peran serta masyarakat untuk mewujdukan kesejahteraan anak dan terciptanya tatanan dunia yang layak anak. 

"Peran masyarakat tersebut salah satunya dapat diwujudkan dengan pembentukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Yayasan Anak Bahari Nusantara (YABANTARA).

"YAB ANTARA mendukung terciptanya kesejahteraan anak dan masyarakat secara umum yang termarjinalkan, keluarga miskin, dan yang terdampak bencana alam, khususnya mereka yang berada di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil melalui SINERGI DAN KEMITRAAN MULTIPIHAK," ujarnya.

Ketua Yayasan Anak Bahari Nusantara, Lukman mengatakan Kegiatan utama YABANTARA adalah:

1. Melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan dalam situasi normal dan kedaruratan
2. Mendirikan lembaga belajar formal dan non-formal
3. Memberkan layanan konsultasi dan bantuan hukum bagi anak dan keluarga miskin
4. Mendirikan lembaga usaha berbasis masyarakat
5. Advokasi kebijakan untuk terpenuhinya hak-hak dan perlindungan anak.
6. Menjalin kemitraan yang transparan dengan OMS, Pemerintah, dan Sektor Bisnis.

"Sehingga di 2021 hingga 2026 ini kita akan menuju pesisir ramaha anak, seperti kajian sosial pemenuhan hak dan perlindungan anak yang termarjinalkan menuju kehidupan sosial yang inklusif dikawasan pesisir dan pulau-pulau kecil," ujarnya. 

Kemudian memfasilitasi Rumah Belajar Kemaritiman dan Kecakapan hidup anak dan orang muda di pesisir dan pulaua-pulau kecil. Selanjutnya pemberdayaan Ekonomi orang muda (terutama perempuan) dikawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.

"Terakhir advokasi dan harmonisasi program RZWP3K dengan pembangunan pesisir yang ramah anak (RPJMN, SDGs Desa, Kemitraan Multi Stakeholders)," pungkasnya. (PR01) 


Komentar Anda

Berita Terkini