Mahasiswa Fisip USU Menerapkan Program Pembinaan untuk Anak Jalanan

HARIAN9 author photo

MEDAN| H9
Praktek Kerja Lapangan atau sering disebut PKL merupakan kegiatan akademik yang wajib dilakukan seluruh mahasiswa secara periodik. PKL adalah salah satu bentuk implementasi atau penerapan Ilmu yang didapat dengan keahlian dalam perkuliahan kemudian dituangkan melalui kegiatan kerja lapangan untuk memperoleh tingkat keahlian yang sesuai dengan 
bidang keilmuannya.

Jesika L. Simatupang sebagai pelaksana PKL merupakan mahasiswi Ilmu Kesejahteraan
Sosial FISIP USU yang didampingi oleh Ibu Dra. Berlianti, MSP selaku supervisor sekolah.
Setelah pelepasan PKL secara online, Jesika melaksanakan pratikum di Panti Asuhan
Talenta Delpita yang beralamat di Pintu Air IV No. 388, Kwala Bekala, Kecamatan Medan
Johor, Kota Medan, Sumatera Utara. Lembaga ini merupakan salah satu lembaga sosial yang
bergerak dalam pelayanan sosial anak. Dimana lembaga ini terdapat 36 anak mulai dari
tingkat SD – SMA/SMK.

Proses pratikum ini di mulai pada tanggal 12 Maret – 8 Juni 2021 yang dilaksanakan setiap 2
kali seminggu yaitu setiap hari selasa dan jumat . Kegiatan ini lebih kepada pendampingan,
pembinaan dan pelayanan terhadap anak Panti Asuhan Talenta Delpita.

Kegiatan yang pertama dilakukan adalah melakukan wawancara dengan pengurus panti
maupun beberapa anak panti dengan mencoba menggali informasi didalam panti. Kemudian
tahap berikutnya adalah proses pendampingan yang fokusnya masih dalam perkenalan.
Dalam tahap perkenalan Jesika mencoba menggali informasi apa yang dibutuhkan anak –

anak panti sehingga kegiatan yang dilaksanakan dapat sesuai dengan harapan anak panti.
Selama proses pratikum, Jesika dan teman kelompok PKL, melaksanakan berbagai kegiatan
anak diantaranya kegiatan mengajar anak-anak panti tentang pengetahuan umum, membuat
keterampilan untuk menambah kreatifitas anak panti.

Bulan berikutnya, anak panti juga didampingi dalam kebutuhan rohani seperti ibadah,
bernyanyi lagu rohani dan perayaan paskah. Anak – anak panti juga diajak untuk bergotong
royong dalam rumah baru yang akan ditempati dalam tahun ini. Disamping itu Jesika dan
teman – teman pun sering mengajak mereka bermain games dan nonton bareng agar mereka
bisa lebih rileks jika bersama dengan Jesika dan teman – teman.

Kegiatan pada pertengahan bulan ke-4, Jesika melakukan kegiatan pembuatan dan
pemasangan poster dengan tema “ Book Is A Window Of The World” . Pemasangan poster
ini bertujuan untuk mengajak anak anak panti untuk giat dalam kegiatan membaca untuk
menambah wawasan mereka. Selanjutnya pemasangan poster kedua yaitu ke desa Starban ,
dimana poster ini berjudul “Lingkungan Bersih, Lingkungan sehat. 

Jesika dan teman – teman mengambil isu ini karena daerah Starban ini masih kurang akan pentingnya lingkungan yang sehat dan bersih. Maka dari itu Jesika dan teman - teman sosialisasikan mengenai penyadaran akan lingkungan yang sehat dan bersih yang ditujukan khususnya kepada anak – anak starban sebagai generasi masa depan.

Selain pendampingan anak panti, Jesika juga melakukan mini project mengenai intervensi
level mikro sebagai hasil akhir atau output dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan 1. Metode
intervensi mikro ini diuraikan dengan tahapan Casework dalam jangka waktu 3 bulan.

Proses Terapi dalam Casewrok Pendekatan case work yang sifatnya pendekatan individu untuk mengetahui dan membantu seseorang menjalani kehidupan sosialnya dengan baik. Melalui pendekatan ini maka Jesika menganalisis masalah dari individu. 

Untuk tahap ini Jesika mengambil klien dari salah satu anak Gang Maju 8, Simalingkar B, Kota Medan. Alasan Jesika melakukan casework bersama anak tersebut karena tertarik untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi sesuai dengan ranah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. 

