-->

Balai Besar KSDA Sumut Sambut Kedatangan Dua Orangutan dari Jawa Tengah ke Sumut

HARIAN9 author photo



MEDAN| H9
Setelah repatriasi 9 Orangutan dari Malaysia ke Sumatera Utara, pada 18 Desember 2020 yang lalu, kali ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali menerima kedatangan 2 (dua) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berasal dari Balai KSDA Jawa Tengah, melalui Bandara Udara Kuala Namu Internasional, Deli Serdang.


Kedua orangutan tersebut, masing-masing “Asto”, jantan dan “Asih”, betina, berusia
antara 2-5 tahun, dan berdasarkan hasil pemeriksaan morfologi (umur, nafas, jantung,
gigi, ukuran lengan, kaki, dan lain-lain) oleh dokter hewan serta tim ahli dinyatakan
sehat.

Kepala Subbag Data, Evlap dan Kehumasan BBKSDA Sumut, Andoko Hidayat mengatakan sebelum diberangkatkan ke Sumatera Utara, telah dilakukan tes darah untuk memantau penyakit elisa rabies dan hasilnya dinyatakan negatif penyakit rabies,
demikian juga dengan tes Covid-19 hasilnya pun negatif. Sedangkan untuk tes DNA
sudah dilakukan dan saat ini sedang menunggu hasilnya.

"Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Balai KSDA Jawa Tengah, bahwa kedua
individu orangutan tersebut merupakan hasil penyerahan masyarakat kepada petugas
Balai KSDA Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
pada tanggal 6 April 2021, dan sempat dititipkan sementara ke Lembaga Konservasi
Agrowisata PT. Sidomuncul di Bergas, Semarang," katanya, Senin (19/4/2021).

Setibanya di Bandara Kuala Namu, pada Sabtu 10 April 2021, tepat jam 17.30 Wib kemarin
kedua orangutan kemudian segera dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Orangutan dan
Primata Lainnya yang dikelola oleh Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan
Information Center (YOSL-OIC), mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara, di
Bukit Mas Besitang, Kabupaten Langkat, untuk menjalani proses karantina dan
rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya.

"Perlu kita jelaskan, bahwa proses pemindahan orangutan telah mengacu kepada Edaran
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor :
SE.4/KSDAE/KKH/KSA/4/2020 tanggal 9 April 2020 tentang Panduan Teknis
Pencegahan Covid-19 Pada Manusia dan Satwa Liar, serta telah memperhatikan
kesehatan manusia maupun kesejahteraan satwa dalam rangka One Health serta
Animal Walfare,"katanya.

Orangutan Sumatera merupakan salah satu satwa liar yang sangat terancam punah
dan dilindungi. Menurut pasal 21 ayat (2) huruf (a) Jo. Pasal 40 Undang-undang
Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,
setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki,
memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan
hidup atau mati. Sanksi pidananya adalah penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda
sebesar Rp. 100.000.000,. (PR01)
Komentar Anda

Berita Terkini