-->

Tiarma Simanullang: MENGAPA AKU DUKUNG RUU PKS

HARIAN9 author photo


Penulis: Tiarma Simanullang, Kordinator Bidang Kerjasama, FK PUSPA Kota Binjai

Senyatanya aku bukan siapa-siapa, hanya seorang ibu rumah tangga biasa, denngan seorang anak dan suami yang menikahiku 9 tahun lalu. Namun keprihatinanku terhadap berita dari hari ke hari terasanya menyakitkan, karena selalu ada saja perempuan yang mengalami kekerasan dan berita itu juga terdengar dari orang-orang yang ada disekitaranku, dimana aku tinggal di Kota Binjai, Sumatea Utara. Berawal dari ajakan seorang kakak disebuah pengajian, sepertinya telah membuka jalan kebaikan untukku dan jawaban atas kerasahanku tentang kaumku yang terus menderita karena menjadi korban kekerasan berantai. Akhirnya keputusanku bulat, bahwa aku terpanggil untuk menjadi bagian dari mereka yang berjuang untuk membela hak-hak perempuan dan anak dari berbagai praktik kekerasan dan ketidak adilan. Aku tidak tahu dari mana harus memulai dan aku tidak ada pengalaman sebagai aktivis seperti mereka-mereka yang berjuang dari jalanan sampai gedung parlemen. Tapi aku yakin, Tuhan dan pejuang hak-hak perempuan dan anak akan menuntunku menuju jalan perjuangan. 

Sekarang hampir tiga tahun, aku bergabung dengan Forum Komunikasi PUSPA Binjai, wadah penggiat perempuan dan anak di kota Binjai. Selama itu, puluhan atau bahkan sudah ratusan kisah kekerasan terhadap perempuan dan yang aku lihat, mereka umumnya anak perempuan, karyawan perempuan, perempuan ASN, ibu rumah tangga biasa, bahkan nenek-nenek, semua perempuan dalam profesi dan situasi apapun pernah mengalami kekerasan. Yang lebih membuatku prihatin, pelakunya adalah orang-orang terdekat mereka yang seharusnya mereka adalah pelindung utama, tempat untuk mendapatkan kenyamanan, rasa aman, dan kasih sayang, tetapi yang terjadi justeru mereka jugalah yang banyak menjadi “predator”nya. Salah satunya kasus seorang seorang anak perempuan yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi korban kekerasan seksual ayah tiri dan hampir setahun didiamkan, kini seorang gadis kecil itu akan berjuang untuk kelahiran anaknya.

Disebuah desa yang agak terpencil, ditengah-tengah perkebunan sawit, dan untuk mencapai desa tersebut kita juga harus dikabupaten Langkat, seorang anak perempuan berinisial RN (14 tahun) mengalami tragedi terburuk dalam hidupnya yang dilakukan oleh ayah tiri, berinisial AR (37 tahun). RN yang harusnya masih ceria dimasa anak-anaknya berlajar dan bermain bersama teman-teman, namun setelah peristiwa pemerkosaan itu RN mengalami trauma mendalam dan menghadapi berbagai tekanan sosial baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat, sementara itu perutnya terus membesar seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh keluarga terutama Ibu kandung RN dan RN sendiri selain pasrah menunggu kelahiran dan berharap akan datang seorang penolong yang mau mengadopsi dan membantu proses kelahirannya saat ini.

Tim FK PUSPA yang mendapatkan laporan dari Ibu kandung RN, awalnya hanya untuk meminta bantuan karena RN belum terdaftar sebagai pemegang kartu BPJS. Saya yang mendapatkan informasi tersebut langsung berdiskusi dengan tim FK PUSPA Binjai untuk mempersiapkan langkah-langkah dukungan dan pendampingan, termasuk memantau proses hukum terhadap pelaku yang sudah lama dilaporkan, namun tidak terpantau prosesnya sehingga cukup lama pelaku baru ditetapkan sebagai tersangka di Kepolisian Resort Langkat. Meski dalam situasi hamil besar menjelang kelahiran, RN tetap mengikuti pembelajaran sekolah dan sedikit diuntungkan karena situasi pandemi covid-19 pembelajaran dilakukan secara daring, maka tidak banyak teman-teman yang melihat kondisi kehalimannya. RN yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru, menceritkan tragedi kelamnya itu kepada tim FK PUSPA Binjai dengan tidak mampu menahan tangis. Secara bertahap RN dan Keluarga mulai “tersenyum” karena kebuntuan mereka selama ini dalam menghadapi proses hukum dan masa depan RN serta janin yang akan dilahirkannya, mendapatkan teman untuk menyelesaikan. Tim FK PUSPA Binjai secara intensif mendampingi dan memberikan support kepada RN dan keluarga.

Melihat apa yang dialami oleh RN dan juga kasus-kasus lainnya, mengingatkan saya ketika masih duduk dibangku kuliah pernah menjadi salah satu korban pelecehan “begal payudara”. Meski peristiwa tersebut tidak sampai menimpulkan luka fisik dan tidak mengalami trauma fisik, namun trauma psikologis masih membekas hingga saat ini. Saya merasa malu dengan teman-teman tapi setelah ada teman saya yg mengalami hal seperti itu saya jadinya terbuka dan menceritakan kepada teman-teman saya jadi rasa trauma itu meski tidak hilang total, namun sedikit berkurang, karena saya tidak sendirian.  

Melihat apa yang dihadapi RN dan kasus-kasus lainnya yang saya terlibat dalam pendampinganya, saya merasakan kesedihan yang mendalam karena banyak anak-anak dan perempuan yang menjadi korban “terabaikan”, mereka menghadapi masalahnya sendirian. Saya memang tidak mengerti tentang tugas pemerintah, urusan birokrasi, apalagi tentang hukum, karena aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi saya hanya ingin bertanya, dimana pelayan negara saat “RN” dan anak perempuan lainnya yang mengalami kekerasan seksual membutuhkan perlindungan, butuh pemulihan dan butuh tempat yang aman.

Dalam dua tahun terakhir saya mendengar dan beberapa kesempatan mengikuti diskusi-diskusi tentang RUU PKS, salah satunya yang diselenggaran FJPI bersama The Body Shop beberapa waktu lalu. Namun saya prihatin, mengapa Undang-undang yang kehadirannya ditunggu masyarakat Indonesia, terutama korban, penggiat dan mereka-mereka yang tidak merasa aman saat ini dari ancaman kekerasan seksual, justeru menjadi bahan perdebatan panjang ditingkat elit politik.  Sebagai Ibu rumah tangga, bersama suara-suara korban yang selama ini saya terlibat mendampingi, saya memohon kepada elit politik, bapak/ibu yang terhormat di DPR-RI kiranya dapat segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Komentar Anda

Berita Terkini