Dengan demikian, maka Jesika melakukan intervensi langsung dengan Teori General atau Umum yang sering digunakan para Pekerja Sosial. Berikut uraian tahapan proses terapi dalam casework, yaitu:
1. Tahapan Assesment
Proses assesment yang dilakukan bertujuan untuk mengungkapkan dan memahami
permasalahan, kebutuhan, dan potensi yang dimiliki klien guna menyusun rencana dan
tindakan yang tepat. Untuk tahap ini, Jesika menggunakan metode wawancara dan tools
assesment.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, Jesika menemukan klien berinisal GS yang
berumur 15 tahun. GS merupakan anak jalanan. Hal ini dikarenakan faktor putus sekolah,
anak broken home , Keterbatasan ekonomi, dan pergaulan teman yang tidak sehat. Sehingga
ia meninggalkan rumah dan memilih berkeliaran di jalanan selama 2 tahun. Selain faktor
diatas, faktor penarik GS menjadi anak jalan karena kehidupan dijalanan memberi kebebasan
dan kesenangan pada dirinya. 

Daya tarik ini dirasakan semakin kuat dengan adanya hubungan tidak harmonis antara GS dan keluarganya. Ia merasakan bosan dan tidak dipedulikan didalam rumah. Dalam masalah pendidikan, GS mulai putus sekolah sejak kelas4 SD, Ia mengalami kasus bullying yang dilakukan oleh teman kelasnya. 

Sehingga GS lebih sering cabut bersama anak jalanan dan tidak melanjutkan sekolahnya. Selain mewawancarai GS, Jesika juga melakukan pendekatan kepada orangtua dan kakak GS. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi GS dan apa yang dibutuhkan GS dari sisi keluarga
Tools yang Jesika gunakan ada dua jenis yaitu Tools Ecomap dan Liferoad Map. 

Ecomap adalah alat yang digunakan untuk mengetahui hubungan GS atau suatu keluarga didalam konteks sosial atau lingkungan sosialnya. Kemudian Liferoad Map merupakan tools yang digunakan untuk mengetahui informasi mengenai sejarah kehidupan klien (GS) beserta
peristiwa yang membahagiakan dan menyedihkan.

Pada tahap ini, Jesika melakukan penyadaran akan adanya masalah pada diri GS yang paling
besar adalah dia sebagai Anak Jalanan. Kemudian Jesika juga menjalin relasi yang lebih
mendalam guna untuk menambah kepercayaan klien terhadap dirinya.

2. Perencanaan Program
Dalam menjalankan program peningkatan kesejahteraan anak jalanan yang ditujukan kepada
GS, Jesika melakukan beberapa program sesuai dengan pemecahan masalah yang dihadapi
klien. Jesika mencoba mengeksplorasikan berbagai macam cara yang mungkin digunakan
untuk mengatasi masalah yang dihadapi GS. Setelah itu tahap selanjutnya, Jesika dan GS
mendiskusikan dari berbagai cara yang ada, dan cara yang mana akan diambil GS. Dengan
menggunakan prinsip self-determination, maka GS dapat mempunyai hak untuk memilih cara
mana yang ia akan tempuh sesuai kebutuhannya. Diantaranya pemberian motivasi, program
pembelajaran mengenai pengetahuan umum dan pendidikan karakter, program kegiatan
keterampilan dan budidaya ikan.

3. Pelaksanaan Intervensi
Dalam pelaksanaan intervensi ini, GS sebagai klien ingin menjalankan alternatif strategi pemecahan masalah yang sudah dtentukan Jesika sebagai Pratikan serta komitmen klien dalam mengatasi masalah yang ada.

Sebelum memasuki tahapan program, Jesika melakukan pengembangan motivasi atau
konseling terhadap GS setiap pertemuan. Dalam cara ini pemberian bantuan dilakukan secara
face to face relationship untuk kunci pendampingan klien. Konseling ini dilakukan untuk
mempengaruhi (memperbaiki tingkah laku yang dimiliki), yaitu tingkah laku yang dapat
membedakan antara tingkah laku yang pantas dengan tidak pantas dan menggunakan tingkah
laku yang pantas menjadi identitas pribadi yang di harapkan, serta memberikan pengalaman
yang memberi motivasi mengikuti pelatihan untuk pengembangan diri GS sebagai orang
yang bertanggung jawab.

