-->

Curhat Pekerja Bus AKAP Hadapi Larangan Mudik

HARIAN9 author photo


 JAKARTA| H9
Tahun 2021 menjadi Ramadan kali kedua yang diliputi pandemi Covid-19. Pemerintah pun kembali mengeluarkan kebijakan larangan mudik Idulfitri. Imbasnya, perusahaan otobus antarkota antarprovinsi terancam tidak dapat beroperasi selama dua pekan.

Sejumlah sopir dan kondektur bus antarkota antarprovinsi (AKAP) turut menyampaikan kegelisahannya. Kondektur bus Harapan Jaya trayek Surabaya-Malang-Jember, Sulisetyowati, yang ditemui di   di Terminal Purabaya, Jawa Timur, mengungkapkan, beberapa hari menjelang dan usai Idulfitri biasanya menjadi “musim panen” bagi mereka. Namun, pelarangan mudik kali ini, membuat ia dan rekan-rekan awak bus bingung mendapatkan nafkah menjelang hari raya nanti.

 “Kalau dilarang (mudik) ya dapat duit dari mana? Makan apa nanti? Kasihan kita ini loh,” ujar ibu pencari nafkah itu
, Kamis (6/5/2021).

Saat aturan larangan mudik berlaku, Sulis pun akan menghemat hingga kebijakan itu berakhir pada 17 Mei 2021. “Mungkin makan lauknya tempe, tahu, sambal, itu aja terus selama enggak narik, walaupun hari lebaran,” lanjutnya.

Senada dengan Sulisetyowati, agen bus Safari Eka, Hendra Silaban, di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengutarakan, penghasilannya saat ini tidak cukup untuk sekadar membeli makan sekeluarga. Ia tidak mempunyai pekerjaan lain selain menjadi agen tiket bus AKAP.

“Buat makan saja susah. Sekarang baru dapat dua penumpang, satu penumpang dapat komisi tujuh persen dari harga tiket. Terus tujuh persen itu dibagi tiga sama kernet dan sopir. Berapa saya dapat? Enggak cukup. Nah kalau enggak boleh mudik, ya babak belur kita enggak punya pemasukan,” kata Hendra.

Kondisi saat ini diyakini Hendra lebih parah dari tahun lalu. Jika tahun lalu masih ada sejumlah penumpang hingga hari lebaran, tahun ini belum ada kepastian. Bahkan hingga sebelas hari menjelang hari raya, sudah tidak ada penumpang.

Belum lagi sistem kerja sama antara sopir, kernet, dan agen bus adalah kemitraan dengan perusahaan otobus. Sehingga mereka hanya mendapatkan persenan dan penjualan tiket.

Ramadan tahun ini melalui Surat Edaran No 13 Tahun 2021 Satgas Pengendalian Covid-19 melarang aktivitas mudik sejak 6-17 Mei. Pelarangan ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia. Angkutan mudik mulai darat, laut, udara, dan kereta api pun ditiadakan. (REL)
Komentar Anda

Berita Terkini