Untuk tahap pelaksanaan intervensi Jesika menggunakan prinsil praktik bimbingan sosial
perorangan. Seperti prinsip penerimaan klien, prinsip hubungan, prinsip individualisasi,
partisipasi, dan lain – lain.

Dibawah ini akan diuraikan program pembinaan terhadap GS sebagai anak jalanan, yaitu:

Program Belajar
Setelah melalui Tahap penyadaran masalah yang dihadapi GS. Ia sadar akan pentingnya
pendidikan untuk masa depan. Peran jesika sebagai educator adalah mengajarkan GS
pelajaran untuk ujian nasional secara rutin dalam jangka waktu 3 bulan dalam
mempersiapkan ujian paket A. Selain itu Jesika juga selalu mengawalinya dengan beberapa
motivasi agar ia giat dalam belajar serta pendidikan karakter seperti bagaimana sikap yang
baik dan dampak dari kenakalan remaja. Pendidikan ini diharapkan dapat merubah perilaku
GS.

Program keterampilan
Untuk menambah minat dan bakat klien dan juga untuk mengurangi rasa bosan dirumah,
Jesika bersama GS membuat keterampilan dengan memanfaatkan barang bekas yang ada
disekitar lingkungan GS. Orangtua GS yang bekerja sebagai tukang botot, GS manfaatkan
untuk membuat Kerajinan bunga dan Celengan dengan diajari oleh Jesika. Celengan ini
nantinya dapat digunakan GS untuk wirausaha yang akan dijalaninya.

Program Budidaya Ikan Hias
GS setelah putus sekolah, Ia juga sering menjadi Tukang botot dan menjadi pengamen
layaknya seorang anak jalanan. Dalam hal ini, GS terlalu dini untuk menjadi seorang pekerja.
Dimana nantinya akan terjadi eksploitasi anak. Untuk mencegah hal tersebut, GS ingin untuk
memelihara ikan hias. Karena keterbatasan biaya untuk modal. Jesika memberikan bantuan
untuk modal ikan hias. Selain itu , Jesika memberikan pelatihan mengenai budidaya ikan hias
laga yang nantinya dapat dijadikan sebagai pendapatan GS dalam membantu orangtuanya.

4. Dampak atau hasil Intervensi
Dampak dari pembinaan yang diberikan Jesika sangat baik. GS yang sebagai anak jalanan,
kini telah mengubah dirinya seperti anak – anak muda yang positif. Melalui program tersebut
menumbuhkan kesadaran GS akan dirinya. GS juga sudah mulai berbaur dengan anak – anak
yang ada didaerahnya dan mengurangi pertemanan yang tidak sehat di jalanan. Dalam proses
Intervensi, Jesika menyatakan bahwa dalam 3 bulan terakhir, GS selalu pulang kerumah dan
tidak berkeliaran dijalanan menurut pantauan orangtuanya. Dalam sistem belajarnya, GS
setiap hari sudah mulai membaca buku tanpa adanya pratikan. GS juga selalu memperhatikan
budidaya ikannya dengan memberi pelet dan mengembangbiakkannya.

Adapun hambatan yang Jesika temui yaitu, sebagai praktikan kesulitan untuk mengetahui
segala sesuatu yang terjadi pada GS, baik dari segi kegiatan maupun hal lainnya karena
waktu sangat terbatas dikarenakan situasi Pandemi covid 19.

5. Terminasi
Terminasi dilaksanakan ketika tujuan telah dicapai , pelayanan sudah lengkap, dan tidak ada
lagi kegiatan yang lebih lanjut. Dalam tahap ini Jesika melihat bahwa GS sudah mampu
untuk mangatasi masalah atau kondisi yang terjadi didalam dirinya. Proses terapi ini diakhiri
dengan kesepakatan Jesika dan klien serta keluarganya. Jesika memberikan sebuah buku
untuk dipelajari sebelum menghadapi ujian nasional paket A. GS juga diberi kebutuhan yang
diperlukan untuk meneruskan budidaya ikan hiasnya. Selain itu Jesika memberikan reward
kepada GS karena telah mancapai hasil yang diharapkan.

Diakhir pratikum, Bapak F.Buulolo S.Kom sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan
oleh Jesika dan teman – teman. Dalam mini project, Jesika mengharapkan GS dapat
berkomitmen dalam menjalankan program yang telah dibuat. Orangtua klien sangat
berterimakasih atas kehadiran Jesika , karena telah membina GS. (PR01)
Komentar Anda

Berita Terkini